HarianBernas.com – Aparat pemerintah harusnya bisa menjadi pengayom bagi warga sipil. Namun menurut organisasi Human Right Watch (HRW) yang bergerak di bidang hak asasi manusia, hal demikian ternyata tidak terjadi di Nigeria. Dalam laporan yang dimuat di situs resminya pada hari Senin (31/10/16), HRW menuding kalau petugas pemerintah dan personil keamanan Nigeria justru melakukan pelecehan seksual kepada para pengungsi wanita yang melarikan diri dari Boko Haram.
Laporan yang sama mencatat kalau ada 43 kasus pelecehan seksual yang terjadi di 7 kamp pengungsi berbeda.
Semua kamp pengungsi yang menjadi lokasi kejadian terletak di Maiduguri.
Ibukota negara bagian Borno di Nigeria timur laut yang selama beberapa tahun terakhir menjadi arena konflik utama antara militer Nigeria melawan kelompok militan Boko Haram.
Tiga puluh tujuh korban mengaku kalau mereka diajak melakukan hubungan seksual setelah dijanjikan akan dinikahi serta diberi kehidupan baru yang layak. Sementara empat lainnya mengaku kalau mereka diseret dan dipaksa melakukan hubungan seksual.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Para korban tersebut juga menyatakan kalau pasca terjadinya kasus pelecehan seksual, mereka beserta anak-anaknya dijauhi dan dikucilkan oleh pengungsi lainnya.
Tidak lama sesudah HRW merilis laporan tersebut, Muhammadu Buhari selaku presiden Nigeria menyatakan kalau ia merasa amat terkejut. Buhari lantas memerintahkan polisi dan gubernur negara bagian untuk melakukan investigasi mendalam atas kasus tersebut.
Pelecehan seksual bukanlah satu-satunya masalah yang membelit kamp pengungsi di Borno.
Menurut UNICEF, 250 ribu pengungsi sekarang berada dalam kondisi kelaparan akibat tersendatnya bantuan makanan.

