JAKARTA, HarianBernas.com— Bagi Anda yang aktif di organisasi kepemudaan atau senang mengikuti perkembangan dunia politik, pasti tidak asing dengan nama tokoh satu ini. Soe Hok Gie, bukan warga pribumi asli, namun suara dan kiprahnya dalam mencintai tanah air tak kalah atau bahkan melebihi yang berdarah pribumi sekalipun.
Untuk generasi yang lebih muda, Soe Hok Gie, atau lebih sering disebut Gie dikenal ketika kisahnya diangkat ke sebuah layar lebar pada tahun 2005 oleh sutradara muda berbakat Riri Riza. Tak tanggung-tanggung, Gie pun diperankan oleh aktor watak multitalenta, Nicholas Saputra.
Sejak saat itu, banyak orang yang penasaran, mencari tahu siapa sebenarnya Soe Hok Gie. Buku-buku karyanya pun mulai diminati dan diterbitkan kembali.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
Soe Hok Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 dan meninggal sehari sebelum usianya menginjak 27 tahun, yaitu pada 16 Desember 1969.
Gie adalah aktivis pada jaman pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Ia adalah seorang etnis Tionghoa. Profesi utamanya adalah seorang dosen di Fakultas Indonesia, Jurusan Sejarah.
Tempat yang sama dimana ia menuntut ilmu dan aktif menyuarakan kebenaran dan mengkritisi pemerintah.
Suaranya tersebut ia dengungkan melalui tulisan. Ya, Gie sangat aktif menulis di berbagai surat kabar bahkan sejak ia masih menjadi mahasiswa. Kompas, Sinar Harapan, Harian Kami, Indonesia Raya, dan Mahasiswa Indonesia adalah media-media yang menampung artikel-artikel karya Gie.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Yang paling dikenal tentang sosok Gie selain lewat tulisan adalah keaktifannya melakukan demonstrasi. Pada tahun 1983, buku hariannya pun diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi tentang opini dan pengalamannya terhadap aksi demontrasi.
Gie adalah tokoh muda pada zamannya yang gigih bergulat melawan tirani penguasa.
Banyak yang menyayangkan Gie meninggal dunia di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, tampaknya inilah yang diinginkan Gie.
Hal ini tampak pada tulisan yang ditemukan di buku hariannya, ia pernah menyalin pendapat seorang filsuf Yunani:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.
Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Usia adalah rahasia Tuhan. Sebuah pemberian yang tak mungkin bisa diperkirakan oleh manusia.
Selama pemberian itu masih kita terima tentu menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya serta bermanfaat bagi sesama adalah hal yang wajib kita lakukan.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya

