Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Wisatawan ke Jeju Anjlok Akibat Rumor Pulau Horor, Gubernur Buka Suara

Oleh: Redaksi BERNAS•4 September 2026
Wisatawan ke Jeju Anjlok Akibat Rumor Pulau Horor, Gubernur Buka Suara
Foto: Redaksi BERNAS
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
"Jumlah wisatawan domestik ke Pulau Jeju, Korea Selatan, menurun drastis setelah maraknya rumor 'Jeju horror story' yang menggabungkan kasus orang hilang da"

🗓️ Dipublikasikan pada 4 September 2026.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita politik terbaru →

Jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Pulau Jeju, Korea Selatan, mengalami penurunan signifikan sepanjang Agustus 2026.

Fenomena ini dipicu oleh maraknya narasi 'Jeju horror story' di media sosial yang menggabungkan sejumlah kasus orang hilang dan penemuan jasad dalam rentang waktu berdekatan, sehingga memicu persepsi bahwa pulau wisata tersebut tidak aman.

Berdasarkan data dari Asosiasi Pariwisata Jeju yang dikutip Seoul Economic Daily dan dilaporkan detikTravel, jumlah wisatawan domestik pada periode 1-29 Agustus turun 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini terasa semakin tajam menjelang akhir bulan, di mana pada 24-29 Agustus, Jeju hanya menerima 202.234 wisatawan, turun 5,4 persen dibandingkan periode 25-30 Agustus tahun lalu yang mencapai 213.706 orang.

Angka Penurunan yang Mengkhawatirkan

Penurunan harian menunjukkan tren yang semakin mengkhawatirkan.

Dimulai dari 0,3 persen pada Senin, angka tersebut merangkak naik menjadi 4,5 persen pada Selasa, 5,3 persen pada Rabu, 4,9 persen pada Kamis, 7,6 persen pada Jumat, dan mencapai puncaknya di angka 10 persen pada Sabtu.

Lonjakan penurunan ini mulai terlihat jelas sekitar 24 Agustus, bertepatan dengan ditemukannya jasad seorang pria bermarga Jang yang telah hilang selama lebih dari 100 hari.

Kekhawatiran publik semakin memuncak setelah empat orang ditemukan meninggal di Jeju dalam rentang waktu 22-24 Agustus.

Disusul penemuan jasad seorang anggota militer berusia 20-an pada 29 Agustus.

Rentetan peristiwa ini menjadi bahan bakar bagi narasi di komunitas online yang menggabungkan kasus-kasus yang tidak saling berkaitan, menciptakan kesan bahwa seluruh Pulau Jeju dilanda gelombang kejahatan.

Industri Pariwisata Menahan Nafas

Suasana di industri pariwisata Jeju kini diliputi kekhawatiran mendalam.

Seorang pelaku industri pariwisata mengakui bahwa sejumlah pembatalan perjalanan memang terjadi setelah pemberitaan kasus-kasus tersebut muncul.

Namun, ia juga menegaskan bahwa belum ada pembatalan dalam skala besar, meskipun situasi ini jika terus berlanjut dikhawatirkan akan berdampak pada musim wisata gugur yang biasanya menjadi andalan pendapatan.

Penurunan ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan faktor musiman. Para pelaku usaha kecil, hotel, restoran, dan transportasi lokal di Jeju mulai merasakan dampaknya secara langsung.

Fenomena ini mengingatkan pada bagaimana sentimen negatif yang menyebar cepat di media sosial dapat mengguncang sektor pariwisata yang sangat bergantung pada persepsi keamanan dan kenyamanan, sebuah pelajaran yang juga relevan bagi destinasi wisata di Indonesia seperti yang pernah dibahas dalam artikel tentang Kebakaran Desa Adat Sade yang mengguncang ekonomi kreatif Lombok.

Respons Cepat Gubernur Jeju

Menanggapi situasi ini, Gubernur Provinsi Jeju, Wi Seong-gon, angkat bicara.

Ia menegaskan bahwa fakta yang akurat dan informasi yang diperlukan harus disampaikan dengan cepat kepada publik.

Ia juga menekankan perlunya respons aktif dari pemerintah agar informasi yang belum terverifikasi tidak semakin memperbesar kecemasan mengenai keamanan Jeju.

Pernyataan Gubernur Wi Seong-gon ini menjadi krusial.

Di era di mana informasi menyebar lebih cepat daripada fakta, peran seorang pemimpin daerah untuk hadir di tengah pusaran isu menjadi penentu.

Kecepatan dan ketepatan komunikasi publik adalah kunci untuk mencegah kerugian ekonomi yang lebih besar. Pelajaran Krisis Digital bagi Destinasi Wisata

Kasus Jeju ini adalah studi kasus nyata tentang bagaimana krisis digital dapat berdampak langsung pada perekonomian daerah.

