HarianBernas.com – ?Konco ayo konco, Konco sing prayitno, ojo dho sembrono, ayo mubeng deso.? Cuplikan tembang dolanan mengingatkan kegembiraan masa kecil nyanyi sambil jogetan saat padang bulan atau lomba gending dolanan menjelang Hari Pekan Kanak-Kanak.
Kenangan indah itu nyaris punah, anak sekarang lebih suka nongkong di mall daripada dolanan di kampung dan memilih nge-game daripada bermain dengan teman sebaya. Pendidikan pra-sekolah (TK) kurang mengenal lagu dolanan, namun lebih memfasilitasi budaya pop, tari modern, dan prestasi perorangan dengan harapan mudah dikenal lewat media.
Taman tidak lagi menjadi media inspiratif yang mengilhami seorang Chairil Anwar menciptakan puisi Taman dan menggugah Iwan Simatupang membuat naskah Petang di Taman. Konsep taman mulai dihidupkan kembali melalui gerakan taman pintar di beberapa kota dan instansi untuk memberi ruang ekspresi dan pengalaman bermakna meski belum menunjukkan kreativitas anak sebagai subyek.
Usia kanak-kanak merupakan usia kritis pembelajaran sejak dini, tahap ini menjadi penting untuk memperkenalkan budaya Jawa melalui konsep aksara.
Gerakan literasi Aksara Jawa sebagai produk budaya menjadi penting bagi generasi penerus supaya tidak larut dengan budaya pop yang lebih memikat dan mencibir tatkala dihadapkan pada konsep budaya Jawa melalui media aksara Jawa (hono coroko) dengan alasan kuno dan tidak perlu tahu. Fenomena ini secara tidak langsung menjadi salah satu indikator pengingkaran terhadap produk budaya dan bisa berakibat kepunahan bahasa ibu (Jawa). Tradisi Jawa dipaksa berhadapan dengan modernisasi dengan gaya hidup konsumtif, gemerlap dan serba instan, sementara budaya Jawa harus berproses panjang, bertele-tele, dan menjemukan.
Aksara Jawa sebagai produk budaya bukan sekedar lambang tanpa makna, namun mencerminkan peradaban suatu bangsa (daerah).
Gerakan literasi Aksara Jawa sudah dilakukan oleh perorangan, lembaga swasta maupun pemerintah namun belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Beberapa bulan lalu masyarakat Yogya dikejutkan oleh para seniman yang menggunakan Aksara Jawa sebagai sarana menyampaikan kritik melalui karya fenomenal yang menghibur dengan memanfaatkan ruang publik.
Mural dan graffiti aksara Jawa yang dituangkan pada jalan berlobang (hono jeglongan) dan meletakkan kursi bekas dengan ornamen aksara Jawa dihadiahkan sebagai foto booth gratis para wisatawan Malioboro (syawalan on the road) serta caraka walik di atas seng pembatas renovasi di depan hotel Inna Garuda.
Karya tersebut memiliki dampak luar biasa, dimana masyarakat merasa diingatkan tentang Aksara Jawa sebagai budaya adiluhung dan pemerintah segera merespon kritikan cerdas tersebut dengan mengaspal lobang yang ditandai dengan aksara jawa.
Gerakan yang dikenal Gerakan Tresno Aksoro ini bukan gerakan untuk mengajar honocoroko kepada masyarakat namun sebagai ajakan bagi siapapun untuk mencintai aksara Jawa dengan suka cita. Gerakan moral ini mampu mengusik kesadaran kolektif masyarakat supaya terlibat dengan sukuarela, penuh sukacita, tanpa beban takut salah dalam berekpresi, dan terlibat dalam kegiatan aksara di ruang publik.
Eksplorasi gerakan tresno aksoro secara alami menciptakan pembelajaran kepada masyarakat tentang Aksara Jawa yang berpotensi untuk bangkit kembali di tengah derasnya teknologi informasi.
Aksara adalah aset budaya dalam membangun peradaban ditengah krisis moral dalam bernegara.
Kita bisa belajar kepada Negara Jepang, Tiongkok, Yunani, Korea,dan banyak negara yang menunjukkan keselarasan antara pelestarian tradisi dan modernisasi melalui kebijakan literasi aksara, sehingga mereka sangat bangga dengan Aksara di negara mereka.
Bagaimana dengan kota kita yang setiap hari berbahasa Jawa dan memiliki aksara Jawa namun buta Aksara Jawa?
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya, maka pengenalan Aksoro Jowo sejak dini berarti mempersiapkan generasi tangguh dan berbudaya.
Gerakan tresno aksoro sebagai pemicu untuk menanamkan memori positif tentang budaya Jawa melalui kemampuan menggunakan aksara Jawa.
Ibarat rancang bangun sebuah rumah, usia anak-anak adalah tahap membangun pondasi sehingga mengenalkan konsep kebudayaan sejak dini akan melahirkan generasi yang berwawasan global dan berperilaku lokal.
Gerakan ini bisa diawali lewat kurikulum di sekolah, pola asuh keluarga dan lingkungan tempat tinggal dengan memanfaatkan fungsi ruang publik sebagai media ekspresi dengan pendekatan budaya. Budaya sebagai kesepakatan yang diwariskan menjadi tradisi suatu bangsa bisa dibangun melalui gerakan literasi, gerakan tresno aksoro diharapkan bisa membangun budaya Jawa yang Adiluhung dan mendunia.
Membangun dunia bisa dilakukan dari Negara Indonesia, membangun Negara Indonesia bisa dari Kota Yogyakarta, maka membangun Kota Yogyakarta bisa dimulai dari pekarangan rumah kita.
Oleh: Arif Nurcahyo
Lembaga Arif Adishakti Centre
📊 Survei Kilat BERNAS
Berapa penghasilan bulanan ideal Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Tresno Aksoro: Mengenalkan Literasi Aksara Jawa Sejak Usia Dini?
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya maka pengenalan Aksara Jawa sejak dini berarti mempersiapkan generasi tangguh dan berbudaya.?...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




