SURABAYA, HarianBernas.com – Seorang wanita melangkah di halaman fakultas medis gigi (FKG) UNAIR dengan senyum menghiasi wajahnya. Tangan kanannya dibebat perban sewarna kulit. Ia adalah Angela Tri Wahyuni.
Wanita yang akrab disapa Niek ini adalah survivor kanker payudara.
Tangannya dibalut perban karna membesar seusai berobat. Sudah 5 tahun, Niek menempuh berbagai penyembuhan. Mulai chemotherapy, pembedahan, sampai radiasi.
Saat ini, Niek dinyatakan sembuh. Ia menyebut kesehatan ini pemberian Tuhan supaya dapat berbagi dengan sesama. Lajang berumur 48 tahun ini pun jadi sukarelawan paliatif RSUD Dr.
Seotomo. ??Saya pingin mereka kokoh, ?? ucapnya.
Bagi Niek, tiap pengidap kanker tentunya mengalami masa – masa susah, sama dengan yang ia alami. Jauh saat sebelum terdiagnosis kanker, sang ibunda, Sri Hudari, lebih dahulu terserang penyakit itu. Awal mulanya, bunda Niek merasakan terdapat tonjolan di buah dada sebelah kiri.
Saat itu, Niek masih duduk di sekolah dasar. Sang bunda senantiasa membiarkan tonjolan ini. Dikala Niek smp, rahim sang ibu ikut terkena kanker sampai pendarahan.
Dampaknya, rahimnya harus diangkat.
Tidak berhenti disana. Tonjolan di buah dada Sri Hudari membengkak, terlebih lagi telah menyebar di kedua buah dada. Tetapi, sang bunda senantiasa bersikeras tak ingin pembedahan.
Niek terpaksa cuti kuliah di jurusan arsitektur Universitas Merdeka Surabaya guna mengasuh ibunya. ??Saya anak ragil. Kakak – kakak telah bekerja. Jadi, saya yang dapat menemani.
Saat ini sekitaran tahun 1990, ?? ucapnya.
Niek mengantar sang bunda berobat ke bermacam tempat. Selain di Surabaya, Niek bawa ibunya berobat di Jakarta. Sampai kesimpulannya sang bunda mengembuskan nafas terakhir pada 2005, pas 15 tahun seusai perjuangan mencegah kanker.
Selang 8 tahun, sang bapak, Jamaluddin, menyusul. Bapak Niek juga wafat karena kanker.
??Pada 2013, papa wafat. 6 bulan sebelumnya ketahuan terdapat kanker otak, ?? katanya.
Ketiadaan kedua orang tua karna kanker jadi pukulan telak untuk Niek. Kondisinya drop.
Disaat tekanan pikiran seperti itu, timbul tonjolan kecil di payudaranya. Niek kaget walaupun sadar mempunyai riwayat keluarga penderita kanker. Ia memilah membiarkan tonjolan ini.
Keluarganya lagi kesusahan pengeluaran. Tiga tahun berikutnya, tonjolan makin besar. Aktivitas yang seabrek membuatnya tak memikirkan rasa perih di bagian dada.
Niek seseorang aktivis gereja.
Ia jadi kepala tim Serikat Santo Vinsensius (SSV), serupa kelompok sosial kepunyaan gereja katolik di Surabaya. Tepatnya di gereja Marinus Yohanes, Kenjeran.
Ia jadi koordinator setiap hari di balai penyembuha gereja itu.
Niek kerap mendatangi anak jalanan dan juga mendampingi para tunawisma. ??Saya ingat betul saat ini april 2009. Saya pernah mengikuti baksos di lamongan. Terasakan benjolannya bahwa dipegang membeku.
Terdapat sekitaran 7 centimeter, ? ucapnya.
Wanita kelahiran 20 november 1967 ini mengatakan, struktur payudaranya berbeda, asimetris kanan dan juga kiri. Puting masuk ke dalam dan juga kulit luar mengkeret serupa jeruk. Pada Mei 2009, Niek merasakan perih luar biasa.
Dikala kesakitan seperti itu ??Saya memohon kekokohan. Dikala ini saya bertahan 2 minggu, ?? ucapnya.
Sakit Niek diketahui rekannya di balai penyembuhan gereja. Para tenaga kedokteran yang mayoritas dokter kaget.
Niek cuma dapat terdiam dan juga menangis. Ia segara dibawa ke dokter Eddy Herman Tanggo SPB (k) onk. Dokter menyebut kankernya telah stadium iii b. ??Dokter bilang wajib pembedahan.
