Bernas.id – “Saya tidak bakat dalam menulis.” Begitulah jawaban terbanyak yang kita dapatkan kalau kita mengajak orang lain untuk aktif di dunia tulis menulis. Maka sebenarnya, jawaban ini hanyalah mitos belaka ataukah fakta?
Apabila kita kembali pada keterampilan seseorang dalam berbahasa, maka akan kita temukan empat keterampilan, yaitu listening, reading, speaking dan writing. Dalam empat keterampilan berbahasa tersebut, keterampilan menulis menempati urutan keempat.
Baca juga: Pengertian Interpretasi, Tujuan, dan Macam-macamnya
Maka, apabila dikatakan bahwa keterampilan menulis adalah bakat, maka semua itu hanyalah mitos belaka. Memang ada sebagian orang yang benar-benar mendapatkan gift menulis yang dibawa sejak lahir, namun secara teori kebahasaan, seseorang itu sebelum menulis pasti sudah banyak mendengarkan, membaca dan telah melakukan banyak diskusi-diskusi.
Jangan terjebak pada mitos bahwa kita tidak memiliki bakat dalam menulis, karena ketika seseorang memiliki minat, kemauan dan kegigihan untuk belajar dan mendalami dunia tulis menulis, maka dia akan mencari komunitas yang akan membuatnya semakin bersinergi dalam menulis dan senantiasa berkreativitas dalam mencari, menemukan, mempelajari dan memilih sumber-sumber yang akan dijadikannya bahan dalam menulis.
Bukti yang paling sederhana bahwa kita semua pasti bisa menulis adalah ketika kita dalam keadaan sedih.
Ambillah contoh kita sedang patah hati, ketika dalam keadaan seperti ini kemudian kita mengambil pena dan kertas, maka kita akan menuliskan kata-kata kerinduan bercampur kesal dan diakhiri sebuah kalimat-kalimat bijaksana tingkat motivator dunia.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
“Iya, kan? Masihkah kita beralasan tidak memiliki bakat dalam menulis padahal menulis itu bukanlah bakat?”
Tidak usah terlalu banyak berpikir, bagaimana alur tulisannya, bagaimana kaidah-kaidah penulisannya atau bagaimana penilaian orang terhadap tulisannya, karena semua itu akan dipalajari seseorang secara terus-menerus, dalam artian biarkan diri kita berproses.
Ketika kita sudah menjalani proses menulis secara berulang-ulang, maka kita akan mengetahui cara menulis yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga kita tidak akan lagi dihantui dengan penilaian orang.
Kalau karya saja belum dihasilkan, maka bagaimana mungkin kita membiarkan perasaan takut akan menyinggung seseorang, perasaan khawatir hasilnya akan jelek dan perasaan-perasaan negatif lainnya menghantui kita?
Hancurkan dulu perasaan-perasaan pesimis untuk menulis, karena semua itu akan menghancurkan kepercayaan diri kita sehingga pada akhirnya kita berlindung di bawah tidak memiliki bakat menulis, padahal riilnya, menulis bukanlah bakat, ia merupakan proses belajar yang penguasaannya diperlukan latihan terus menerus.
Ayo! Mencoba menulis!
Baca juga: Tinjauan Pustaka: Pengertian, Manfaat, Cara Membuat, dan Contohnya

