Sarasehan Dewantara 2025: Pendidikan sebagai Gerakan, Bukan Sekadar Institusi

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Cakra Dewantara bersama Museum Dewantara Kirti Griya menggelar Sarasehan Dewantara pada Jumat, 2 Mei 2025 di Pendapa Agung Tamansiswa.
Digelar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional dan kelahiran Ki Hadjar Dewantara, Sarasehan Dewantara bukan sekadar seminar biasa.
Sarasehan Dewantara adalah ruang terbuka bagi siapa pun yang mengupayakan pendidikan sebagai gerakan, bukan sekadar insititusi.
Sarasehan Dewantara adalah acara keempat yang digelar dalam rangkaian Pekan Dewantara 2025.
Baca Juga : Menengok Memori Abadi Ki Hadjar Dewantara Melalui Pameran Pekan Dewantara 2025
Shintia Putri Fibriolawati selaku perwakilan panitia menyampaikan bahwa Sarasehan Dewantara sekaligus Pekan Dewantara 2025 merupakan upaya membumikan gagasan Ki Hadjar dalam konteks kekinian.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Bayar Setelah Kerja!
Program S1/D3 di UNMAHA dengan Income Sharing Agreement. Tanpa biaya kuliah, bayar 15% dari gaji setelah bekerja.
Daftar Sekarang — Gratis →“Kita ingin pendidikan tidak hanya dilihat sebagai urusan sekolah atau kurikulum, tetapi sebagai gerakan kebudayaan yang melibatkan masyarakat luas,” jelas Shintia Putri, Ketua Panitia Pekan Dewantara 2025.
Sarasehan Dewantara membuka ruang diskusi bagi akademisi, pelaku pendidikan alternatif, komunitas, mahasiswa, maupun umum untuk berbagi pengalaman, menjual karya, hingga mendiskusikan tantangan pendidikan hari ini.
Duduk bersama di Pendapa Agung Tamansiswa Yogyakarta, publik bisa berdiskusi dengan pendekatan yang santai dan partisipatif.
Publik juga berkesempatan dalam menyampaikan pertanyaan yang mengganjal ataupun tanggapan yang terpendam mengenai masa depan pendidikan kepada tiga pembicara yang telah diundang oleh panitia.
Ketiga pembicara tersebut adalah Ki Rama Prambudhi Dikimara dari Dewantara Institute, Nyi Sri Wahyaningsih dari SALAM (Sanggar Anak Alam), dan Ki Sutikno dari Tamansiswa.
Memiliki latar belakang dan memangku praktik pendidikan yang berbeda, ketiga pembicara ini disatukan dalam satu ruang bukan hanya untuk berbagi pengalaman, namun juga mengobarkan semangat memperjuangkan pendidikan yang tidak terbatas pada institusi.
Ki Sutikno mengawali Sarasehan Dewantara dengan satu pengingat, yaitu pentingnya kasih sayang dalam menyampaikan dan menerapkan pendidikan.
Ki Hadjar Dewantara memberikan teladan melalui sistem among, yaitu sistem pendidikan yang menekankan pada kasih sayang, bimbingan, dan kebebasan, adalah kunci utama pendidikan yang sejati.
Ki Sutikno menyoroti bahwa sistem pendidikan yang diwariskan dari masa kolonial telah menciptakan generasi yang dibentuk dengan rasa takut dan keterpaksaan, bukan rasa ingin tahu dan kemandirian.
Ironisnya, hingga kini, masih banyak kebijakan pendidikan yang justru memperkuat praktik pembodohan ini.
“Jangan kamu mendidik dengan paksaan dan tekanan.
Warta Pilihan Redaksi:
Mengenal Phygital Ecosystem: Masa Depan Media & Ekonomi KreatifItu adalah tinggalan dari Belanda,” tegas Ki Sutikno.
Menyambung Ki Sutikno, Ki Rama Prambudhi Dikimara yang baru menerbitkan buku Kota Kita Kata-Kata membawa peserta kembali ke ingatan masa lalu.
Ki Hadjar Dewantara tidak melawan sebatas melalui kata-kata, namun dalam upaya yang teknis sekaligus strategis.
