HarianBernas.com – Membaca surat kabar atau melihat TV, banyak disajikan berita berat dan bahkan menyedihkan, berita-berita fashion, cerpen, opini, masak memasak/resep, buku terbit dan lain-lain yang ringan-ringan saja. Dimana sayang sekali, jika bangun pagi seharusnya pikiran dan perasaan kita diisi dengan semangat dan sikap optimis.
Pikiran tersebut akan berdampak seharian mengalami rasa yang tidak mengenakan, walau seharusnya sebagai individu harus dapat mengenali dan menerima perasaan itu apa adanya, namun inilah pilihan hidup.
Revolusi mental, saya dengar dari seseorang didalam group whatsapp. Tiga minggu sebelum ramadan selesai, untuk membuat tulisan tersebut, tidak bisa saya penuhi karena situasi tidak memungkinkan.
Mendengar kata revolusi, teringat akan pelajaran sejarah dijaman sekolah menengah pertama (SMP), sehingga presepsi tentang kata revolusi menjadi sebuah bayangan menakutkan.
Sebab cerita dalam sejarah tersebut banyak sekali memakan korban sehingga mempengaruhi kehidupan manusia yang akan datang.
Kebanyakan ceritanya negatif, mungkin seiring dengan perjalanan waktu, banyak ketakutan-ketakutan didalam diri haruslah dihadapi. Agar dapat menghilangkan rasa takut, lebih dari satu ahli mengatakan ?haruslah menghadapi rasa takut tersebut? kali ini saya sependapat, karena sudah sebagian kecil rasa takut tersebut terkikis dengan sendirinya.
Untuk menghilangkan presepsi dan rasa takut tersebut, sepertinya perlu mencari tau dan mengenal kata ?revolusi? yang sebenarnya. Seperti biasa diera teknologi digital ini, googling adalah cara termudah, dan mengutip dari salah satu situs sebagai berikut :
Revolusi dari bahasa latin ?Revolutio?, yang berarti ?berputar arah? melakukan perubahan mendasar dalam waktu singkat.
Aristoteles menggambarkan 2 jenis revolusi antara lain :
- Perubahan secara keseluruhan
- Memodifikasi yang sudah ada. (revo-mental.blogspot.co.id)
Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. (revolusimental.go.id)
Dari kedua referensi hasil googling tersebut saya lebih setuju dengan pendapat aristoteles yang kedua ?memodifikasi yang sudah ada tanpa kekerasan?. Mengingat negeri ini memiliki ragam budaya.
Tidak merubah cara pandang atas kepercayaan (belief) yang sudah melekat dan mendarah daging didalam diri perlu waktu dan cara yang arif agar dapat sama-sama tercapai.
Selanjutnya saya googling tentang arti mental yang sesungguhnya sebagai berikut ;
?Kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai usianya, baik tuntutan dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya sendiri, seperti menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah, sekolah, dan lingkungan dan masyarakat, serta teman sebaya.
Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif. Sebagai bagian yang utuh dan kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia.
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesehatan mental dari para ahli, yaitu sebagai berikut:
- Hadfield menyatakan bahwa, kesehatan mental adalah upaya memelihara mental yang sehat dan mencegah agar mental tidak sakit.
- Alexander Schneiders menyatakan bahwa, kesehatan mental adalah suatu seni yang praktis dalam mengembangkan dan menggunakan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental dan penyesuaian diri, serta pencegahan dari gangguan-gangguan psikologis.
- Carl Witherington menyatakan bahwa, kesehatan mental adalah ilmu pemeliharaan kesehatan mental atau sisitem tentang prinsip, metode, dan teknik dalam mengembangkan mental yang sehat. ( dikutip dari salah satu situs tersebut diatas )
Dari referensi tersebut saya berpendapat ?mental? terbentuk dari ?pola asuh? yang berkesinambungan sejak seseorang lahir hingga dewasa. Melihat mental individu saat ini, maka berkaitan dengan bagaimana individu tersebut dimasa lalu, bagaimana dibentuk oleh kedua orang tuanya.
Jadi, revolusi mental akan berhasil jika kita melakukannya secara serius, slogan tentang revolusi mental merupakan awal dan dipermukaan saja belum menyentuh ?the innerself as a human being?.
Sebab akar masalahnya ada di cara berfikir dan berperasaan individu berdampak kepada prilaku individu tersebut.
Revolusi mental, akan berhasil jika setiap individu dibantu/diberi wawasan untuk mengenal dirinya sendiri, dan menerima secara utuh akan keberadaannya saat ini, agar kesadaran diri terbentuk, sehingga tanpa paksaan akan memilih merubah cara pandangnya tentang kehidupan yang selama ini dijalankan.
Etos kerja, integritas, mandiri, kreatif, kasih sayang, menghargai, berelasi yang baik, mengasihi, tidak akan terbentuk oleh seorang individu secara bim sala bim. Tanpa kita memperkenalkan/membantu akan kesadaran diri dengan menemukan akar masalahnya.
Membangun revolusi mental, dengan cara memperkenalkan akan kesadaran diri, dimulai dari diri sendiri, ditularkan keluarga, lingkungan sekitar dan instasi terkait. Dengan demikian bangsa kita akan lebih bijaksana, tidak gampang terprovokasi, memiliki jati diri, kebanggaan sebagai bangsa besar yang memiliki nilai-nilai peradapan yang tinggi ini.
Juni Soekendar,
Innerself Coaching, Coaching with heart
Penulis Buku ?
Berdamai dengan diri sendiri.
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Revolusi Mental Dimulai Dari Diri Sendiri?
Membaca surat kabar atau melihat TV, banyak disajikan berita berat dan bahkan menyedihkan, berita-berita fashion, cerpen, opini, masak memasak/resep, buku terbi...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




