Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Eksistensi Diri Anak Terealisasi dan Duet Gladiator Bisa Dihindari, dengan Memenuhi 5 Hak Anak Berikut

Oleh: Redaksi Bernas•27 November 2017
Eksistensi Diri Anak Terealisasi dan Duet Gladiator Bisa Dihindari, dengan Memenuhi 5 Hak Anak Berikut
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Bernas id Kasus duet gladiator yang telah terjadi dua kali mengakibatkan jatuh korban Dua pelajar tingkat sekolah menengah atas telah tewas sia sia karena..."

🗓️ Dipublikasikan pada 27 November 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita pendidikan terbaru →

Bernas.id – Kasus duet gladiator yang telah terjadi dua kali mengakibatkan jatuh korban. Dua pelajar tingkat sekolah menengah atas telah tewas sia-sia karena perkelahian antar sekolah. Mengingat kedua belah pihak penyerang dan yang diserang adalah remaja berusia di bawah 18 tahun, maka sesuai UU Perlindungan Anak, mereka semua masih masuk dalam kategori anak.

Dengan terjadinya kasus duel gladiator ini, maka sudah waktunya seluruh elemen masyarakat melakukan introspeksi dan pembenahan terhadap sistem di lingkungan.

Sudahkah sistem yang ada mengakui eksistensi dan hak anak? Tidak hanya sekadar tercatat dalam akta kelahiran, namun diapresiasi keberadaan dan kontribusinya?

 

Mengacu pada program pemerintah menuju Indonesia Layak Anak, maka ada lima hak anak yang harus diperhatikan pemenuhannya oleh seluruh elemen masyarakat.

1. Hak Sipil dan Kebebasan

Setiap anak berhak mendapat akta kelahiran dan tercatat di Catatan Sipil dan Kependudukan.

Setelah tercatatpun, anak perlu ruang gerak untuk bebas berekspresi dan berpartisipasi dalam masyarakat. Eksistensi anak penting bagi anak karena menyangkut harga diri mereka.

Bila tidak terfasilitasi, anak akan merasa tidak dihargai dan memunculkan sifat agresifnya.

2.

Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Kondisi perekenomian saat ini menuntut kedua orang tua bekerja, atau orang tua tunggal bekerja. Sehingga, sering anak tidak mendapatkan pengasuhan yang kondusif, hanya dititipkan pembantu rumah tangga atau pengasuh anak. Bila anak menunjukkan sifat agresif, harus dilihat kembali apakah selama ini pengasuhan orang tua dan orang dewasa lain di sekitarnya juga mencontohkan sifat agresif.

Atau, perlu juga ditelusuri apakah pengasuhan di rumah mengizinkan anak melihat tontonan atau memainkan game yang ada unsur kekerasan.

3. Kesehatan dan Kesejarahteraan Dasar

Assessment Interaktif Cepat

Jawab 3 Pertanyaan & Skor Dihitung AI

Q1.Apa tujuan utama Anda terkait pendidikan & karir saat ini?

Pemenuhan kesejahteraan dasar, termasuk nutrisi pangan cukup, pakaian layak dan tempat tinggal yang baik, akan membuat tumbuh kembang emosi anak menjadi baik juga. Memang tidak setiap keluarga bisa memberikan yang terbaik, namun pemenuhan rasa cukup dengan bersyukur pun perlu ditumbuhkan.

Bila anak merasa cukup, maka anak tidak akan timbul rasa iri ingin memiliki atau merebut milik orang lain.

4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya

Mendidik anak tidak sekadar menyekolahkan anak ke sekolah favorit. Anak membutuhkan pendidikan yang sesuai dengan karakter belajarnya, bukan karena gengsi semata.

Pastikan juga anak memiliki kegiatan yang mengembangkan bakat dan minatnya di waktu luang.

Pengenalan budaya bila dilakukan sejak dini, dengan olah rasa dan olah gerak, akan mengasah empati anak hingga bisa menekan emosi dan agresifnya.

Sayangnya, saat ini justru banyak sekolah yang mengurangi jam belajar untuk pelajaran seni dan budaya.

Sehingga, anak terbebani materi pelajaran kognitif tanpa diimbangi dengan olah rasa untuk mengurangi stres belajar.

5. Perlindungan Khusus

Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan, baik yang sifatnya umum atau khusus. Terutama, untuk kasus yang berkaitan dengan kekerasan, pelecehan seksual, dan Napza.

Perlindungan khusus juga berupa pembatasan liputan berita dan pelabelan negatif pada pelaku maupun korban.

 

Kasus duel gladiator menunjukkan sistem dalam lingkungan selama ini belum kondusif ramah anak, sehingga anak tumbuh dengan sifat agresif yang tidak bisa dikendalikan. Seperti petuah leluhur, perlu satu kampung untuk mendidik seorang anak. Yang artinya, perlu kepedulian dan kerjasama dari semua elemen masyarakat untuk menciptakan kondisi lingkungan yang peduli dan kondusif ramah anak dengan mewujudkan kelima hak anak.

Agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara.

📊 Survei Kilat BERNAS

Apakah Anda tertarik kuliah lagi?

Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.

FAQ: Ringkasan Cepat

Apa inti dari Eksistensi Diri Anak Terealisasi dan Duet Gladiator Bisa Dihindari, dengan Memenuhi 5 Hak Anak Berikut?

Bernas id Kasus duet gladiator yang telah terjadi dua kali mengakibatkan jatuh korban Dua pelajar tingkat sekolah menengah atas telah tewas sia sia karena...

Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?

Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.

Tag:#pendidikan#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram

Untuk Mitra & Pengiklan

Kampus atau sekolah Anda ingin tampil di BERNAS?

Lihat contoh kerja sama publisitas kampus yang sudah berjalan, lalu unduh media kit untuk paket kerja sama Anda.

Lihat Contoh Kerja Sama

“Eksistensi Diri Anak Terealisasi dan Duet Gladiator Bisa Dihindari, dengan Memenuhi 5 Hak Anak Berikut”

R
Redaksi Bernas
Click to Share
Discovery Insight

Data Transmutation:
Digital Sovereignty

Kenali produk dan layanan dalam ekosistem BERNAS.

Lihat Ekosistem

Peluang Karir & Bisnis Digital

Potensi Penghasilan (2026)
Rp 15.000.000 - Rp 25.000.000

Estimasi berdasarkan data pasar kerja & AI Bernas.

Prospek Karir
⚡ Sangat Tinggi

Permintaan tenaga kerja untuk sektor ini diprediksi tetap kuat.