Warga Jatiluwih Sarankan Bupati Tabanan Belajar ke Dedi Mulyadi

TABANAN, BERNAS.ID – Warga Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, protes karena dilarang berjualan di atas lahan milik sendiri.
Mereka mendesak Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, agar meniru sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berpihak kepada warganya.
“Pak Bupati Tabanan seharusnya belajar dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tentang bagaimana membela kepentingan rakyat,” kata Wayan Subadre, warga Jatiluwih, saat ditemui pada Senin (28/4/2025).
Pria yang akrab disapa Supri itu mengungkapkan, dirinya sempat didatangi aparat dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Tabanan dan menerima surat peringatan (SP) karena mendirikan warung di atas tanah miliknya sendiri.
Namun, ketika ia mempertanyakan dasar pelarangan tersebut, pihak Dinas PU tidak bisa memberikan penjelasan yang pasti.
“Mereka sendiri tidak yakin apakah warung yang juga menjadi rumah saya ini masuk zona hijau.
Masterclass AI & Fullstack — Sertifikasi Google Gratis
Kuasai AI, Cloud, dan Fullstack Development. Akses 100+ slide interaktif di Slid1st Academy.
Daftar Sekarang — Gratis →Anak saya minta ditunjukkan gambar tata ruangnya, tidak diberi,” ujarnya.
Baca Juga : Jatiluwih Bali menjadi Destinasi Side Event WWF Bali 2024
Subadre menambahkan, dirinya sudah pernah mengajak pengurus Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih untuk memperjuangkan nasib warga, namun tidak ditanggapi.
Ia menyatakan kecewa dengan sikap pengurus DTW yang kurang responsif terhadap persoalan masyarakat.
Meski demikian, ia bersyukur mendapat dukungan didapat dari tokoh-tokoh desa adat Jatiluwih.
Dalam waktu dekat, mereka berencana mendatangi kantor Dinas PU Tabanan untuk meminta kejelasan.
“Tokoh dan masyarakat adat Jatiluwih mendukung kami agar bisa mendirikan warung demi memiliki penghasilan,” ujarnya.
Jika benar warung tersebut berada di zona hijau, Subadre meminta Pemerintah Kabupaten Tabanan memberikan solusi yang berpihak kepada rakyat.
“Jangan asal perintahkan bongkar tanpa solusi.
Apapun risikonya, saya akan tetap berjualan selama belum ada kejelasan dari Bupati Tabanan,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada warga dapat menyebabkan banyak warga khususnya pemuda Desa Jatiluwih memilih merantau ke luar daerah untuk bekerja, padahal potensi wisata dan pertanian desanya sangat besar.
“Jatiluwih ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) karena keindahan teraseringnya.
Tapi pendapatan dari bertani tidak cukup karena dukungan dari Pemkab Tabanan tidak total, ditambah lagi warga dilarang berjualan.
Kalau begini, bagaimana kami menafkahi keluarga,” pungkasnya.

Petani Sorot Perilaku Pengurus DTW Jatiluwih
Warta Pilihan Redaksi:
BERNAS Growth Academy: Belajar Investasi & Web3 dari NolSementara itu, para petani di kawasan Jatiluwih, Tabanan, Bali, meminta dilibatkan secara langsung dalam proses penentuan pengurus Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih.
Mereka menilai hal ini penting untuk memastikan pengurus DTW berpihak pada kepentingan petani.
Baca Juga : Dinsos Jember Berdayakan ODGJ, Sentra Mahatmiya Bali Jadikan Sebagai Role Model
“Selama ini kami hanya diminta mengusulkan nama, tapi orang yang kami usulkan belum tentu terpilih.
Kami ingin punya hak untuk turut menentukan siapa yang layak menjadi pengurus DTW,” ujar Nyoman Tengok, petani Jatiluwih.
Tak hanya itu, pria berusia 36 tahun ini juga meminta ada dari perwakilan petani yang masuk ke dalam pengurus DTW sehingga dapat membuat program.
Tengok menilai pengurus DTW saat ini kurang menunjukkan kepedulian terhadap nasib petani, padahal keberadaan DTW tidak terlepas dari kontribusi petani.
Seperti dijelaskan di atas, UNESCO menetapkan Desa Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia.
DTW sendiri dipercaya mengelola kawasan tersebut, termasuk penjualan tiket masuk.
Namun dalam perjalanannya, Tengok menyebut pengurus DTW saat ini tidak memperjuangkan kesejahteraan petani, terutama dalam hal pembagian hasil penjualan tiket.
“Pengurus sebelumnya berhasil memperjuangkan kenaikan jatah petani dari 45 persen menjadi 55 persen.
Tapi kami tidak tahu apakah sistem ini masih diterapkan.
Pengurus DTW sekarang kurang transparan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti minimnya dukungan DTW terhadap persoalan pertanian.
Subsidi pupuk organik dari pemerintah dinilai belum mencukupi, sehingga petani harus membeli pupuk dari pihak lain dengan harga tinggi, yang berujung pada kerugian.
“Secara moral, DTW seharusnya peduli terhadap persoalan pupuk.
Jika kami tidak bisa mengolah sawah secara optimal, maka daya tarik wisata Jatiluwih akan menurun, karena yang dijual adalah lanskap pertanian,” jelas Tengox.
Karena pendapatan yang minim, beberapa petani berinisiatif membuka warung di sekitar lahan untuk menambah penghasilan.
Namun, upaya tersebut justru mendapat hambatan dengan tuduhan melanggar zona hijau.
“Kami bahkan mendapat surat peringatan, dan DTW tidak membela kami.
Mereka hanya diam,” katanya.
Sebagai solusi, Wayan Tengok mengusulkan agar jatah 45 persen untuk Pemkab Tabanan dikurangi menjadi 10 persen.
Sisanya, yakni 35 persen, diusulkan untuk langsung diberikan kepada petani tanpa melalui DTW.
“DTW cukup menerima 55 persen, yang kemudian dibagi lagi kepada petani, desa adat, dan pihak lain.
Lakukan secara transparan agar semuanya jelas,” ujarnya.
“Kalau pembagian dari hasil menjual tiket lumayan, ditambah lagi hasil penjualan pertanian bagus, saya rasa warga tidak akan berjualan, fokus saja bertani,” pungkasnya.
(DID)
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Dapatkan Top 100 Weekly Brief Langsung ke Email Anda
Setiap Senin pagi: ranking terbaru brand & pemimpin Indonesia, tren industri, dan content angle yang bisa langsung dieksekusi.

Program Career Accelerator UNMAHA
Akselerasi karir global Anda lewat program Teaching Factory. Kuliah S1/D3 dengan jaminan penempatan kerja.
Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
Strategi Cerdas Menguasai Ekonomi Digital 2045 Melalui Prodi Informatika UNMAHA
Prabowo Subianto Dorong Penguatan Alutsista Domestik, Gandeng BUMN Strategis
Cara Strategis Membangun Kedaulatan Digital Melalui Pendidikan Spesifik Standar Global
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di bali
Semantic Authority Linker
Lanjutkan Literasi Strategis Anda