SLEMAN, BERNAS.ID – Pameran batik bertajuk “Bulan Cinta Batik Nusantara” memberi angin segar kepada pelaku ekonomi kreatif subsektor kriya batik yang tergabung dalam Asosiasi Batik dan Tenun Nusantara (ABTN), baik di DIY maupun dari luar, seperti Madiun dan Sulawesi Tengah. Mereka diberikan kesempatan promosi untuk mengenalkan batiknya selama bulan Januari di lobby TVRI Yogyakarta.
Para peserta pameran akan berkese. berkesempatan menjadi narasumber untuk sesi wawancara selama 30 menit dalam siaran pagi TVRI Jogja.
Baca Juga Gebyar Batik Sleman Promosikan Para Pengrajin Lokal
Kepala Dinas Pariwisata Sleman Suparmono, memberikan respon positif terhadap pameran UMKM batik khususnya yang ada di Sleman. Menurutnya, kegiatan tersebut membuktikan subsektor ekonomi kreatif sudah saling berinteraksi satu sama lain dan berkolaborasi untuk kepentingan bersama yang saling menguntungkan. “Saya kira sudah saatnya semua sektor untuk saling berkolaborasi dan saling mendukung untuk akselerasi pemulihan ekonomi masyarakat,” tuturnya di lokasi pameran, Rabu (19/1/2022).
Ia mengatakan, pameran batik berangkat dari FGD subsektor Televisi dan Radio dengan audience mengundang pelaku UKM yang diselenggarakan Komite Ekonomi Kreatif Sleman di akhir tahun 2021 yang lalu, TVRI Stasiun Jogja menindak lanjuti dengan menyelenggarakan pameran.
“Saya berharap kegiatan ini bisa rutin dilaksanakan sehingga dapat membantu pelaku kriya, khusunya perajin batik.
Dari subsektor ekonomi kreatif yang paling banyak tumbuh, hasil dari survei tahun 2021, adalah kriya dengan prosentase 38 persen,” imbuhnya.
Baca Juga Penjualan Batik DIY Bakal Didorong Platform Online Baru
Wakil Ketua Asosiasi Batik Tenun Nusantara (ABTN), Tanti Syarif mengatakan, selama dua tahun pandemi corona, para perajin berjualan batik di rumah dengan cara sederhana dan media yang sangat terbatas.
“Jadi buat kami, pameran ini semacam penyejuk. Harapan kami, konsumen akan tahu, brand kami masih ada. Semoga ke depan dengan promosi ini membuat produk kami, IKM di Sleman dan lainnya, lebih diketahui masyarakat luas,”t Tanti.
Menurutnya, dua tahun terakhir penjualan batik turun drastis bahkan sempat mengalami zero penjualan.
Karena itu, adanya pameran bulan cinta batik ini sangat membantu untuk kembali bangkit dan meningkatkan brand.
“Menjadi ruang untuk meneguhkan eksistensi ukm khususnya batik dan tenun bahwa kami tetap berkarya dan tetap berupaya meningkatkan kualitas produk kami agar tetap dapat berkompetisi di pasar,” tukasnya.
(jat)

