Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Rektor UGM Beri Penjelasan Kasus Pelecehan Seksual

Oleh: Redaksi Bernas•7 November 2018
Rektor UGM Beri Penjelasan Kasus Pelecehan Seksual
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Rektor UGM Beri Penjelasan Kasus Pelecehan Seksual..."

🗓️ Dipublikasikan pada 7 November 2018.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita daerah terbaru →

Bernas.id- Terkait penyelesaian kasus pelecehan seksual mahasiswi Fisipol, Rektor UGM, Panut Mulyono memberikan pernyataannya. Ia menyatakan UGM telah melakukan proses penyelesaian itu, sudah berjalan dan masih berjalan.

“Perlu kami sampaikan bahwa ini kan institusi pendidikan. Jadi sejak awal sebetulnya UGM itu berkeyakinan, kita menyelesaikan kasus ini dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan nilai-nilai akademis,” katanya ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis siang 8 November 2018.

Mantan dekan fakultas teknik UGM ini mengatakan dua-duanya itu anak kami, penyintas atau korban tentu kami menyampaikan simpati yang tinggi dan sangat dalam dan harus kita berikan keadilan yang seadil-adilnya.

“Kemudian, karena dua-duanya anak kami, kami ingin menyelesaikan dengan pola-pola yang mendidik agar keduanya itu mendapat pelajaran, tetapi tidak ada yang dihancurkan,” imbuhnya.

Dalam arti, menurut Panut, pihak UGM merasa yakin bahwa dari kesalahan itu bisa diberikan sanksi yang setimpal, tetapi ia juga yakin anak muda tersebut masih bisa dibangun kembali karakternya sehingga ke depan bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

“Kami berkeyakinan bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan pola-pola pendidikan yang baik ke depannya.

Tapi prinsip keadilan kita junjung tinggi, tapi tidak menghancurkan itu juga sisi lain yang harus kita ke depankan,” tambahnya.

Menurut Panut, untuk itulah UGM membentuk tim independen yang sudah berjalan dan memberikan tiga rekomendasi utama. “Yang laki-laki harus menjalani ini dan bagi yang wanita harus seperti ini seperti ini, dan bagi institusi UGM harus memperbaiki tata kelolanya seperti ini seperti ini agar ke depan tidak terjadi lagi hal-hal semacam ini. Itu hasil rekomendasi dari tim independen yang kami yakin berisi orang-orang yang memiliki kredibilitas yang tinggi dan mereka-mereka itu sebagai seorang pendidik dan dosen. Kita implementasikan itu,” jelasnya.

Sampai saat ini, Panut mengatakan implementasi rekomendasi-rekomendasi itu masih dijalankan. “Ketika nanti dengan menjalankan rekomendasi itu dirasa belum memenuhi rasa keadilan, kalau mau ke ranah hukum, ya kita ikuti, tapi harus betul-betul atas kesadaran semua pihak, penyintas dan kita,” katanya.

“Kalau melimpahkan ini ke ranah hukum, tidak ada persoalan, cuma bagi saya, masak ini persoalan anak kita sendiri, kemudian penyelesaiannya ke ranah hukum, apakah kita tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan ini dengan menjunjung tinggi keadilan dan nilai-nilai akademik.

Sebetulnya itu prinsipnya,” imbuhnya.

Kemarin, sebut Panut, sebetulnya, sudah ada rapat antara pihak universitas dan penyintas dengan didampingi pihak ketiga untuk menasehati, untuk merembug, dan untuk mempertimbangkan kalau memang harus ke ranah hukum atau polisi. “Ya harus kita lakukan dengan pertimbangan yang matang. Kalau semuanya itu sudah mantap, kita akan melangkah ke tahap itu,” ujarnya.

“Yang jelas bahwa untuk yang laki-laki tidak akan wisuda besok itu. Ndak ada itu yang mau bilang wisuda bulan November.

Artinya, sanksi yang diberikan itu, bahkan kalau menurut tim independen, bagi si laki-laki itu kan tidak ada sanksi harus dipecat atau di DO di rekomendasi itu sehingga kita implementasikan karena sanksi-sankai yang harus mengedepankan nilai-nilai keadilan dan akademik,” imbuhnya.

Panut mengatakan keputusan rapat kemarin bahwa kelulusan bagi yang bersangkutan itu ditunda sampai satu semester ke depan. “Ini memenuhi rasa keadilan atau tidak bagi si penyintas, ini yang menjadi pertanyaan, kemudian dimintakan pendapat kepada penyintas dengan kondisi semacam ini lalu seperti apa.

“Saya sebagai pimpinan di sini melihatnya itu komprehensif, jadi tidak akan hanya, ya seperti pandangan-pandangan yang belum komprehensif di dalam melihat masalah ini,” tuturnya.

Panut hanya membayangkan saja bahwa mereka anak-anak muda yang masih bisa dibangun dan dibina karakternya. “Saya yakin ke depannya bisa menjadi lebih baik. Itu esensi kaitannya dengan mendidik,” pungkasnya. (jat)

📊 Survei Kilat BERNAS

Bidang karir impian Anda?

Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram

Untuk Mitra & Pengiklan

Jangkau pembaca BERNAS.id di wilayah Anda

Paket iklan & kerja sama regional tersedia di BERNAS, media berita yang terbit sejak 1946.

Lihat Paket Iklan

“Rektor UGM Beri Penjelasan Kasus Pelecehan Seksual”

R
Redaksi Bernas
Click to Share
Discovery Insight

Data Transmutation:
Digital Sovereignty

Kenali produk dan layanan dalam ekosistem BERNAS.

Lihat Ekosistem