HarianBernas.com – Bagi sejumlah orang, bunuh diri kerap dianggap sebagai jalan pintas untuk lari dari masalah jika orang yang bersangkutan merasa tidak sanggup lagi menanggung tekanan hidup. Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Mark Langedijk. Namun tidak seperti pelaku bunuh diri lainnya, pria asal Belanda ini melakukan bunuh diri dengan bantuan orang lain.
Sebelum meninggal, Mark memiliki masalah dengan kecanduan minuman keras selama delapan tahun terakhir.
Segala macam cara sudah ditempuh oleh Mark dan keluarganya supaya dia bisa lepas dari kecanduan. Namun hasilnya nihil.
Karena Mark merasa tidak sanggup lagi jika harus melanjutkan hidup dengan cara demikian, ia pun mengatakan pada keluarganya kalau ia ingin mengakhiri hidupnya dengan memakai metode euthanasia (suntik mati). Kebetulan hukum di Belanda memang memperbolehkan seseorang melakukan euthanasia pada dirinya sendiri.
Keluarga Mark awalnya hanya menganggap permintaan Mark tersebut sebagai sambil lalu.
Namun tidak demikian halnya dengan saudara Mark yang mengirimkan permohonan kepada dokter di lembaga euthanasia Belanda.
Permintaan saudara Mark tersebut disetujui dan euthanasia pada Mark pun dilakukan oleh dokter pada tanggal 14 Juli di rumah orang tua Mark.
Cerita mengenai kematian Mark tersebut didokumentasikan oleh saudaranya dan kemudian diterbitkan di media-media internasional baru-baru ini.
Mark sendiri bukanlah satu-satunya orang Belanda yang meninggal akibat euthanasia.
The Independent memberitakan kalau pada tahun 2015 saja, ada lebih dari 5.500 orang yang mengakhiri hidupnya sendiri dengan memakai metode ini.
Salah satu dari mereka adalah korban pelecehan seksual yang mengalami depresi parah.

