Akademisi: Pendidikan Tak Cukup Ikuti Industri 4.0, Saatnya Lompat ke Leadership 6.0

JAKARTA, BERNAS.ID – Akademisi, Ir.
Tri Atmodjowati, M.M., menegaskan pentingnya memahami keterkaitan antara evolusi industri dan evolusi kepemimpinan sebagai kunci menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat.
Menurutnya, perkembangan industri dari era mesin uap hingga kecerdasan buatan (AI) tidak pernah terjadi secara terpisah.
Setiap lompatan teknologi selalu diikuti perubahan dalam cara manusia memimpin.
Namun, ia mengingatkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu berjalan selaras.
“Masih banyak organisasi yang sudah masuk era Industri 4.0, tetapi pola kepemimpinannya tertinggal.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Bayar Setelah Kerja!
Program S1/D3 di UNMAHA dengan Income Sharing Agreement. Tanpa biaya kuliah, bayar 15% dari gaji setelah bekerja.
Daftar Sekarang — Gratis →Bahkan ada institusi pendidikan yang berbicara soal AI, tetapi masih membentuk manusia dengan cara lama,” kata Rektor Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) itu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga : Leadership 6.0 Jadi Kunci Hadapi Era AI, Akademisi: Pemimpin Harus Naik Level Kesadaran
Ia menilai, kesalahan terbesar saat ini adalah mengadopsi teknologi modern tanpa diiringi perubahan pola pikir.
Akibatnya, terjadi ketimpangan antara kemajuan eksternal dan kesiapan internal.
Tri menekankan bahwa perubahan industri harus diimbangi transformasi kepemimpinan.
Tanpa itu, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan, bukan menciptakan kemajuan yang merata.
Warta Pilihan Redaksi:
Mengenal Phygital Ecosystem: Masa Depan Media & Ekonomi Kreatif“Kecepatan perubahan di luar harus diimbangi dengan kedalaman perubahan di dalam.
Ini bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi soal kesadaran,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti peran strategis dunia pendidikan dalam menghadapi transisi dari Industri 4.0 menuju 5.0.
Ia menilai kampus tidak boleh hanya berfokus mengejar perkembangan teknologi, tetapi harus berani melakukan lompatan besar.
“Pendidikan tidak bisa berhenti di 4.0.
Ia harus melompat ke 6.0, yakni membentuk manusia yang utuh, bukan sekadar tenaga kerja,” tegasnya.
Baca Juga : Menakhodai Era Symbiotic Leadership, Dunia Butuh Leadership 6.0
Dalam pandangannya, pendidikan masa depan harus melampaui transfer ilmu dan keterampilan teknis.
Kurikulum perlu diarahkan pada pembentukan karakter dan kesadaran, dengan menekankan tiga aspek utama: makna (meaning), kreativitas (creativity), dan kewirausahaan (entrepreneurship).
Ia juga mengingatkan bahwa kehadiran AI bukan ancaman, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan kesiapan.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu dipersiapkan untuk hidup berdampingan dengan teknologi, bukan melawannya.
Ada tiga fondasi penting yang harus dibangun, yakni kemampuan membangun personal branding, keterampilan problem solving, dan pola pikir adaptif.
“AI bisa memberi jawaban, tetapi manusia harus mampu merumuskan pertanyaan.
Di situlah letak keunggulan manusia,” jelasnya.
Tri menegaskan, tanpa memahami alasan mendasar dari setiap perubahan (“the big why”), institusi pendidikan hanya akan menjadi pengikut tren.
Sebaliknya, dengan pemahaman yang utuh, pendidikan dapat menjadi pengarah masa depan.
Ia menutup dengan penekanan bahwa kepemimpinan masa depan atau Leadership 6.0 tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjalanan panjang evolusi, dari kontrol, sistem, manusia, hingga kesadaran.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia berubah.
Tetapi, apakah kita siap berubah bersama dunia, atau bahkan melampauinya,” pungkasnya. (DID)
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Income Sharing Agreement
Tidak perlu bayar uang kuliah! Kuliah S1/D3 di UNMAHA, kampus pencetak pengusaha. Bayar hanya 15% dari gaji setelah Anda bekerja.

Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
UNMAHA Gelar Wisuda Program Sarjana 2025/2026, Serapan Kerja Tembus 95 Persen
Anak SD Bunuh Diri, Malika : Saatnya Negara Jadikan Isu Kesenjangan Pendidikan Sebagai Fokus Utama
UNMAHA Perkuat Kerja Sama Industri dan Global, Lulusan Sistem Informasi 95 Persen Sudah Bekerja
Atmosfir Akademik Tercipta Kuliah di Program Pascasarjana Universitas Borobudur
3 Ribu Siswa SMK Pemasaran Terbukti Lebih Tahan Banting Lewat Program Kolaborasi Kemendikdasmen–DUDI
160 Siswa SD/MI DIY Bersaing di Final PRASTANTION 2026 di SMPN 4 Pakem, Siap Hadapi TKA
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di pendidikan
Semantic Authority Linker
UNMAHA Gelar Wisuda Program Sarjana 2025/2026, Serapan Kerja Tembus 95 Persen
Anak SD Bunuh Diri, Malika : Saatnya Negara Jadikan Isu Kesenjangan Pendidikan Sebagai Fokus Utama
UNMAHA Perkuat Kerja Sama Industri dan Global, Lulusan Sistem Informasi 95 Persen Sudah Bekerja
Bandung Unggul Digital: Strategi Emas Meraih Peluang Remote Global
Mengurai Benang Kusut Internet Surabaya: Strategi Cerdas Akses Merata untuk Produktivitas Optimal
3 Prajurit Gugur di Lebanon Disebut Layak Jadi Pahlawan Nasional
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Lanjutkan Literasi Strategis Anda