Kabupaten Cirebon, yang dikenal sebagai kota udang dan wali, menyimpan kekayaan kuliner yang tak lekang oleh waktu. Di sepanjang jalur pantura, khususnya di wilayah Kabupaten Cirebon, aroma empal gentong dan tahu gejrot selalu menggoda para pelintas. Dua hidangan legendaris ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan identitas budaya yang mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Empal Gentong: Warisan Kuliner yang Tak Pernah Sepi
Empal gentong, hidangan berkuah santan dengan isian daging sapi dan jeroan, telah menjadi ikon kuliner Cirebon sejak puluhan tahun lalu.
Di Kabupaten Cirebon, warung-warung empal gentong legendaris berjejer di sepanjang Jalan Raya Pantura, salah satunya di Kecamatan Weru. H. Darto (58), pemilik warung Empal Gentong H.
Darto yang berdiri sejak 1985, mengungkapkan bahwa setiap harinya ia mampu menjual hingga 200 porsi, terutama saat akhir pekan.
"Bahan baku daging sapi kami ambil dari pasar tradisional setempat, dan bumbu rempah diracik secara turun-temurun. Banyak pelanggan dari luar kota yang sengaja mampir setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta atau Semarang," ujar H. Darto saat ditemui BERNAS.id, akhir pekan lalu.
Data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Cirebon mencatat, jumlah kunjungan wisatawan ke sentra kuliner di jalur pantura meningkat 15 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka ini menunjukkan bahwa kuliner lokal menjadi salah satu penyumbang utama sektor pariwisata daerah.
Sentra Kuliner Khas Cirebon di Desa Astapada
Tak jauh dari Kecamatan Weru, tepatnya di Desa Astapada, Kecamatan Ciledug, terdapat sentra kuliner yang menawarkan pengalaman berbeda. Di sini, para wisatawan dapat menikmati empal gentong dengan suasana pedesaan yang asri. Bupati Cirebon, H.
Imron Rosyadi, dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya pengembangan sentra kuliner sebagai daya tarik wisata unggulan.
"Kami mendorong para pelaku usaha kuliner untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan cita rasa asli. Pemerintah kabupaten juga akan memfasilitasi pelatihan pengemasan dan digitalisasi pemasaran agar produk kuliner Cirebon semakin dikenal luas," kata Imron dalam acara Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia di Cirebon, Juli 2026.
Tahu Gejrot: Camilan Ikonik yang Melegenda
Jika empal gentong identik dengan hidangan berat, maka tahu gejrot adalah camilan ringan yang tak kalah populer. Tahu gejrot, yang terdiri dari tahu goreng dipotong kecil, disiram kuah gula merah, cabai, dan bawang putih, memiliki cita rasa manis, asam, dan pedas yang menyegarkan.
Di Kabupaten Cirebon, penjual tahu gejrot legendaris dapat ditemukan di Pasar Pasalaran, Kecamatan Sumber, dan juga di kawasan Kecamatan Plered.
Ibu Siti Aminah (45), penjual tahu gejrot di Pasar Pasalaran sejak tahun 2000, menceritakan bahwa dirinya mampu menjual hingga 300 porsi per hari. "Modalnya kecil, tapi untungnya lumayan. Banyak pembeli yang sudah langganan, bahkan dari luar kota. Mereka bilang rasa tahu gejrot di sini paling enak," tuturnya sambil tersenyum.
Pengamat ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Dr.
Ahmad Syaifudin, menilai bahwa kuliner tradisional seperti empal gentong dan tahu gejrot memiliki multiplier effect yang besar.
"Selain menyerap tenaga kerja, keberadaan warung-warung ini juga menumbuhkan usaha pendukung, seperti peternakan sapi lokal, pertanian cabai, dan industri gula merah.
Ini adalah rantai ekonomi yang kuat di tingkat desa," jelasnya.
Peluang Digitalisasi dan Inovasi Rasa
Di tengah persaingan kuliner modern, pelaku usaha di Kabupaten Cirebon mulai beradaptasi. Beberapa warung empal gentong kini menawarkan paket frozen food untuk dijual secara daring.
Sementara itu, inovasi rasa juga mulai dilakukan, seperti empal gentong dengan tambahan keju atau tahu gejrot dengan topping mozzarella, meskipun tetap mempertahankan resep asli.
Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan mencatat, terdapat lebih dari 500 UMKM kuliner di Kabupaten Cirebon yang bergerak di sektor makanan dan minuman. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen berada di jalur pantura. Untuk mendukung pertumbuhan ini, pemerintah menggelar pelatihan manajemen usaha dan sertifikasi halal gratis bagi pelaku usaha kuliner.
Dengan segala potensinya, empal gentong dan tahu gejrot bukan hanya sekadar makanan, melainkan representasi kekayaan budaya dan ekonomi Kabupaten Cirebon.
Bagi siapa pun yang melintasi jalur pantura, berhenti sejenak untuk menikmati kedua hidangan ini adalah sebuah keharusan, sekaligus cara untuk ikut menghidupkan denyut nadi ekonomi warga lokal.
📊 Survei Kilat BERNAS
Berapa penghasilan bulanan ideal Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Empal Gentong dan Tahu Gejrot Legendaris Jadi Daya Tarik Kuliner Jalur Pantura Cirebon?
Eksplorasi kuliner empal gentong dan tahu gejrot legendaris di jalur pantura Kabupaten Cirebon, dari warung tua hingga sentra kuliner, menjadi magnet wisatawan.
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




