HarianBernas.com – Lain padang lain belalang, lain penulis lain pula cara menuangkan isi hati dan pikirannya dalam tulisan. Pengalaman sejumlah penulis Asia (tidak termasuk Indonesia) mungkin menarik untuk diikuti, bagaimana pahit getir pengalaman hidup mereka kemudian dituangkan menjadi novel biografi yang hangat dibicarakan di Barat.
Mereka mengolah pengalaman pribadi seraya berlinang air mata menjadi buku terlaris, tentang kehidupan bebas dengan pria Eropa dan Amerika yang mengubah nasib tokoh utamanya. Juga tentang kekerasan yang dialami tokoh utama dalam rumah tangga, bahkan oleh keluarga sendiri.
Baca juga: Contoh Paragraf Induktif, Deduktif, Campuran, dan Ineratif
Ten Thousand Sorrow (Sepuluh Ribu Penderitaan), karangan Elisabet Kim ditulis berdasar pengalaman ketika masih berusia lima tahun menyaksikan ibunya dibunuh kakek dan pamannya karena membesarkan dirinya yang berdarah Korea-Amerika.
Sebuah komponen sejarah yang oleh Kim disebut sebagai pembunuhan terhormat.
Buku ini sukses dalam penjualan membuat Kim dinobatkan sebagai penulis terlaris. Namun Pengamat Sastra di Korea Selatan keberatan, karena menurut mereka pembunuhan terhormat jarang terjadi dan Kim telah menulis tanggal dan tempat yang salah dalam biografinya.
Pendapat lain juga dikemukakan Prof Lim dari Universitas Hongkong bahwa pembaca telah memperoleh pandangan keliru tentang kehidupan di Asia melalui cerita-cerita ini. Seolah kaum perempuan sudah menjadi korban stereotip negatip.
Shanghay Baby karangan Zhou Weihui laku keras, mengisahkan pelayan wanita 25 tahun tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan dengan pria pencandu obat bius impoten dan selingkuh dengan pengusaha kaya Jerman yang sudah beristri.
Sementara karya perdana Adeline Yen Mah, Falling Leaves, The True Story of an Unwanted Chinese Daugther (Daun-daunBerguguran, Kisah Nyata Seorang Anak Perempuan Cina yang Tak Dikehendaki), telah menjadi buku terlaris di tiga benua.
Yen Mah menerbitkan biografinya dalam bahasa Inggris dengan gaya sastra klasik tahun 1990-an. Menyusul Life & Death in Shanghai (HidupdanMati di Shanghai) 1986 oleh Nien Cheung dan Wild Swans (Angsa-Angsa Liar) 1991 oleh Jung Chang.
Baca juga: 4 Langkah Menemukan Ide Pokok Paragraf dengan Mudah
Semuanya sangat laris dan telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Kambodja, Vietnam dan Korea. Dongeng “RevolusiBudaya” Tahun 2000 membawa perubahan baru.Dua cerita “dongeng” Revolusi Budaya berjudul Vermillion Gate (Gerbang Merah), karangan Aiping Mu dan To the Edge of the Sky (Menuju Tepi Langit), karangan Anhua Gao.
Juga dua otobiografi wanita Kambodja: When Broken Glass Floats (Ketika Pecahan Gelas Mengapung) karangan Chanriti Him dan First They Killed my Father (Ketika Mereka Membunuh Ayahku), karangan Loung Ung.
Serta The Sacred Willow (Pohon Willow Keramat) oleh Duang Van Mai Elliot, penulis wanita Vietnam.
Semua merupakan kisah pribadi yang menyayat hati. Yang jadi pertanyaan, mengapa biografi penderitaan kaum wanita lebih disukai daripada biografi penderitaan kaum pria?
Apakah wanita lebih suka membaca novel semacam ini ataukah karena mereka suka dengan gosip-gosip seperti itu.
Namun yang pasti, industri buku sepertinya menyadari bahwa wanita lebih banyak membeli novel daripada pria.
Seperti Life and Death in Shanghai mungkin sebuah novel yang mengawali gaya tertentu, tetapi Wild Swans karangan Jung Chang agaknya merupakan aliran baru. Chang menulis otobiografinya dari rentetan kejadian tiga generasi wanita Cina: Chang sendiri, ibunya dan neneknya mengalami nasib sama.
Tahun 1993 Chang mendapat penghargaan The Best British Book Award sebagai karya non fiksi terbaik dan penjualannya mencapai 8 juta copy di seluruh dunia dan memperoleh royalti 4,5 juta Pound (setara 6,4 juta dolar Amerika).
Dari rangkaian karya para penulis Asia ini dapat dikatakan bahwa tema yang ditampilkan hamper selalu sama yaitu kisah seorang wanita muda berjuang selama Revolusi Budaya di Cina atau ketika berkuasanya Pol Pot di Kambodja, perang Korea atau perang Vietnam.
