PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat realisasi produksi migas year-to-date hingga September 2026 sebesar 945 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD).
Angka itu terdiri dari produksi minyak 467 MBOPD dan gas 2.762 MMSCFD.
Di balik capaian tersebut, PHE hanya menambah cadangan terbukti (P1) sebesar 72 MMBOE, sementara temuan sumber daya contingent 2C mencapai 333 MMBOE—206 MMBOE minyak dan 127 MMBOE gas.
Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen menyebut capaian itu sebagai bukti komitmen perusahaan menjaga ketahanan energi nasional.
"Capaian positif hingga September 2026 ini menunjukkan komitmen kuat PHE dalam menjaga ketahanan energi nasional," ujarnya dalam pernyataan resmi, 2 November 2026.
Beban Sumur Tua dan Biaya yang Tak Terhindarkan
Karakteristik lapangan migas Indonesia yang didominasi sumur mature membuat laju penurunan produksi alami tinggi. Tanpa intervensi masif, level 945 MBOEPD sulit dipertahankan.
Di sinilah persoalan struktural mulai terlihat: setiap barel yang dipertahankan menuntut belanja operasional yang tidak kecil.
Pengeboran 443 sumur, workover 943 sumur, dan 22.585 pekerjaan well services adalah kombinasi yang menekan struktur biaya.
Bagi PHE sebagai subholding hulu, disiplin capital expenditure menjadi taruhan.
Bagi kontraktor pengeboran dan penyedia jasa well services, aktivitas tinggi ini justru menjadi multiplier ekonomi yang signifikan.
Gap Cadangan: Temuan 2C Menumpuk, Konversi ke P1 Lambat
Persoalan yang lebih mendasar terletak pada rasio penggantian cadangan.
PHE menemukan sumber daya contingent 2C sebesar 333 MMBOE, tetapi penambahan cadangan terbukti P1 hanya 72 MMBOE.
Artinya, sebagian besar temuan belum berhasil dimonetisasi menjadi cadangan yang siap diproduksikan.
Gap ini menjadi sinyal perlunya percepatan monetisasi lapangan baru.
Tanpa konversi yang cepat, replacement ratio PHE berpotensi tergerus seiring produksi tahunan yang terus berjalan.
Temuan 2C yang menumpuk tanpa plan of development (POD) yang berjalan cepat hanya akan menjadi angka di atas kertas. Eksplorasi Tetap Jalan, tapi Hasilnya Butuh Waktu
Sepanjang periode yang sama, PHE menyelesaikan 14 sumur eksplorasi serta survei seismik 2D sepanjang 3.320 km dan 3D seluas 4.197 km².
Aktivitas eksplorasi ini penting untuk menjaga pipeline temuan di masa depan. Namun, siklus dari temuan hingga produksi memerlukan waktu dan investasi panjang.
Di sisi kebijakan, PHE beroperasi di bawah pengawasan SKK Migas dan Kementerian ESDM.
Assessment Interaktif Cepat
Jawab 3 Pertanyaan & Skor Dihitung AI
Stabilitas produksi 945 MBOEPD berkontribusi pada penerimaan negara dari sektor migas (PNBP) dan mengurangi ketergantungan impor BBM.
Bila produksi gagal dijaga, tekanan pada neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah berpotensi meningkat.
Hal ini sejalan dengan laporan SKK Migas Sebut UEA Kirim 30 Juta Barel Minyak ke RI Gratis Ongkir yang menunjukkan dinamika pasokan energi regional turut memengaruhi posisi Indonesia.
Efisiensi Operasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Menambah Sumur
Hermansyah menegaskan perusahaan akan terus mengoptimalkan kegiatan produksi, eksploitasi, serta perawatan sumur.
"Kami akan terus mengoptimalkan kegiatan produksi, eksploitasi, serta perawatan sumur untuk memastikan target operasional hingga akhir tahun 2026 dapat tercapai secara maksimal dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan kerja," katanya.
Namun optimasi tidak bisa hanya berarti menambah volume pekerjaan.
Digitalisasi well surveillance dan predictive maintenance menjadi jalan untuk menekan biaya workover dan well services tanpa mengorbankan keselamatan kerja.
Efisiensi operasi akan menentukan apakah level 945 MBOEPD bisa dipertahankan hingga akhir 2026. Tiga Langkah yang BERNAS Soroti
BERNAS merekomendasikan percepatan monetisasi temuan 2C menjadi P1 melalui fast-track Plan of Development dan insentif fiskal untuk lapangan marginal. Langkah ini penting agar replacement ratio PHE tidak terus tergerus.
Kedua, digitalisasi dan otomasi well surveillance serta predictive maintenance perlu diperluas untuk menekan biaya intervensi sumur.
Ketiga, penguatan kemitraan dengan SKK Migas dan Kementerian ESDM dalam skema enhanced oil recovery dan pemanfaatan seismik 4D perlu didorong agar produksi jangka panjang tetap terjaga.
Persoalan hulu migas bukan sekadar soal berapa barel yang berhasil diproduksi hari ini.
Yang lebih menentukan adalah seberapa cepat temuan hari ini berubah menjadi cadangan terbukti dan produksi riil di masa depan.
Tanpa itu, capaian 945 MBOEPD hanya menjadi angka sementara yang rapuh terhadap natural decline.
[STRATEGI SOLUSI]
Bagi pelaku industri hulu migas yang ingin mempercepat transformasi operasional dan monetisasi lapangan, BERNAS menyediakan layanan Consulting Business Plan untuk penyusunan roadmap transformasi digital berbasis AI—mulai dari diagnosa peluang, rekomendasi tools, hingga rencana eksekusi terukur.
Untuk penguatan kapasitas tim, program Training NLP + Vibecoding + AI membantu peserta membangun sistem otomasi nyata dari ekosistem sendiri sebagai studi kasus hidup.
Sementara Adolo—Business Model Automation 5.0—memetakan bagian bisnis yang bisa berjalan tanpa kehadiran pemiliknya lalu mengotomatiskannya satu per satu.
Untuk kebutuhan publikasi dan jangkauan brand di sektor energi, Jasa SEO & Ads BERNAS menyediakan audit teknis, optimasi kata kunci, dan placement media.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui portal BERNAS.
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari PHE Produksi Migas 945 Ribu Barel per Hari, tapi Cadangan P1 Cuma Naik 72 MMBOE?
PT Pertamina Hulu Energi mencatat produksi 945 MBOEPD hingga September 2026.
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




