Pemandangan tak biasa mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Front Pemuda Muslim Maluku (DPP FPMM) di Masjid Ar-Romlah, Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Sabtu (19/9/2026). Bukan sekadar tausiah dan selawat, FPMM menghidupkan kembali tradisi “Gantung Jajan”.
Tradisi Gantung Jajan
Beragam makanan ringan, buah-buahan hingga uang tunai digantung dan dihias di lokasi acara. Setelah rangkaian doa dan selawat selesai, warga dipersilakan mengambil berbagai pemberian tersebut. Uang tunai pecahan Rp50 ribu, ketela, jeruk dan aneka jajanan menjadi bagian dari tradisi yang sekaligus menjadi daya tarik Maulid FPMM tahun ini.
Penjelasan Ketua Umum FPMM
Ketua Umum FPMM Umar Ohoitenan alias Umar Kei mengatakan, tradisi tersebut merupakan kebiasaan masyarakat Maluku yang sengaja dipertahankan dalam peringatan Maulid Nabi. “Rezeki yang diberikan oleh Allah, baik uang maupun semua makanan kami gantung di atas. Dan kita saksikan sendiri tadi,” kata Umar dalam acara tersebut.
Momentum Maulid ke-16
Menurut Umar, Maulid tahun ini terasa istimewa karena menjadi perayaan ke-16 FPMM sejak organisasi tersebut berdiri pada 2010. Namun, momentum tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai peringatan keagamaan. Umar menyebut acara itu sengaja dikemas sebagai ruang berkumpul bagi masyarakat Maluku dan Maluku Utara yang berada di perantauan, khususnya di wilayah Jabodetabek.
“Saya menjadikan momentum Maulid kali ini untuk mengumpulkan seluruh masyarakat Maluku dan Maluku Utara untuk berkumpul,” ujarnya. Ia menekankan, perbedaan agama seharusnya tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Maluku untuk tetap hidup berdampingan. Menurut dia, kehidupan masyarakat Maluku juga diwarnai keberagaman agama.
“Bukan hanya untuk datang menghadiri acara Maulid, tetapi berkumpul itu adalah menjadi satu kebiasaan,” kata Umar. Umar juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga persaudaraan di tengah masyarakat Maluku di perantauan. Baginya, kekayaan dan materi tidak otomatis membuat seseorang menikmati kehidupan jika hubungan antarsesama justru dipenuhi salah paham.
“Sebanyak apa pun harta kita, sebanyak apa pun uang kita, tapi kalau selalu salah paham, saling menatap, buang muka, apa nikmatnya kehidupan,” katanya. Ia mengatakan kebersamaan justru menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat perantauan. “Orang yang paling kaya, orang yang paling nikmat adalah kalau saling tertawa, saling senyum. Makan nasi garam itu juga indah,” lanjutnya.
Tokoh yang Hadir
Acara tersebut turut dihadiri Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono dan Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku Saiful Indra Patta yang hadir mewakili Gubernur Maluku. Tampak beberapa tokoh nasional dan Maluku yang hadir, seperti Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun, Letjen (Purn) Suaedy Marasabesi, Habib Bahar Bin Smith dan banyak lagi.
Tanggapan Wali Kota Bekasi
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono mengatakan kegiatan keagamaan dan kebersamaan seperti yang digelar FPMM dapat menjadi ruang untuk memperkuat kehidupan sosial masyarakat Kota Bekasi yang terdiri dari berbagai latar belakang. “Harapannya mampu diimplementasikan dalam rangka untuk membangun Kota Bekasi yang keren, nyaman bagi warga masyarakatnya dan juga sejahtera,” kata Tri.
Apresiasi Pemerintah Provinsi Maluku
Sementara Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku Saiful Indra Patta menyampaikan apresiasi Pemerintah Provinsi Maluku terhadap konsistensi FPMM menggelar kegiatan keagamaan sekaligus menghimpun masyarakat Maluku di perantauan. Ia menilai kegiatan tersebut tidak berhenti pada perayaan Maulid, tetapi juga mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Tidak hanya kita bermaulid, tetapi menghibur seluruh warga Maluku lintas agama, lintas kampung, lintas kulit untuk berkumpul bersama-sama,” ujar Saiful. Menurutnya, kolaborasi organisasi masyarakat dengan pemerintah menjadi bagian penting untuk memperkuat hubungan sosial dan menghimpun masyarakat dalam satu ruang kebersamaan.
Pesan untuk Pemerintah Pusat
Di sisi lain, Umar memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan pesan kepada pemerintah pusat terkait masa depan masyarakat Maluku, khususnya dalam pembangunan di Indonesia Timur. Ia meminta pemerintah tidak memandang masyarakat Maluku sebelah mata, termasuk dalam kesempatan ekonomi dan lapangan pekerjaan.
“Pesan saya kepada pemerintah pusat, jangan lihat kami orang Maluku sebelah mata,” tegas Umar. Umar menyinggung pembangunan dan investasi besar di Maluku, termasuk kawasan Marsaela, yang menurutnya harus turut memberikan ruang bagi putra-putri Maluku. “Masa depan bangsa ini ada di Indonesia Timur. Maka tenaga kerja yang ada di Marsela, perhatikan anak Maluku, putra daerah lebih dahulu,” katanya.
Makna Maulid bagi FPMM
Bagi FPMM, kata Umar, Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi Gantung Jajan, kebersamaan lintas agama dan pesan mengenai masa depan masyarakat Maluku menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan sosial sekaligus identitas masyarakat Maluku di tanah rantau.
Baca juga:
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Tradisi ‘Gantung Jajan’ Warnai Maulid FPMM: Uang Rp50 Ribu hingga Buah Digantung, Warga Berebut Rezeki?
Tradisi Gantung Jajan mewarnai peringatan Maulid Nabi oleh FPMM di Bekasi dengan uang Rp50 ribu hingga buah digantung untuk warga.
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