Ki Hadjar Dewantara menyuarakan pentingnya pendidikan yang berpihak pada rakyat dengan terjun secara langsung, menyusun kurikulum,dan membangun sistem pendidikan yang berakar pada nilai-nilai kebudayaan nasional.
Keteladanan yang bisa diambil dari kisah Ki Hadjar Dewantara adalah bahwa pendidikan yang merdeka bisa direalisasikan lewat pikiran, budaya, dan pendidikan.
Namun ingatan masa lalu tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan, termasuk soal apakah kebijakan pendidikan hari ini sudah sepenuhnya berpihak pada anak-anak bangsa?
Sebagai penutup, Nyi Sri Wahyaningsih dari SALAM menekankan tiga hal penting dalam upaya mengembalikan marwah pendidikan untuk semua.
Pertama, tidak perlu memaksakan keberagaman menjadi satu hal yang sama.
Kedua, guru tidak selalu benar dan ketiga, pendidikan seyogyanya memanusiakan manusia.
Selain itu, Nyi Sri Wahyaningsih membuka tabir di balik pertanyaan mengapa anak enggan untuk sekolah.
Menurutnya, alasan yang muncul justru esensial di mana sekolah dipandang tidak mampu memberikan solusi atas persoalan hidup.
“Keberagaman itu indah, sehingga tidak perlu memaksakan sesuatu,” ujar Nyi Sri Wahyaningsih.
“Setiap anak boleh memilih belajar sesuai ketertarikannya masing-masing,” imbuhnya.
Seperti Pekan Dewantara 2023, Sarasehan Dewantara tahun ini digelar dejat dari Museum Dewantara Kirti Griya.
Tema yang diangkat adalah tema utama Pekan Dewantara 2025, Palagan Abadi Sang Tuan Guru.
Baca Juga : Sarasehan Jelang 100 Tahun “Dalang Edan” Ki Narto Sabdo
Sarasehan Dewantara digelar bersama kolaborator, DIKSI (Diskusi Literasi) dan hadir untuk mempertanyakan realitas sekaligus wadah reflektif atas pendidikan hari ini di Indonesia.
Kisah Ki Hadjar Dewantara di masa lampau adalah adalah teladan bagi kita untuk terus berjuang, berefleksi, dan berupaya mewujudkan pendidikan untuk semua.
Sukses digelar, Pekan Dewantara 2025 diwarnai dengan beragam acara yang menarik.
Tahun ini, Pekan Dewantara digelar dengan enam rangkaian acara, yaitu (1) Nyerat Dewantara, (2) Pekan Mengajar, (3) Pameran, (4) Sarasehan Dewantara, (5) Napak Tilas, dan (6) Penutupan.
Sebagian dari rangkaian tersebut adalah agenda yang selalu dipertahankan setiap tahun, sebagian dihidupkan kembali usai absen pada Pekan Dewantara 2023, dan sisanya diinspirasi dari perjalanan Cakra Dewantara bersama kolaborator.
Melalui prosesnya, Panitia Dewantara dibantu oleh beberapa pihak, baik internal maupun eksternal.
Pekan Dewantara 2025 telah resmi ditutup.
Namun makna yang ada di dalamnya akan terus berkibar sepanjang perjuangan pendidikan hari ini dan ke depannya. (*/cdr)
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Dapatkan Top 100 Weekly Brief Langsung ke Email Anda
Setiap Senin pagi: ranking terbaru brand & pemimpin Indonesia, tren industri, dan content angle yang bisa langsung dieksekusi.

Program Career Accelerator UNMAHA
Akselerasi karir global Anda lewat program Teaching Factory. Kuliah S1/D3 dengan jaminan penempatan kerja.
Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
BERNAS 100: Unilever Indonesia Kunci Posisi #1 dengan Portofolio Omnichannel Terdepan
Grok 4.5 Dirilis xAI: Reasoning Real-Time 1 Juta Token, Langsung Tantang GPT-5.4 & Claude Opus 4.7
BCA Dominasi Pilar Perbankan BERNAS 100: CASA Ratio Tembus Rekor, Laba Bersih Tumbuh 11%
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di di yogyakarta
Semantic Authority Linker
Lanjutkan Literasi Strategis Anda