Bernas.id – Karena ingatan kita tidak terlalu cukup kuat dalam menyimpan file-file ide yang berseliweran. Bukankah menjaring yang namanya ide itu tidak mudah? Lantas kita dengan mudahnya mengabaikan ide-ide yang bermunculan tanpa mengindahkannya.
Entah kenapa ide-ide itu selalu saja berseliweran menari-nari di ruas otak kita, namun datangnya kadang tidak tepat, seringnya muncul ketika menyusuri ruas jalan yang dilewati, ketika ketemu orang-orang baru, ketika membaca buku-buku, ketika berada di atas tanah dan di bawah langit.
Dan ketika beberapa saat, ide itu sudah tidak pada tempatnya.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
Ternyata banyak dari kita yang sering mengabaikan ide yang muncul, tidak langsung menangkapnya, malah membiarkannya menguap begitu saja, padahal menuliskan satu kalimat saja sebagai pengingat akan membantu ide-ide itu bisa dikembangkan. Intinya, ketika ide itu datang, tulislah, perkara mengembangkannya kapan yang penting ditulis dulu, sederhana, tapi jarang dilakukan.
Daripada ide-ide itu dibuang percuma, terus pada akhirnya ada yang lebih gesit dari kita untuk mengembangkannya menjadi tulisan, dan kita hanya bisa menyesal pada akhirnya. Kita sudah tertinggal selangkah.
Kecewa, kan? Risiko bagi orang yang membuang percuma ide yang menghampiri.
Konsekuensi lain dari mengabaikan ide adalah ketika kita sudah benar-benar blank untuk menjaring ide, Percayalah, kita tidak bisa memanggil kembali yang sudah datang tiga hari yang lalu, dan ide itu tidak akan menghampiri lagi. Mungkin, jika sang ide bisa menyahut, ide pun akan berkata, “Siapa suruh mengabaikanku?” dan kita hanya bisa menjawab, “Maafkan atas kelalaianku.”
Baca juga: Bagaimana Cara Membuat Teks Persuasif Sesuai Jenis dan Strukturnya?
Tidak ada hambatan yang tidak bisa ditaklukkan, jadi mulai sekarang harus peka dengan ide yang menghampiri, jemput ide itu, biarkan dia menetap dan menemani sehingga bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang memang ingin ditulis.
Jangan khawatir dari mana ide-ide itu akan datang, yakinlah di sekeliling kita selalu menawarkan ide-ide. Asalkan kita jeli menangkapnya.
Dan pada akhirnya ide itu akan datang setelah kita membaca, membaca buku, membaca semesta, membaca ekspresi, dan membaca semua apa yang bisa dibaca.
Selamat menjaring ide, jangan pernah abaikan dengan ide yang menghampiri, tuliskan ide tersebut, agar bisa dikembangkan menjadi tulisan.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!

