Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Rudyono Darsono Kritisi Program MBG, Harusnya Diiringi Peningkatan Mutu Pendidikan

Oleh: Redaksi BERNAS•7 Mei 2026
Rudyono Darsono Kritisi Program MBG, Harusnya Diiringi Peningkatan Mutu Pendidikan
Foto: Redaksi BERNAS
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: wordpress-news.bernas.id
"JAKARTA,BERNAS.ID – Makan Bergizi Gratis atau MBG terus menjadi polemik, apakah MBG ini layak dipertahankan, atau sebaliknya dihentikan. Pasalnya, dana negara cukup tersedot besar dari progran utama pemerintahan Prabowo Gibran. Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas 17 Agustus 1945, Rudyono Darsono mengakui, program MBG merupakan proyek suci Presiden Prabowo untuk membangun generasi bangsa Indonesia kedepan, investasi"

🗓️ Dipublikasikan pada 7 Mei 2026.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita pendidikan terbaru →

JAKARTA,BERNAS.ID – Makan Bergizi Gratis atau MBG terus menjadi polemik, apakah MBG ini layak dipertahankan, atau sebaliknya dihentikan.

Pasalnya, dana negara cukup tersedot besar dari progran utama pemerintahan Prabowo Gibran.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas 17 Agustus 1945, Rudyono Darsono mengakui, program MBG merupakan proyek suci Presiden Prabowo untuk membangun generasi bangsa Indonesia kedepan, investasi yang sangat baik.

Namun, sayangnya dijalankan oleh orang yang tidak amanah atau kurang amanah.

“Apa yang menjadi cita cita Prabowo untuk mengangkat IQ Indonesia , dari IQ Gorila (78), menjadi lebih baik.

Namun, dengan sistem MBG yang seperti ini malahan membuat kita berfikir hari ini kita bisa makan apa.

Baca Juga :Rudyono Darsono: Tragedi Anak di Ngada Cermin Kesenjangan Sosial dan Kegagalan Memenuhi Kebutuhan Dasar Pendidikan “Mereka membuat rakyat itu berfikir ke depan harus bagaimana untuk maju dan membangun bangsa ini.

Kalau terus sistem ini yang dijalankan akan membuat kita berfikir hari bisa makan apa ya.

Karena kita dibuat bukannya pembenahan soal gizi dan peningkatan IQ generasi muda, yang dapat jadi investasi mungkin 10-20 tahun ke depan.

Tapi, berfikir hari ini kita bisa makan apa.

Efek buruknya, kriminalitas jalanan akan makin masif, ini akan terjadi bila MBG dijalankan dengan sistem seperti ini.

Niat baik Prabowo dijalankan oleh orang kurang amanah,” kata Rudy. Rudy mempertanyakan saat ini MBG itu untuk beri makan siapa, karena standarisasi gizi tidak boleh ditawar.

Kepala MBG Dadan ahli serangga bukan ahli strategi gizi. “Katanya MBG membuka banyak lapangan kerja. Kita harus cerdas dalam berfikir agar bangaa ini dapat mengerti.

Mungkin saya bisa jelaskan, dana MBG diambil bukan dari pos baru dengan dana khusus.

Dana MBG itu diambil dari pos pos pengurangan dari APBD Daerah, pengurangan dari alokasi pendidikan banyak lagi. MBG itu realokasi dana dana lain.

Baca Juga :Pemerhati Hukum UTA’45 Rudyono Darsono : Bukan Reformasi Tapi Revolusi Kepolisian, Kapolri Baru Jangan Terlibat Masa Lalu “Jadi pembuatan MBG untuk membuka lapangan kerja, di sisi yang satu akan mematikan lapangan kerja Pendidikan atau guru guru atau sekolah yang dananya dialihkan ke MBG, pengurangan APBD yang dulu proyek proyek yang menghasilkan lapangan kerja, dananya ditarik ke MBG.

MBG bukan menciptakan lapangan kerja bukan membuat makan bergizi baru, tapi memindahkan alokasi dari satu sisi menjadi pekerja sisi yang baru,” tambahnya.

MBG itu diakuinya dapat menjadi investasi yang sangat baik, tapi menurut Rudy, sebelum persiapkan gizinya juga harus berfikir untuk pendidikannya.

“Gizi yang baik tanpa pendidikan yang baik apa yang diharapkan. MBG harus diiringi dengan pendidikan yang baik.

Saran saya bangun dan perbaiki sekolah sekolah, bangun dapur makan anak di sekolah.

Dan perlu pengawasan kualitas gizi,” tegasnya.(FIE)

Artikel ini ditinjau ulang oleh redaksi bernas.id pada 28 Agustus 2026.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi sorotan publik karena menyangkut alokasi anggaran negara dan dampaknya terhadap kualitas pendidikan.

Kritik yang menekankan pentingnya peningkatan mutu pendidikan di samping pemenuhan gizi relevan untuk dibaca kapan saja, mengingat pembangunan sumber daya manusia adalah prioritas jangka panjang bangsa.

Diskusi ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari asupan gizi, tetapi juga dari kualitas pembelajaran yang diterima peserta didik.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram