Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Gara-Gara Film Kartun, Indonesia Berperingkat Nomor Dua Terbawah

Oleh: Redaksi Bernas•28 Desember 2017
Gara-Gara Film Kartun, Indonesia Berperingkat Nomor Dua Terbawah
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Bernas id Pagi sebelum berangkat ke sekolah si kecil maunya nonton film kartun dulu Sore sebelum berangkat les atau mengaji mereka maunya nonton film kartun..."

🗓️ Dipublikasikan pada 28 Desember 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita lifestyle terbaru →

Bernas.id – Pagi sebelum berangkat ke sekolah, si kecil maunya nonton film kartun dulu. Sore sebelum berangkat les atau mengaji, mereka maunya nonton film kartun dulu. Sebelum tidur, si kecil pun kadang merengek minta nonton film kartun.

Sedangkan kita tahu, film kartun yang sebagian mengisi layar kaca adalah film kartun yang dialihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia.

Mungkin, film kartun ?asing? berbahasa Indonesia ini menjadi salah satu penyebab peringkat literasi Indonesia nomer dua dari bawah, nomer 60 dari 61 negara. Kajian dari World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, sudah mempublikasikannya. Anak-anak lebih suka menonton televisi daripada membaca buku.

Ya, bisa jadi akhirnya mereka jadi malas membaca karena bahasa Indonesia dalam film kartun ?asing? terjemahan alur ceritanya mudah dipahami; dan anak dapat menambah perbendaharaan kosa kata dengan melihat dan mendengar acara yang ditontonnya.

Negara dengan peringkat literasi tertinggi adalah Finlandia.

Di negara ini acara atau film berbahasa asing di layar televisi tidak dialihsuarakan. Film yang ditayangkan diberi teks terjemahan (subtitles).

Bagi anak-anak, tentu untuk memahami alur cerita dengan baik harus dengan membaca teks terjemahannya.

Tujuannya jelas, anak dipaksa membaca untuk mengerti apa yang mereka tonton.

Di Indonesia ada program televisi yang memberikan pilihan dua bahasa (bilingual), tampil dengan bahasa aslinya atau dalam alih suara bahasa Indonesia.

Sayangnya, film yang tampil dalam bahasa aslinya tayang tanpa teks terjemahan.

Selain pemilihan jenis acara atau film yang akan ditampilkan, bahasa asing yang tidak dialihsuarakan seperti di Finlandia ini bisa ditiru untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

Jadi film kartun anak berbahasa asing dengan teks terjemahan justru bisa menjadi media untuk meningkatkan minat baca anak. Tentu giat baca buku tetap yang utama.

Ibu pilih mana, film kartun tetap berbahasa asing atau dialihbahasakan ke bahasa Indonesia?

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram