Dalam suatu rapat yang diagendakan oleh suatu instansi, tertera waktu undangannya adalah pukul 08.30 WIB, kebetulan penulis menjadi salah satu yang turut diundang. Tepat pukul 08.25 penulis tiba di lokasi acara, tapi ternyata lokasi acara masih tampak sepi yang ada satu orang undangan yang kebetulan rekan penulis juga.
Panitia pelaksana pun belum tampak terlihat. Singkatnya, acara tersebut dimulai pukul 10.30 WIB.
Acara diawali dengan permohonan maaf dari sang pemimpin acara atas keterlambatan tersebut.
Terjadilah dialog penulis dengan rekan tersebut yang memperbincangkan tentang budaya tepat waktu. Disiplin tepat waktu memang masih menjadi barang langka dan berharga mahal di tempat kita, baik di sekolah, kampus, kantor, maupun di masyarakat umum. Rekan penulis yang pernah bertugas di Jerman pun sempat memperbandingkan dengan orang Jerman, negeri yang warganya dikenal disiplin dan amat tepat waktu.
?Mengapa orang Jerman jarang terlambat?
Apa rahasianya?? saya bertanya.
Jawabannya membuat saya tertohok. Dia bilang, orang Jerman menganggap terlambat adalah sebuah tindakan yang amat kasar dan tidak sopan. Jika Anda datang terlambat memenuhi sebuah janji/undangan, mau tak mau, Anda membuat seseorang atau beberapa orang menunggu.
?Apa hubungannya menunggu dan sopan santun?? saya mengejar.
Menurut rekan penulis: orang yang dipaksa menunggu hanya bisa berpangku tangan, tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia tidak bisa mengerjakan sesuatu yang seharusnya dia kerjakan jika dia punya waktu. Dia tidak bisa menemui klien lain, atau pergi ke toko untuk membeli buku pesanan anaknya.
Pendeknya, dia kehilangan sepotong waktu gara-gara menunggu Anda.
?Dengan datang terlambat, Anda ?merampok? sepotong waktu dari kehidupannya.?
Saya terenyak.
Ketika terlambat disamakan dengan sebuah pencurian, mendadak dia jadi punya makna baru. Tepat waktu bukan hanya soal disiplin semata, tapi juga soal menghargai orang lain.
Kalau kita mengakui keberadaan orang lain dan mengapresiasinya sepenuh hati, maka datang terlambat sama saja dengan membuang relasi itu ke ?tempat sampah?.
Dengan perspektif macam itu, mereka yang terlambat memang melakukan perbuatan tak sopan, yang tak bisa dimaafkan begitu mudah.
Belum lagi kita bercermin dari negara-negara maju seperti Jepang dan Negara-negara Eropa yang menjunjung tinggi budaya tepat waktu, tak heran negara-negara ini maju.
Ketika segala sesuatunya terlaksana sesuai dengan jadwal dan kesepakatan maka pekerjaan juga akan lebih cepat selesai, target yang diharapkan pasti juga akan tercapai, ini dimulai dari hal kecil yang diabaikan kebanyakan masyarakat di negeri ini tepat waktu.
Kata-kata ?mohon maaf Pak/Bu, saya terlambat? masih menjadi pemandangan sehari-hari. Terlambat masih dianggap hal yang wajar dan biasa, bahkan telah menjadi budaya. Bahkan di sebuah acara, ada yang telah membuat kesepakatan untuk terlambat selama 30 menit dalam setiap kali pertemuan.
Sungguh mengherankan, kok hal seperti ini perlu disepakati!
Bagaimana mengbah budaya ini? Buya Hamka pernah menyampaikan bahwa jika ingin merubah sebuah budaya diperlukan keteladanan seorang pemimpin, sistem/aturan yang tegas dan kepatuhan masyarakat. Budaya memang tidak mudah untuk diubah, dalam waktu yang singkat.
Tidak mudah bukan berarti tidak bisa.
Seth Godin seorang ahli perubahan dan kepemimpinan menyarankan tujuh sifat yang membuat pemimpin mampu menghadapi tantangan di abad 21 salah satunya adalah Budaya. Pemimpin yang baik secara sadar menciptakan budaya. Budaya tepat waktu, bisa dimulai dari hal yang kecil, tidak terlambat saat memulai rapat, atau masuk kerja dan kegiatan yang lainnya.
Renald Khasali dalam bukunya Myelin mengungkapkan berdasarkan pengalaman bersama tim yang dipimpinnya, setidaknya ada 5 langkah yang harus dilakukan untuk merubah budaya, yaitu; dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, dan akhirnya menjadi budaya.
Pertama, dipaksa.
Untuk membuat perubahan secara masal dan revolusioner memang tidak cukup menunggu kesadaran dari masing-masing individu, harus ada peraturan yang memaksa.
Konon, orang-orang Barat bisa disiplin bukan hanya karena faktor individu melainkan ada keteladanan sang pemimpin dan aturan yang tegas dan tidak dapat ditawar-tawar.
Yang salah ditindak tegas, yang benar ada jaminan keselamatan.
Kedua, setelah dipaksa orang akan merasa terpaksa.
Orang akan terpaksa bekerja keras agar dapat mengikuti segala jadwal dan kegiatan secara on time, tidak terlambat.
Mereka akan lebih memanage waktu sebaik-baiknya agar dapat melakukan setiap kegiatan dengan tepat waktu.
Ketiga, setelah terpaksa beberapa lama akhirnya bisa. Tidak bisa bukan karena sulit melainkan karena belum pernah mencoba untuk tepat waktu.
Keempat, setelah bisa toh akhirnya menjadi biasa.
Pada fase ini orang sudah tidak lagi merasakan berat, apalagi merasa dipaksa dan terpaksa.
Semuanya telah berjalan secara otomatis karena saraf dalam tubuh telah terkondisikan bahwa semuanya harus berjalan sesuai waktu yang ditentukan.
Kelima, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan dibumbui dengan penghayatan akhirnya akan menjadi budaya. Maka terbentuklah budaya disiplin.
Marilah kita menghargai diri sendiri dan orang lain dimulai dengan menghargai waktu.
Oleh: Muhammad Fahmi, ST, MSi
Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa
Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia
(Universitas Negeri Jakarta UNJ)
Master of Ceremony (MC), Trainer Publik Speaking/Kehumasan
Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati
WA: 08158228009
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Budaya Tepat Waktu Sang Pemimpin?
Disiplin tepat waktu memang masih menjadi barang langka dan berharga mahal di tempat kita baik di sekolah kampus kantor maupun di masyarakat umum...
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




