Bernas.id – “Aduh, Dedek kejedut ya. Nakal ini lemarinya, bikin kepala Adik benjol aja. Ugh, kita pukul aja ya.” Atau di lain waktu begini kejadiannya.
“Lantai nakal, kenapa kamu licin sekali, jadi Dedek kepeleset.”
Pernah melihat atau menghadapi situasi seperti ini?
Fenomena membujuk anak yang menangis karena sesuatu terjadi, misalnya ia tersandung atau terjauh, seringkali harus dihadapi oleh para orang tua.
Sayangnya, alih-alih mengajarkan anak untuk lebih berhati-hati, seringkali orang tua menyalahkan objek atau benda yang menyebabkan anak terjatuh.
Orang tua sering kali menyalahkan pintu kenapa membuat adik terjatuh, memukul lantai karena membuat anak tergelincir, dan seterusnya.
Orang tua lebih memilih untuk menyalahkan situasi dan kondisi yang ada di luar kendali, dibanding mengajarkan anak untuk lebih mawas lingkungan.
Membujuk anak dengan menyalahkan objek, ditambah aksi memukul atau memarahi objek, mungkin tampak menarik untuk anak, sehingga mereka terdiam dari tangisannya.
Merasa cocok dengan cara ini untuk membujuk anak, akhirnya metode yang sama dilakukan terus berulang kali. Untuk kita sebagai orang tua, hal ini mungkin biasa saja, tapi apa yang dipelajari anak dari hal ini?
Anak belajar bahwa jika terjadi sesuatu pada dirinya, itu bukanlah kesalahannya. Anak belajar bahwa jika ada hal yang salah, maka bukan ia yang harus bertanggung jawab.
Anak belajar menyalahkan situasi, kondisi, atau bahkan orang lain atas kemalangan yang terjadi pada dirinya.
Anak kehilangan kesempatan untuk mempelajari cara bertanggung jawab dan menerima konsekuensi dari setiap tindakan yang ia lakukan.
Mungkin banyak yang berkata, “Aduh, masih terlalu kecil anak diajarkan tentang tanggung jawab dan konsekuensi. Nanti saja lah, jika sudah besar ia pun akan mempelajari hal itu dengan sendirinya.” Kabar buruknya, rasa tanggung jawab tidak muncul dengan sendirinya.
Kemampuan ini diajarkan melalui pola asuh yang ditterapkan oleh orang tua.
Saat anak terbentur lemari karena berlari terlalu kencang, sehingga ia menabrak lemari. Ini adalah kesempatan sempurna unuk mengajarkan anak untuk mengatur kecepatan berlari dan beraktivitas di dalam ruangan. Keadaan ini adalah peluang baik untuk mengajarkan anak konsekuensi yang akan ia terima, jika berlari dan membentur sesuatu.
Mengajarkan anak hal sebaliknya, hanya merampas kesempatan anak untuk mempelajari cara bersikap dan bertingkah laku, dan ini adalah proses yang dilakukan sejak dini.
Begitu juga saat anak tergelincir, saat berlari di lantai yang baru saja di pel. Seringkali orang tua hanya berteriak, “Jangan lewat situ, lantainya masih basah, ” atau mungkin juga dengan kalimat seperti ini, “Jangan lari-lari.” Orang tua cenderung melarang anak melakukan sesuatu. Padahal sesuai dengan karakternya, anak selalu mencari peluang untuk melakukan eksplorasi.
Semakin dilarang, kemungkinan besar yang terjadi adalah ia semakin penasaran.
Atau malah tragisnya, alam bawah manusia sebenarnya tidak merespon dengan kata yang diawali kata 'jangan', sehingga saat melakukan pengolahan data di otak, kata jangan cenderung diabaikan.
Akibatnya perintah “Jangan lari-lari” atau “Jangan ribut”, hanya akan menghasilkan kondisi sebaliknya.
Saat anak mengalami kejadian yang menyakitkan, ini adalah peluang emas bagi orang tua mengajarkan sebab akibat pada anak.
Ada banyak sekali peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak hal ini.
Alih-alih menggunakan kalimat yang berawalan kata 'Jangan' dan mengucapkan sesuatu yang tidak Anda inginkan.
Ubah kalimat Anda dengan menyebutkan hal Anda inginkan terjadi dan sebutkan konsekuensinya.
Dibanding berteriak , “Jangan lari-lari, lantainya basah, nanti jatuh.” Atau kalimat “Jangan lewat situ, lantai masih basah.” Ganti kalimat Anda menjadi, “Lewat sini saja, di sana lantainya basah, kalau kepeleset nanti kamu bisa luka.”
Hanya dengan sedikit mengubah kalimat yang kita gunakan untuk berkomunikasi pada anak, ada banyak hal yang bisa dipelajari anak.
Anak belajar bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang ia lakukan. Anak belajar bahwa setiap tindakan yang ia lakukan akan mendatangkan konsekuesi.
Semua ini dimulai dari hal sederhana, dengan mengubah cara orang tua bertutur kata pada anak.
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Membentuk Kepribadian Anak Melalui Cara Bertutur?
Bernas id Aduh Dedek kejedut ya Nakal ini lemarinya bikin kepala Adik benjol aja Ugh kita pukul aja ya Atau di lain waktu begini kejadiannya Lantai nakal...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