Saya belum siap. Itu kebanggaan wanita, ?? ucapnya.
Para temannya di gereja tak menyerah. Niek dipertemukan dengan seseorang sukarelawan paliatif, ialah Max Koesbagyo.
Ia menemukan motivasi. Awal mulanya, Niek tetap kukuh karena sadar tingginya pengeluaran penyembuhan kanker. Belum lagi perawatan seumur hidup yang wajib dilalui.
Beruntung, rekan – rekannya menunjang dan juga berjanji menolong. ??Mereka bilang, Anda kerap mengasuh orang, tetapi malah sakit, ?? katanya.
Niek sepakat berobat. Ia menempuh 6 kali chemotherapy. Jarak antarkemo 3 minggu agar total perlu 5 bulan.
Usianya dikala ini 43 tahun. Kemo pertama dicoba di poliklinik onkologi satu atap RSUD Dokter Soetomo. Tiap kali aksi, diperlukan saat sekitaran 3 jam.
Ia mengaku serupa orang kamping dikala kemo.
Niek bawa tas lengkap berisi santapan buah, juga susu. Sepanjang kemo, ia tak merasakan lemah yang sangat. Rambutnya pun tak banyak rontok lantaran giat keramas dengan lidah buaya.
Ia berkata, perihal ini pula yang dahulu dicoba sang ibu. ??Tapi, saya ndablek tak ingin pembedahan. Wajarnya, seusai kemo ketiga, saya wajib menempuh pembedahan dahulu, baru lanjut kemo lagi, ?? ucapnya.
Niek tersadar seusai dokter menyebut kanker itu wajib diangkat. Saat itu pas 8 hari menjelang Natal atau pada 17 Desember 2009.
Dokter menjanjikan Niek senantiasa dapat memperingati Natal. Ia menempuh pembedahan besar untuk pertama kali selama 6 jam pada 22 Desember.
Terbangun pada 23 desember, Niek tak memiliki buah dada kanan. Keesokan harinya, ia kembali ke rumah.
Malam kebaktian, Niek cuma terdiam di rumah. Ia merindukan atmosfer khidmat Natal. ??Saya kaget sekali dikala mendadak terdapat asisten romo tiba ke rumah bawa komini.
Roti dari badan kristus yang biasa dipecah dikala Natal, ?? ucapnya.
Seusai pembedahan, pada januari 2010, Niek menempuh penyembuhan lanjutan.
Ia melaksanakan 35 kali radiasi. Satu kali penyinaran menghabiskan saat satu hari di RS Dokter Ramelan. Pascaradiasi, Niek dinyatakan survive.
Ia mengaku menemukan mukjizat dari Tuhan. Niek merasai dipanggil bergabung menjadi sukarelawan paliatif.
Saat ini, Niek aktif di regu sukarelawan paliatif RSUD Dokter Soetomo. Tiap bulan, ia mempunyai agenda 2 kali home care dan juga follow – up.
Ia berkunjung ke rumah para pengidap kanker di seantero Surabaya. Home care teratur tiap bulan 4 orang. Bagi ia, penyandang kanker tak semata – mata perlu penyembuhan raga, tetapi juga psikologis.
Bagi Niek, penting untuk keluarga pengidap kanker guna memberikan dukungan, semisal orang tua atau pendamping. Bila telah sembuh, hendaknya pengidap terus melaksanakan kontrol agar tidak kambuh.
Bagi yang belum sakit, ia memohon tiap wanita mengetahui dini dengan mengecek payudara.
??Saya semangat karena mereka, rekan gereja, dan juga paliatif. Banyak sukarelawan paliatif yang telah tak muda yang tetap semangat. Saya juga salut dengan dokter paliatif yang ikhlas blusukan melayani, ?? ucapnya.
Selain di paliatif, Niek senantiasa beraktifitas di balai penyembuhan.
Tiap masyarakat kurang mampu dapat berobat cuma dengan 5 ribu rupiah. Ia tiba tiap Minggu pagi. Terdapat 70?80 penderita yang ia temui tiap minggu.
Walaupun tak digaji, ia mengaku ikhlas melayani penderita.
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Mengikuti Kisah Aktivis Gereja Survivor Kanker?
SURABAYA HarianBernas com Seorang wanita melangkah di halaman fakultas medis gigi FKG UNAIR dengan senyum menghiasi wajahnya Tangan kanannya dibebat perban...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