Sebuah narasi negatif yang viral, meskipun tidak akurat, mampu menggerus pendapatan sektor pariwisata dalam hitungan hari.

Hal ini sejalan dengan fenomena Wonogiri yang justru meledak karena gelombang wisatawan yang membuktikan bahwa sentimen positif juga bisa menjadi lokomotif ekonomi kreatif.

BERNAS menilai, Pemerintah Provinsi Jeju perlu segera membentuk tim respons krisis digital.

Tim ini bertugas memantau dan meluruskan informasi keliru di media sosial secara real-time.

Kampanye transparansi keamanan publik yang menampilkan data statistik tingkat kejahatan yang akurat juga perlu diluncurkan untuk melawan narasi negatif yang beredar.

Strategi Pemulihan Kepercayaan

Kolaborasi dengan para 'influencer' perjalanan untuk menunjukkan situasi terkini yang sebenarnya di Jeju menjadi langkah taktis yang efektif.

Para kreator konten ini dapat menjadi jembatan untuk menampilkan realita di lapangan, bahwa Jeju tetap aman dan nyaman untuk dikunjungi.

Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sistem keamanan riil, seperti penambahan CCTV dan patroli, serta komunikasi publik yang proaktif dari gubernur.

Krisis ini menjadi pengingat bahwa di era digital, reputasi adalah aset yang paling rapuh.

Sebuah destinasi wisata tidak hanya bersaing pada keindahan alamnya, tetapi juga pada bagaimana ia dikelola dan dikomunikasikan di ruang publik digital.

Kepercayaan wisatawan adalah mata uang yang paling berharga, dan sekali hilang, memulihkannya membutuhkan waktu dan strategi yang jauh lebih besar.

Dampak pada Ekosistem Ekonomi Lebih Luas

Penurunan wisatawan ini bukan hanya soal angka kunjungan. Di baliknya, ada ribuan UMKM yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.

Dampak berantai akan terasa mulai dari pemilik toko suvenir, pemandu wisata, hingga para nelayan yang biasa melayani wisatawan untuk trip memancing.

Industri ini adalah ekosistem yang saling terhubung, dan guncangan di satu titik akan menjalar ke titik lainnya.

Sikap proaktif dan transparan dari pemerintah daerah adalah kunci untuk memutus rantai kepanikan.

Dengan menunjukkan data yang akurat dan langkah konkret di lapangan, persepsi negatif dapat dilawan.

Krisis ini juga menjadi momentum bagi Jeju untuk membangun sistem manajemen krisis yang lebih modern dan tangguh.

[STRATEGI SOLUSI]

Menghadapi tantangan reputasi dan krisis informasi seperti yang dialami Jeju, kecepatan dan ketepatan respons adalah segalanya.

Untuk membangun sistem monitoring dan respons krisis digital yang efektif, BERNAS merekomendasikan pemanfaatan teknologi AI.

Solusi seperti OmniClaw dapat membantu memantau sentimen publik dan menyebarkan narasi positif secara otomatis, sementara layanan Jasa SEO & Ads BERNAS dapat memastikan informasi yang benar berada di peringkat teratas mesin pencari.

Bagi pemerintah daerah atau pelaku industri pariwisata di Indonesia yang ingin membangun ketahanan terhadap guncangan reputasi serupa, konsultasi dengan tim BERNAS melalui Consulting Business Plan dapat menjadi langkah awal yang strategis.

Belajar dari kasus Jeju, investasi pada sistem deteksi dini dan manajemen krisis digital adalah investasi untuk melindungi masa depan ekonomi daerah.

📊 Survei Kilat BERNAS

Bidang karir impian Anda?

Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.

FAQ: Ringkasan Cepat

Apa inti dari Wisatawan ke Jeju Anjlok Akibat Rumor Pulau Horor, Gubernur Buka Suara?

Jumlah wisatawan domestik ke Pulau Jeju, Korea Selatan, menurun drastis setelah maraknya rumor 'Jeju horror story' yang menggabungkan kasus orang hilang da

Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?

Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram

Untuk Mitra & Pengiklan

Jangkau pembaca BERNAS.id di wilayah Anda

Paket iklan & kerja sama regional tersedia — terbit sejak 1946, terindeks Google & Google News.

Lihat Paket Iklan

“Wisatawan ke Jeju Anjlok Akibat Rumor Pulau Horor, Gubernur Buka Suara”

R
Redaksi BERNAS
Click to Share
Discovery Insight

Data Transmutation:
Digital Sovereignty

Kenali produk dan layanan dalam ekosistem BERNAS.

Lihat Ekosistem

Peluang Karir & Bisnis Digital

Potensi Penghasilan (2026)
Rp 15.000.000 - Rp 25.000.000

Estimasi berdasarkan data pasar kerja & AI Bernas.

Prospek Karir
⚡ Sangat Tinggi

Permintaan tenaga kerja untuk sektor ini diprediksi tetap kuat.