Bernas.id ? Harga minyak melonjak sekitar 2% dan menetap pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman pada bulan April naik US$1,22 atau 2,1% menjadi US$60,56/barel, sedangkan untuk harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik ke level US$1,22 atau 2% menjadi US$57,87/barel.
Dalam sepekan ini, harga minyak mentah berjangka AS melonjak hingga ke level 8,9%.
Hal tersebut , merupakan presentase kenaikan terbesar sejak Oktober 2020. Sementara itu, harha minyak mentah Brent naik ke level 7,8% untuk minggu ini.
Arab Saudi menjanjikan pemotongan pasokan tambahan pada Februari dan Maret yang disusul dengan pengurangan oleh anggota-anggota lain dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya. Sebagai tanda, selisih Brent 6 bulan terakhir mencapai level tertinggi US$2,54 pada Senin (8/2/2021).
Ekonom OCBC, Howie Lee, mengatakan eksportir utama dunia Arab Saudi mengirimkan 'sinyal yang sangat bullish' ketika mempertahankan harga minyak mentah tidak pernah berubah meski ada ekspektasi untuk pemotongan kecil.
Seperti yang dikatakan Ameica Petroleum Institute, bahwasannya persediaan minyak serta bahakn bakar lebih rendah pada minggu ini.
Untuk selanjutnya, pemotongan sukarela pasokan minyak sebesar 1 juta/hari oleh pemimpn de facto OPEC, Arab Saudi, akan dilaksanakan pada awal Februari hingga Maret 2021.
Sementara, produksi Rusia akan diingkatkan pada Januari, sejalan dengan fakta OPEC+, Dan di Kazakhstan, volume minyak turun pada bulan tersebut.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, mengatakan bahwa Amerika Serikat dapat kembali ke pekerjaan penuh pada atahun 2022 jika Komres memberlakukan paket bantuan Covid-19 sebesar US$1,9 triliun dari Presiden Joe Biden.
Yellen menyatakan pada Kongres AS saat pengesahakn resolusi anggaran, sebuah langkah kecil yang memungkinkan Demokrat untuk dapat mendorong paket bantuah Biden tanpa dukungan dari Partai Republik.
Harapan bahwa ekspor minyak Iran akan segera kembali ke pasar juga telah berkurang. Hal ini memberikan dukungan tambahan terhadap harga minyak.
Presiden AS, Joe Biden, mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran hanya demi mengembalikannya ke meja perundingan, sementara Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan bahwa semua sankasi harus dicabut terlebih dahulu.
Berdasarkan analisa dari Pasar Senior OANDA, Edward Moya, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak juga dipicu oleh kesepakan negera produsen membatasi pasokan. Kondisi tersebut membuat fundamental harga minyak semakin solid. ?Brent sekarang sedang membidik level US$60/barel karena OPEC+ telat berhasil meredakan sebagian besar kekhawatiran sisi pasokan,? ujarnya.
OPEC+ menyepakati untuk membatasi pasokan pada pertemuan Rabu (3/2). Kondisi tersebut mendorong harga minyak global.
Sementara itu, Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen, menuturkan bahwa distribusi vaksin Covid-19 memberikan harapan pertumbuhan permintaan minyak.
Namun, pasar tetap menyadari bahwa konsumsi minyak belum bisa kembali normal seperti sebelum Covid-19.
?Apa yang benar-benar membantu pasar saat ini merupakan alasan yang lebih alid untuk kenaikan harga minyak, yakni datang dari Arab Saudi serta perusahaan top-nya, Aramco,? katanya.
Aramco menaikkan harga jual resmi (OSP) Arab Light ke Eropa Barat Laut untuk bulan Maret sebesar us$1,40/barel dari bulan sebelumnya. Hal ini menandakan Arba Saudi lebih percaya diri terkait prospek permintaan minyak sehingga memberikan sentimen positif untuk harga minyak. (ktv)

