YOGYAKARTA, BERNAS.ID - Novel roman berbahasa Jawa Lelabuh Asmara karya Sili Suli memberi warna tersendiri di khazanah sastra Jawa di Yogyakarta. Novel ini seolah menjadi oase di tengah minimnya terbitan novel berbahasa Jawa saat ini.
Latar Tempat dan Tokoh Utama
Menariknya, novel Lelabuh Asmara tidak hanya berlatar tempat Jawa, tetapi juga bertempat di Toraja, Sulawesi, dan Nepal. Tokoh utamanya bernama Surya diceritakan sebagai penggembala asal Sulawesi. Dalam cerita berlatar tahun 1884, Surya mendapat tugas mencari Mataallo, anak tokoh adat setempat yang diculik menjadi budak saudagar Bugis, kemudian dijual ke Jawa. Petualangan Surya dimulai dari Semarang hingga Yogyakarta hingga akhirnya menemukan Mataallo berkat bantuan Den Mas Jumadi.
Meski di Toraja telah memiliki kekasih bernama Mentari dan berjanji setia, Surya jatuh hati pada sosok gadis bangsawan Jawa bernama Rembulan atau Jeng Endah. Hal ini mendasari judul novel tersebut karena pada akhir cerita Surya dilema menentukan kepada siapa hatinya akan berlabuh.
Proses Penulisan dan Adaptasi
Kepada awak media, penulis Sili Suli mengatakan ia didorong menerbitkan novelnya yang berbahasa Indonesia diadaptasi menjadi bahasa Jawa. "Sebenarnya kalau untuk menulis fiksi Jawa, terus terang bukan ranah saya. Saya bukan orang Jawa, tetapi karena teman-teman meminta dengan alasan pasti diterima," tutur Sili Suli.
"Dalam novel ini, 30 persennya sejarah Jogja masa lalu melalui riset yang panjang. Proses penulisan selama tiga tahun," imbuh Sili Suli. Dalam proses adaptasi, Sili Suli melibatkan seluruhnya orang Jawa, seperti penerjemah dan editornya. Yang melukis gunungan dalam cover novel adalah orang Rongkop Gunungkidul. Ilustrasi wayang dilukis pelukis Solo.
Peluncuran Novel dan Diskusi
Membaca alur cerita novel Lelabuh Asmara, pembaca akan disuguhi kisah menarik tentang mitos, sejarah, adat istiadat budaya suku Toraja, Yogyakarta, dan para Sherpa di Nepal. Peluncuran novel fiksi berbahasa Jawa berjudul Lelabuh Asmara karya Sili Suli juga diisi dengan diskusi bertajuk "Perkembangan Novel Fiksi Bahasa Jawa Saat Ini dan Prospeknya di Masa Depan" di Pendopo Ndalem Pakuningratan, Kota Yogyakarta, Sabtu (31/10).
Diskusi dan peluncuran novel Lelabuh Asmara ini didukung melalui dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Suli mengatakan penerbitan novel fiksi berbahasa Jawa saat ini masih minim jika dibandingkan dengan karya geguritan. Kondisi ini juga menjadi sorotan sejumlah kalangan, mulai dari guru, seniman, hingga akademisi.
"Mengapa diskusi ini kita gagas, karena pada saat kami ngobrol dengan teman-teman di Komunitas Posnya Seni Godod, dan juga saya banyak bertanya ke orang-orang juga, memang novel fiksi bahasa Jawa itu sangat minim dibandingkan dengan buku geguritan," tutur Suli. Ia berharap diskusi yang menghadirkan sejumlah pakar dari perguruan tinggi, seperti UGM, UNS, UNNES, hingga Universitas Muhammadiyah Purworejo, akan mampu melahirkan gagasan untuk mengembangkan novel fiksi berbahasa Jawa sekaligus mendorong generasi muda untuk turut melestarikan bahasa Jawa.
"Kita berharap mungkin nanti ada pandangan dari narasumber atau pemikiran atau gagasan yang mungkin bisa memberi harapan atau spirit baru, khususnya gerakan pengembangan kemajuan karya-karya sastra Jawa, khususnya novel fiksi bahasa Jawa yang masih kurang," terang Suli.
Apresiasi dari Dinas Kebudayaan
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengapresiasi novel Lelabuh Asmara karena penulisnya berasal dari Toraja, tetapi memiliki kecintaan terhadap budaya Jawa. "Ini merupakan sikap budaya yang patut kita hargai karena ikut merawat budaya Jawa. Untuk mencintai budaya Jawa, tidak harus orang Jawa," kata Yetti.
Dikatakannya, melalui kisah yang disajikan, novel Lelabuh Asmara akan menjadi ruang perjumpaan kepada siapa saja. "Melalui karya ini, harapannya akan semakin banyak karya berbahasa Jawa sehingga menjadi ruang bagi tumbuhnya bagi generasi saat ini untuk mencintai budaya Jawa," katanya. Selain itu, novel Lelabuh Asmara ini akan menambah pilihan bacaan dalam karya bahasa Jawa yang akan menjangkau pembaca yang berbeda. "Boleh berbeda tempat kelahiran, bahasa ibu, dan pengalaman, tapi bisa berjumpa dalam ruang cerita," tutupnya.
Baca juga:
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.




