Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Liem Tiang Gwan: Sosok Ahli Radar Indonesia yang Mendunia

Oleh: Redaksi Bernas•21 April 2016
Liem Tiang Gwan: Sosok  Ahli Radar Indonesia yang Mendunia
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Apakah Anda tahu siapakah pembuat radar yang digunakan oleh Bandara Heathrow London yang digunakan untuk memantau dan memandu pesawat Orang dari ben..."

🗓️ Dipublikasikan pada 21 April 2016.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita inspirasi terbaru →

HarianBernas.com – Apakah Anda tahu siapakah pembuat radar yang digunakan oleh Bandara Heathrow, London yang digunakan untuk memantau dan memandu pesawat? Orang dari benua Eropa?

Mungkin Anda berpikir jika radar yang digunakan di Bandara Heathrow, London adalah buatan tangan orang Eropa. Namun ternyata radar tersebut bukanlah buatan orang Eropa melainkan buatan dari orang asal Indonesia.

Radar yang digunakan oleh Bandara Heathrow, London adalah salah satu buatan putera Indonesia kelahiran 20 Juni 1930, Semarang, ia bernama Liem Tiang Gwan.

Liem Tiang Gwan merupakan seorang ahli Radar yang kini mendunia.

Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia.

Bukan hanya itu saja, radar rancangannya juga digunakan militer di negara Eropa sebagai pertahanan negara. Ternyata bidang radar, antenna, dan control lalu lintas udara sudah digeluti oleh Liem selama puluhan tahun.

Namanya sudah mendunia di bidang radar, system, dan berbagai seluk-beluk system gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.

Untuk menjadi seseorang yang ahli dalam bidang-bidang tersebut tentunya Liem memiliki riwayat pendidikan yang baik.

Ia berpindah-pindah dari sekolah satu ke sekolah yang lain. Awalnya ia sekolah di Jakarta, lalu melanjutkan ke Taman Siswa Yogyakarta, dan kemudian menyelesaikan pendidikannya di HBS (Hoogere Burgerschool Semarang.

Pada tahun 1955, Liem berhasil meraih gelar sarjana dari ITB.Ia kemudian melanjutkan studi di Technise Universiteit, Delft, Jerman dan lulus pada tahun 1958.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia pergi ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz yang kini leih dikenal dengan nama Alcatel.

Meskipun ia sudah mendapatkan posisi yang lumayan ditempat kerjanya, namun ia masih ingin mengabdikan diri di tanah air. Pada tahun 1963, Liem memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja dan kembali ke Indonesia.

Niatnya untuk kembali ke tanah air sudah bulat. Namun menjelang keberangkatannya ia mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membua konfrontasi dengan Malaysia, karena hal itulah kapal yang ia tumpangi tak berani merapat di Tanjong Priok, Jakarta, kapal tersebut hanya berlabuh di Thailand dan Filipina.

Saat itu Liem benar-benar bingung, karena jika ia tetap memutuskan pulang ke Indonesia, ia akan terdampar di negeri orang.

Akhirnya Liem memutuskan untuk tetap tinggal di Jerman dan ia kembali bekerja di Stuttgaart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken yang sekarang beruah menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS) dari situlah kehidupannya berubah.

Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk system radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication).

Liem pensiun pada tahun 1995, namun meski ia sudah pensiun namun Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts dan hingga tahun 2003 ia masih diminta untuk menjadi consulting engineer EADS.

Peran Liem dalam bidang sensor, radar, dan gelomang elektromagnetik membawanya untuk mematenkan sejumlah temuannya. Kini puluhan temuannya telah diakui berstandar internasional dan sudah dipatenkan.

Meskipun saat itu Liem sudah terbilang mapan namun ia tetap ingat dengan tanah kelahirannya.

Bahkan ketika usianya tak lagi produktif, ia tetap dipercaya untuk memegang jabatan yang cukup penting di perusahaannya.

📊 Survei Kilat BERNAS

Berapa penghasilan bulanan ideal Anda?

Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.

Tag:#inspirasi#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram

“Liem Tiang Gwan: Sosok Ahli Radar Indonesia yang Mendunia”

R
Redaksi Bernas
Click to Share
Discovery Insight

Data Transmutation:
Digital Sovereignty

Kenali produk dan layanan dalam ekosistem BERNAS.

Lihat Ekosistem

Peluang Karir & Bisnis Digital

Potensi Penghasilan (2026)
Rp 15.000.000 - Rp 25.000.000

Estimasi berdasarkan data pasar kerja & AI Bernas.

Prospek Karir
⚡ Sangat Tinggi

Permintaan tenaga kerja untuk sektor ini diprediksi tetap kuat.