Bernas.id – Ada perumpamaan yang mengatakan bahwa botol hanya mengeluarkan isinya. Atau sering juga seseorang mengumpamakan bahwa semua ceret hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.
Orang yang sering berkata kasar atau kotor maka sudah diketahui bagaimana kebiasaannya berbicara dan berbahasa. Namun, apakah benar dalam hatinya juga demikian?
Orang yang berkata kasar atau kotor, tidak hanya bisa dilihat atau dinilai dari kalimat yang diucapkan atau sikap yang ditunjukkan.
Seringkali kita perlu melihat jauh ke latar belakang hidupnya. Banyak hal yang melatari seseorang berkata kasar. Yuk simak ulasan singkat berikut ini:
1.
Penolakan
Banyak orang yang mengalami penolakan yang dalam hidupnya.
Penolakan yang diterima oleh seseorang sering menyebabkan luka batin, terutama jika penolakan tersebut berasal dari orang-orang terdekat apalagi jika penolakan tersebut diterima di usia yang masih belia.
Bagi sebagian orang, menceritakan penolakan dapat diceritakan kepada orang lain.
Lebih buruk lagi, sebagian besar penolakan terutama yang diterima dari keluarga adalah aib yang tidak pantas diceritakan kepada orang lain.
Jika demikian, ada orang yang hanya menyimpan rasa sedih, kekesalan bahkan ada pula yang menyimpannya sebagai dendam.
Saat seperti ini memungkinkan seseorang menghujat orang lain yang telah menolaknya.
Karena ia tak berani mengekspresikan kekecewaan dan kemarahannya, maka ia hanya mengutuki dalam hati.
Saat perilaku mengutuki orang lain terjadi bertahun-tahun, maka alam bawah sadarnya akan terbiasa mengatakan kata atau kalimat kasar yang akhirnya terucapkan keluar.
2.
Penghinaan
Orang yang menerima penghinaan, jika berkali-kali sering disebut bullying secara verbal cenderung akan memiliki kemarahan yang disimpan dan akhirnya menjadi dendam.
Memang tidak semua orang seperti demikian. Namun, dalam beberapa kasus remaja yang terpapar verbal bullying, cenderung suka berkata kasar untuk melampiaskan kemarahannya.
Yang disayangkan, banyak dari mereka yang berani berkata kasar justru kepada orang lain. Bukan kepada orang yang menghinanya.
3. Imitasi
Penyebab ini paling berbahaya.
Imitasi dalam hal ini berarti dalam keluarga ada yang terbiasa berkata kasar atau kotor sehingga si anak meniru kebiasaan tersebut.
Menjadi orang tua memang tak ada lembaga pendidikannya. Namun saat Anda menjadi orang tua, sikap dan kata-kata Anda sangat penting untuk dijaga.
Karena apa pun yang Anda lakukan dan katakan, akan menjadi contoh yang ditiru oleh si buah hati.
Anak adalah peniru ulung, yang seringkali mengembangkan hasil meniru menjadi perilaku baru yang lebih buruk.
Jadi saat Anda mangatakan kata atau kalimat kasar, maka buah hati Anda dapat mengatakan yang lebih kasar dari Anda.
4.
Trauma
Masalah yang ada dalam hidup seseorang mampu menjadikannya apatis terhadap banyak hal. Kasus trauma mirip dengan penolakan dan penghinaan.
Karena rasa marah yang tak terungkapkan, dapat membuat seseorang meluapkan kemarahannya dengan cara berkata atau bersikap kasar.
Mencegah memang lebih mudah daripada mengobati.
Membiasakan hal yang baik dengan kata-kata atau kalimat yang baik lebih baik daripada harus memperbaiki kosa kata kasar atau kotor yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan.
Membatasi seorang anak untuk mendengar kalimat kasar atau kotor dari dunia luar keluarga adalah hal sulit.
Namun, batasan dari keluarga mampu menjadi filter kemampuan seseorang berbahasa hingga dewasa.