Tentang bagaimana menemukan kebahagiaan dari seorang suami Eropa dan Amerika. Tetapi banyak penulis otobiografi, termasuk Yen Mah mengatakan tujuan menulis bukan untuk menjadi buku terlaris (best seller), tetapi lebih menonjolkan kepahitan dan kegetiran di masa lalu. Tidak jarang ketika mereka mulai menangis, bersamaan itu pula mereka menulis, mengeluarkan isi hati yang lara, semacam therapeutic atau bibliotherapy, buku hasil terapi psikologi karena mengobservasi pengalaman pribadi yang sedih.
Disini ada kontradiksi yang saling menguntungkan.
Wanita mempunyai kisah, penerbit inbgin mendapat banyak uang dan pembaca punya selera. Dan penerbitt entu paling tau bahwa segmen pembaca wanita merupakan 80% pembeli buku.
Artinya, penulis wanita Asia turut ambil bagian dalam proses penjualan buku.
Bahkan karangan bukan otobiografi, diselubungi kisah hidup Asia pun laku keras di Eropa.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Arthur Golden (Memoirs of Geisha (Kisah Hidup seorang Geisha) dan otobiografi Amy Tan (Banesetter’s Daughter) yang penuh cucuran air mata telah mendapat penghargaan. Untuk menarik selera pembaca, foto penulis dan keluarganya dimunculkan di sampul dengan warna nostalgia hitam putih.
Kebanyakan otobiografi wanita Asia ditulis dalam bahasa Inggris, dimana kaum wanita dilukiskan sebagai korban lingkungan patriarkal, dimana ayah sebagai kepala keluarga punya banyak selir dan menentukan segalanya terhadap anak perempuan dan istrinya atau melempar mereka ke kamp konsentrasi.
“Jangan salah, saya sangat senang menulis cerita ringan tentang Cina,” kata Min yang otobiografinya Red Azalea (Azalea Merah) menjadi best seller. “Tetapi coba Anda bayangkan sejarah penderitaan hidup kami dalam Revolusi Kebudayaan selama 5000 tahun, apakah itu hal yang menyenangkan?” katanya kepada Far Eastern Economic Review.
Pahit dan getir Memang, kepahitan dan kegetiran adalah obyek paling menarik bagi pembaca Eropa,” kata Profesor Elaine Kim, dari Studi Asia di Universitas California, Berkeley.
Menurut dia, sudah ada literature dalam Kesusasteraan Amerika seperti cerita imigran yang disiksa dan menemukan tempat penampungan yang nyaman, Biasanya diungkapkan melalui tokoh wanita, untuk memperkenalkan pembaca Amerika sebagai negara paling progresif. Cerita sukses wanita-wanita Cina melalui Revolusi Budaya cocok dengan referensi perang dingin.
Cina Merah (Red China) adalah musuh jahat, menolak kebebasan, yang hanya bisa diperoleh di Eropa.
Dalam kesimpulan akhir, penulis wanita menggambarkan hidup baru di luar Cina dengan suami Amerika atau Inggris, yang membantu mereka menulis biografi tersebut.“Pada hal, wanita-wanita ini tidak pernah mengalami sukses di Cina,” kata Prof. Kim. Tidak seperti biografi berbahasa Inggris, cerita non fiksi di Cina, Kambodja dan Korea sedikit dihubungkan dengan revolusi & perang.
Akibatnya, banyak wanita menulis keinginannya masing-masing, apa yang disebut Scar Literature (Literatur Luka), sebuah cara penuturan yang sangat memelas.
Namun menurut Shirley Lim, Professor Sastra Inggris Universitas Hongkong, orang Eropa masih mau membaca cerita tentang Asia akibat perang selama 20 tahun.
Masalahnya, pembaca Eropa ingin membaca penderitaan wanita Asia, dan penerbitan adalah sebuah bisnis. Seperti Shanghay Baby karangan Zhou Weihui laku keras karena mengisahkan pelayan wanita 25 tahun tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan dengan pria pencandu obat bius impoten dan selingkuh dengan pengusaha kaya Jerman yang sudah beristri. Sungguh bagai angsa-angsa liar!
Canisius Maran, Penulis, Pekerja Buku, Pemerhati Lingkungan Hidup dan Pembangunan Daerah, pernah aktif di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Relawan WALHI dan menjadi pengelola beberapa media.
Menyukai memoar orang-orang hebat, Iptek dan Pengembangan SDM, Pariwisata dan Lingkungan Hidup.
“Dia Bagaikan Bara Api yang Dingin” adalah karyanya yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Sayembara Kisah Nyata Majalah Femina Tahun 1986.
Email: [email protected], Twitter: @marancanisius52
📊 Survei Kilat BERNAS
Berapa penghasilan bulanan ideal Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Penulis Wanita Asia Mengisahkan Kegetiran Hidup Menjadi Buku Terlaris?
bagaimana pahit getir pengalaman hidup mereka kemudian dituangkan menjadi novel biografi yang hangat dibicarakan di Barat...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




