Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Ngadiono, Kusir Andong Bisa Menyekolahkan Anak ke Jepang

Oleh: Redaksi Bernas•14 Januari 2016
Ngadiono, Kusir Andong Bisa Menyekolahkan Anak ke Jepang
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"JOGJA HarianBernas com Menjadi kusir andong di Malioboro dahulu dan sekarang jauh berbeda Lalu lintas Kota Jogja yang semakin padat membuat kusir harus lebih..."

🗓️ Dipublikasikan pada 14 Januari 2016.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita budaya terbaru →

JOGJA, HarianBernas.com — Menjadi kusir andong di Malioboro dahulu dan sekarang jauh berbeda. Lalu lintas Kota Jogja yang semakin padat membuat kusir harus lebih berhati-hati. Penumpang juga kian terbatas.

Bagaimana kisah penarik kereta kuda yang masih bertahan sampai puluhan tahun?

Kamis (14/01/2016) siang, pria kelahiran Yogyakarta itu dengan sabar menunggu penumpang di jalur lambat seberang salah satu Mall di Malioboro. Ngadiono, tersirat segudang kisah di raut wajahnya selama menjadi kusir di Malioboro. Perjalanan hidupnya mengais rezeki di sepanjang Malioboro tidaklah singkat.

Sejak tahun 1981 Ngadiono bertahan menjadi seorang penarik kereta kuda hingga sekarang.

?Sejak kecil saya suka kuda. Nenek suka kuda juga dan hobi berkuda. Makanya saya dari muda sudah bermain dengan kuda dan saya ingin melestarikan budaya,? ujarnya dengan penuh harap.

Tidak jarang Ngadiono tidak mendapatkan penghasilan dalam sehari.

Sering kali ia sama sekali tidak mendapat penghasilan. Jika di saat ramai pengunjung ia bisa memperoleh Rp200.000 sampai Rp300.000 dalam sehari dengan rute keliling Malioboro sampai Keraton.

Ayah dari tiga anak ini hanyalah bermodalkan sabar. Hari demi hari ia lalui dengan sabar.

Perjuangan untuk menghidupi keluarga sangat perih hingga ia berhasil menyekolahkan ketiga anaknya. Anak pertama sedang menjalani studi di Jepang, anak kedua sudah berumah tangga, dan anak ketiga masih SMK.

Ya, hidup prihatin yang dijalani oleh anak-anaknya. Anak pertama Ngadiono laki-laki kelahiran 1991, sejak SMP sampai SMK hanya diberi uang jajan sebesar Rp5.000/hari dan setiap ia sekolah membawa bekal nasi dengan lauk tempe dan sambal.

Kendaraannya pun sepeda kayuh. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan sangat membanggakan. Ia merupakan salah satu murid berprestasi di sekolahnya.

Mengikuti berbagai perlombaan sampai ke luar negeri dan sekarang berhasil melanjutkan studinya di Jepang berkat beasiswa.

?Yang pinter kan anaknya bukan saya. Saya ini nggak sekolahan. Saya setiap hari prihatin, hanya sabar menunggu pengunjung.

Kalau nggak dapat ya sudah mau diapakan lagi. Kalau memang sudah rezekinya nanti juga dapat,? kata sosok pria tua ini.

Ngadiono tidak memiliki pekerjaan lain selain menjadi penarik kereta kuda sejak puluhan tahun silam. Sang istri hanyalah sosok ibu rumah tangga.

Namun, berkat keprihatinan, kesabaran, dan kerja kerasnya, Ngadiono bisa menghidupi keluargaanya.

Sering kali Ngadiono mendapat keluhan dari pengunjung. Tarif yang dianggap mahal untuk seekor andong.

?Andong di sini tarifnya Rp50.000. Pengunjung ada yang mau ada juga yang gak mau.

Rp50.000 sampai Keraton kalau Rp70.000 keliling Keraton dan Malioboro,? terangnya.

Seiring berkembangnya zaman dulunya operasional andong tidak diperbolehkan ?ngetem? di jalur lambat Malioboro, namun di sisi timur Pasar Beriharjo bahkan daerah Kebun Binatang dialami Ngadiono dengan tarif hanya Rp5.000 untuk sampai ke Malioboro. Untuk membeli makan kudanya dalam sehari ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp25.000. Duit itu dibelanjakan untuk kacang tanah, bekatul dan gula.

Saat itu Ngadiono juga pernah kucing-kucingan dengat satpam agar bisa ?ngetem? di kawasan Maliobo dan jarak yang paling dekat adalah di Stasiun Tugu.

?Motivasi saya kalau kerja punya sendiri enak, tapi kalau bekerja dengan orang lain disuruh-suruh. Kerja sendiri lebih santai, sabar,? ungkapnya.

Ngadiono berharap agar andong tidak punah, sebab andong merupakan ciri khas Kota Pelajar ini.

 

Biodata

Nama : Ngadiono

Tempat, Tanggal Lahir : Yogyakarta, 28 November 1959

 

 

📊 Survei Kilat BERNAS

Apakah Anda tertarik kuliah lagi?

Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.

FAQ: Ringkasan Cepat

Apa inti dari Ngadiono, Kusir Andong Bisa Menyekolahkan Anak ke Jepang?

JOGJA HarianBernas com Menjadi kusir andong di Malioboro dahulu dan sekarang jauh berbeda Lalu lintas Kota Jogja yang semakin padat membuat kusir harus lebih...

Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?

Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.

Tag:#budaya#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram

“Ngadiono, Kusir Andong Bisa Menyekolahkan Anak ke Jepang”

R
Redaksi Bernas
Click to Share
Discovery Insight

Data Transmutation:
Digital Sovereignty

Kenali produk dan layanan dalam ekosistem BERNAS.

Lihat Ekosistem

Peluang Karir & Bisnis Digital

Potensi Penghasilan (2026)
Rp 15.000.000 - Rp 25.000.000

Estimasi berdasarkan data pasar kerja & AI Bernas.

Prospek Karir
⚡ Sangat Tinggi

Permintaan tenaga kerja untuk sektor ini diprediksi tetap kuat.