Bernas.id ? Pernahkah Anda terpikir bahwa sekolah yang menjadi tempat ananda mengenyam pendidikan ternyata justru membuatnya kecewa dan akhirnya trauma? Sekolah sebagai tempat anak bersosialisi dan asrama yang menjadi tempat untuk terlibat lebih jauh dengan teman sebaya dalam kehidupan sehari-hari justru membuat anak semakin jauh dari keluarga.
Saat baru memasukkan anak ke sekolah berasrama, Anda baru saja melepaskan anak Anda jauh dari penglihatan.
Masa penyesuaian dengan lingkungan baru ia lalui sendiri tanpa pendampingan dari Anda. Semakin muda buah hati Anda titipkan ke sekolah berasrama, akan semakin sulit penyesuaian dirinya.
Bayangkan, bagaimana pula jika peraturan yang diterapkan di asrama ternyata membuat Anak merasa seperti dipenjara. Kemandirian yang diharapkan akan terbentuk dan kematangan yang menjadi harapan orang tua akhirnya pupus karena banyak kekecewaan yang timbul.
Belum lagi jika rasa kecewa dirasakan oleh anak secar mendalam dan berakibat pada munculnya gejala penyakit yang terdiagnosa secara medis hingga membuat anak perlu di rawat.
Awal permasalahan yang sederhana, lo! Hanya memasukkannya ke sekolah berasrama namun akibatnya dirasakan sepanjang usia perkembangan anak hingga menjadi remaja bahkan dewasa.
Lalu apa yang perlu dilakukan oleh orang tua saat hal ini sudah terlanjur terjadi? Simak ulasan singkat berikut yang akan dapat menginspirasi Anda dalam penanganannya:
Dengarkan keluhannya
Langkah pertama yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah mendengarkan keluhan anak mengenai sekolahnya.
Dengarkan setiap ceritanya tentang fasilitas, teman-teman, guru, Pembina asrama, pola makan, pola asuh asrama, dan sebagainya.
Jika cerita tersebut hanya sesekali muncul, mungkin anak Anda sedang dalam masa penyesuaian diri dengan lingkungan barunya.
Namun, jika cerita tersebut terlalu sering dan selalu berisi keluhan, maka Anda perlu waspada karena keluhan adalah bentuk kekecewaan yang akhirnya harus ia ungkapkan.
Terima rasa kecewanya
Terima apa yang ia rasakan.
Terima setiap rasa kecewanya, jangan dulu Anda membantah dan tetap mengharuskan ia menghilangkan rasa kecewanya.
Saat Anda memaksanya untuk terus ada di situ, Anda membuat rasa kecewanya menjadi terus bertambah dalam. Tanyakan saja apa yang ia inginkan setelah rasa kecewa yang ia rasakan.
Diskusikan sisi plus dan minus dari sekolah berasrama itu sendiri dari sisi Anda dan buah hati.
Dampingi
Jika memungkinkan, dampingi ia melewati masa penyesuaiannya di asrama dengan cara sering menjenguk jika ada jam berkunjung. Jika memang anak tidak dapat diajak keluar asrama untuk sekedar jalan-jalan atau pulang menginap di rumah, maka Anda dapat berbincang di asrama sambil membawakan makanan kesukaannya. Jadwal kunjungan dapat Anda kurangi sedikit demi sedikit hingga buah hati mampu menyesuaikan diri dengan baik.
Tarik kembali
Jika keluhan semakin sering muncul, terlebih jika menyebabkannya menunjukkan gejala sakit secara fisik, Anda perlu menariknya dari asrama.
Ketidakkerasan anak tinggal di asrama memungkinkan terjadinya psikosomatis, yaitu penyakit fisik yang muncul karena beban psikologis.
Jika hal demikian terjadi lebih dari satu bulan, Anda perlu mempertimbangkan untuk memindahkan sekolah sang buah hati ke sekolah yang lebih dekat dengan tempat tinggal sehinga si anak merasa dekat dengan orang tuanya.
Limpahkan kasih sayang
Jika akhirnya buah hati dipindahkan dari asrama ke sekolah umum atau jenis sekolah lainnya yang berdekatan dengan tempat tinggal, maka untuk menyembuhkan rasa kecewa dan traumanya, Anda perlu melimpahkan kasih sayang yang lebih banyak dari biasanya. Hal tersebut perlu dilakukan untuk memulihkan rasa percaya diri dan mengikis habis rasa dibuang dari keluarga.
Untuk beberapa saat mungkin ia akan lebih manja, namun, hal tersebut dapat dihentikan jika perkembangan psikologisnya sudah lebih baik.
Tujuan menyekolahkan buah hati untuk lebih matang dan mandiri kadang ditafsirkan berbeda oleh si anak sendiri. Perlu diskusi panjang antara anak dan orang tua untuk memutuskan jenis sekolah seperti apa yang akan dimasuki.
Menitipkan anak di asrama bukan berarti peran orang tua terhenti, dan diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah kecuali beban finansial. Namun, menitipkan anak di sekolah berasrama artinya orang tua menjalin sinergi dengan pihak sekolah dalam menguatkan karakter yang sudah dibentuk sebelumnya di keluarga.
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Jika Trauma Sekolah Berasrama Dialami oleh Buah Hati, Segera Ambil Langkah Sigap Ini!?
Bernas id Pernahkah Anda terpikir bahwa sekolah yang menjadi tempat ananda mengenyam pendidikan ternyata justru membuatnya kecewa dan akhirnya trauma Sekolah...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




