Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Nanoemulsi Ekstrak Jahe Merah Hambat Kerusakan Penderita Gagal Ginjal

Oleh: Redaksi Bernas•8 Juli 2019
Nanoemulsi Ekstrak Jahe Merah Hambat Kerusakan Penderita Gagal Ginjal
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Nanoemulsi Ekstrak Jahe Merah Hambat Kerusakan Penderita Gagal Ginjal..."

🗓️ Dipublikasikan pada 8 Juli 2019.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita pendidikan terbaru →

SLEMAN, BERNAS.ID- Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengolah jahe merah menjadi sebuah formula yang dapat digunakan sebagai agen penghambat penyakit ginjal kronis dengan faktor risiko hipertensi.

?Jahe merah mengandung sejumlah senyawa seperti gingerol, shogaol, flavonoid serta aktivitas antioksidan yang tinggi dapat menghambat enzim penyebab vasokonstriksi dan menurunkan tekanan darah,? papar Nada Hanifah, salah satu mahasiswa pengembang formula saat konferensi pers di Kantor Humas UGM, Selasa 9 Juli 2019.

Di samping itu, Nada juga menyebut kandungan antioksidan pada jahe merah juga mampu menurunkan stress oksidatif sehingga menghambat kerusakan pada ginjal. Ekstrak jahe merah diformulasikan dengan teknologi nanoemulsi untuk meningkatkan solubilitas, stabilitas, serta efektivitas dari ekstrak jahe merah.

“Nanoemulsi ekstrak jahe yang bentuknya yang sangat kecil, tidak memberatkan kerja ginjal. Selain itu, jahe merah itu memiliki harga yang murah, melimpah, dan mudah dibudidayakan,” imbuh Nada.

Pengembangan formula yang diberi nama ZAHA tersebut dilakukan mahasiswa FKH UGM ini bersama rekannya Yusuf Farid Achmad (FKH) danAida Humaira (Fakultas Farmasi).

Dilakukan dibawah bimbingan Prof Dr drh Siti Isrina Oktavia Salasia yang lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta 2019 dan berhasil mendapatkan dana hibah pengembangan dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti.

Nada menjelaskan pengembangan ZAHA dilatarbelakangi dari keprihatinan mereka terhadap penderita penyakit ginjal kronis yang semakin meningkat. Penyakit ini merupakan penyakit yang timbul secara perlahan dan bersifat menahun. Penyebab terbanyak kedua adalah hipertensi (25%).Sementara peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. “Hipertensi menduduki peringkat nomor 5 di Indonesia,” ujarnya.

Untuk itu, ketiga mahasiswa angkatan 2016 ini berupaya membuat sebuah formula dari bahan alam, yakni jahe merah sebagai bahan untuk pengobatan penyakit tersebut.

Jahe merah merupakan tanaman herbal yang telah dikenal dan dikonsumsi secara turun temurun oleh masyarakat.

?Hasil penelitian menunjukkan tingkat kerusakan ginjal yang terjadi pada model hewan tikus dapat dihambat serta terjadi penurunan tekanan darah yang signifikan dibandingkan kelompok perlakuan tanpa ZAHA,?ungkapnya.

Ketiganya berharap hasil penelitian yang mereka lakukan dapat dikembangkan lebih lanjut. Dengan begitu dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan penyakit ginjal kronis dengan faktor hipertensi. (jat)

Artikel ini ditinjau ulang oleh redaksi bernas.id pada 12 Oktober 2026. Penelitian mengenai potensi nanoemulsi ekstrak jahe merah untuk menghambat kerusakan pada penderita gagal ginjal menunjukkan pentingnya eksplorasi bahan alam dalam dunia kesehatan.

Topik ini tetap relevan bagi pembaca karena memberikan wawasan tentang alternatif pendekatan terapi yang berbasis riset, sekaligus mendorong literasi ilmiah di masyarakat.

Pembahasan semacam ini dapat menjadi rujukan awal untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram