Harga daging sapi di Pasar Gondangdia berada di level Rp150.000 per kilogram. Angka ini naik sekitar Rp20.000 per kg dari kisaran normal Rp130.000 per kg sejak Lebaran.
Kondisi ini memberatkan konsumen rumah tangga yang harus membayar lebih untuk protein hewani. Pedagang Emus mengatakan harga daging sapi kini sudah tergolong mahal. Tekanan Harga Merambat ke Ayam dan Telur
Tekanan harga tidak hanya terjadi pada daging sapi. Pedagang ayam potongan, Mutia (25), mengaku harga masih tergolong mahal meski sudah turun. "Mahal.
Mahal, tapi ya turun dikit, tapi enggak banyak," ujar Mutia, seperti dikutip dari pantauan Liputan6.com.
Berdasarkan pantauan yang sama, harga daging ayam berada di rentang Rp40.000 hingga Rp46.000 per kg.
Ayam ukuran terbesar dijual Rp55.000 sampai Rp60.000 per ekor, sedangkan ayam ukuran terkecil Rp30.000 hingga Rp35.000 per ekor.
Untuk ayam potongan bagian, harganya berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000.
Sementara itu, pedagang telur, Asep (26), menyatakan harga telur saat ini Rp28.000 per kg. "Murah, tapi lagi naik," kata Asep.
Artinya, seluruh komoditas protein hewani utama tengah mengalami tekanan harga secara simultan. Daya Beli Rumah Tangga di Titik Rawan
Kenaikan yang tidak kunjung normal sejak Lebaran mengindikasikan adanya gangguan pada rantai pasok atau struktur biaya produksi peternakan.
Kondisi ini diperparah dengan harga ayam yang masih mahal dan telur yang mulai naik, sehingga ruang substitusi bagi konsumen menjadi terbatas.
Dampaknya dirasakan langsung oleh konsumen rumah tangga yang harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli protein hewani.
Pedagang kecil di pasar tradisional juga terdampak karena volume penjualan berpotensi menurun seiring daya beli masyarakat yang tergerus.
Persoalan harga pangan bukan isu tunggal.
Seperti yang dibahas dalam artikel Harga Tanah di Indonesia Makin Mahal: 8 Penyebab dan Data BPS 2025, tekanan biaya struktural memang tengah menekan berbagai sektor kebutuhan dasar masyarakat.
Tiga Langkah Strategis yang Bisa Diambil
Menghadapi situasi ini, diperlukan langkah nyata agar tekanan harga tidak berlanjut.
Pertama, digitalisasi rantai pasok daging sapi melalui platform pelacakan harga real-time di pasar tradisional untuk mendeteksi anomali harga lebih dini.
Kedua, penguatan sistem logistik rantai dingin untuk mengurangi biaya distribusi dan susut pasca-panen ternak.
Ketiga, program diversifikasi protein berbasis komunitas yang mendorong konsumsi sumber protein alternatif terjangkau seperti ikan dan tempe, disertai edukasi gizi.
Assessment Interaktif Cepat
Jawab 3 Pertanyaan & Skor Dihitung AI
Selain itu, diperlukan koordinasi lintas lembaga untuk memastikan stabilitas pasokan ternak nasional, termasuk evaluasi kebijakan impor dan penguatan peternak lokal.
Tanpa intervensi yang terukur, inflasi pangan berpotensi menekan konsumsi rumah tangga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik, terutama di sektor ritel pangan.
Belajar dari Pola Harga yang Berulang
Pola kenaikan harga pangan yang berulang setiap periode Lebaran menunjukkan persoalan ini bukan sekadar gejolak musiman. Diperlukan perencanaan pasokan yang lebih matang menjelang periode-periode puncak permintaan.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu membangun sistem peringatan dini terhadap potensi lonjakan harga.
Langkah ini sejalan dengan pembahasan dalam Strategi Revolusioner Menjembatani Kesenjangan Skill Era Remote Global yang menekankan pentingnya sistem berbasis data dalam pengambilan keputusan.
Bagi konsumen, strategi paling rasional saat ini adalah menyesuaikan pola belanja dan mempertimbangkan sumber protein alternatif.
Sementara bagi pedagang, diversifikasi dagangan dapat menjadi bantalan menghadapi fluktuasi harga. Menanti Stabilisasi Harga yang Nyata
Harga daging sapi di Pasar Gondangdia yang bertahan di Rp150.000 per kg pada 21 September 2026 mencerminkan tekanan inflasi pangan yang masih dirasakan masyarakat.
Kenaikan sejak Lebaran yang tidak kunjung normal menandakan adanya gangguan pada rantai pasok atau struktur biaya produksi peternakan.
Sebagaimana diulas dalam Harga Emas Antam Senin Turun Rp10.000 ke Rp2.628.000 per Gram, pergerakan harga komoditas memang dinamis, namun untuk pangan, dampaknya langsung terasa di meja makan keluarga Indonesia.
Stabilisasi harga pangan bukan hanya soal angka di pasar, tetapi soal memastikan setiap keluarga tetap bisa mengakses protein hewani yang cukup.
Diperlukan komitmen nyata dari semua pihak untuk memastikan hal itu terwujud. STRATEGI SOLUSI
Persoalan rantai pasok pangan menuntut pendekatan berbasis data dan otomasi.
BERNAS menyediakan layanan yang relevan bagi pelaku usaha pangan, koperasi, dan pemda yang ingin membangun sistem pemantauan harga dan distribusi yang lebih cerdas.
Melalui Consulting Business Plan, tim kami membantu menyusun roadmap transformasi digital berbasis AI: diagnosa peluang, rekomendasi tools, hingga rencana eksekusi terukur.
Untuk kebutuhan distribusi informasi dan kampanye program pangan, JasaPromo.id menyediakan distribusi rilis pers dan amplifikasi ke jaringan media nasional terverifikasi.
Bagi yang ingin membangun sistem digital siap pakai, Website Cash Machine (WCM) menawarkan template, SOP, dan pendampingan agar mitra bisa menjual jasa website dengan cepat.
Sementara Adolo — Business Model Automation 5.0 memetakan bagian bisnis yang bisa berjalan tanpa kehadiran pemiliknya, lalu mengotomatiskannya satu per satu.
Mari bangun ketahanan pangan dengan data yang bekerja untuk rakyat.
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Harga Daging Sapi di Pasar Gondangdia Rp150.000 per Kg?
Harga daging sapi di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, masih bertahan di Rp150.000 per kg pada 21 September 2026. Kenaikan sekitar Rp20.000 per kg sejak Leb
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.




