Bernas.id – Apa yang Anda rasakan saat tengah berada di bawah rimbunnya pepohonan? Sejuk, bukan? Tapi tahukah Anda, bahwa bukan hanya karena rimbunnya daun dari pohon yang menghalangi sinar matahari mengenai tubuh kita yang membuat tubuh jadi tidak kepanasan?
Melainkan juga karena daun-daun hijau tersebut sangat berjasa menyerap energi panas sinar matahari dan mengubahnya menjadi oksigen bersih yang sangat dibutuhkan bagi pernapasan manusia melalui proses fotosintesis?
Pasti berbeda jika Anda berteduh di sebuah bangunan beratap seng pada siang hari yang terik. Karena seng terbuat dari bahan logam yang bersifat konduktor (penghantar) panas yang baik, maka sinar matahari yang jatuh justru akan diteruskan ke segala arah termasuk pada diri Anda yang berada di bawah naungannya. Tubuh kita akan tetap terasa kepanasan, sekalipun ada angin yang behembus.
Lalu bayangkanlah pada skala yang lebih besar.
Jika pembangunan di Kota Jakarta saat ini lebih banyak didominasi oleh gedung-gedung bertingkat dan rumah-rumah penduduk yang kurang memberi ruang bagi tumbuhnya pepohonan yang dapat melindungi kita dari paparan sinar matahari serta membantu menyediakan oksigen bersih bagi pernapasan, lalu bagaimana jadinya?
Belum lagi dengan adanya polusi udara yang dihasilkan dari pekatnya asap knalpot kendaraan bermotor.
Tentu bisa mengakibatkan kualitas kesehatan semua orang yang hidup di Jakarta jadi menurun, bukan?
Taman Margasatwa Ragunan (atau sering sebut sebagai Kebun Binatang Ragunan) merupakan aset kota Jakarta yang sangat berharga.
Tempat ini sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem di ibukota.
Berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota, lokasinya ada pada ketinggian kurang lebih 50 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan sekitar 2.300 milimeter.
Fungsi Taman Margasatwa Ragunan sangat penting. Tak hanya sebagai paru-paru kota dan area penyerapan serta penyimpanan cadangan air bagi kebutuhan masyarakat Jakarta, namun juga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana hiburan keluarga berbasis edukasi.
Apalagi harga tiket masuknya juga ekonomis alias sangat tejangkau.
Lahan seluas lebih dari seratus hektar yang dilengkapi aneka sarana bermain anak, taman luas, kandang-kandang berisi koleksi binatang menarik hingga aneka jenis koleksi pepohonan besar biasa dimanfaatkan pengunjung keluarga untuk menjalin kebersamaan yang harmonis.
Pagi hari, tempat ini juga banyak dimanfaatkan pengunjung untuk sekedar berolah raga.
Selain itu, Taman Margasatwa Ragunan juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat penelitian oleh berbagai pihak (peneliti, mahasiswa dan pelajar dari dalam maupun luar negeri) untuk melakukan aneka observasi serta kajian ilmiah (misalnya tentang perilaku satwa, reproduksi, pakan dan lainnya).
Juga sebagai taman konservasi bagi ratusan jenis spesies hewan dan tumbuhan yang sebagian besar diantaranya merupakan bagian dari kekayaan fauna dan flora khas Indonesia.
Sekarang luas area Taman Margasatwa Ragunan sudah berkembang (jika dibandingkan dengan saat pertama kali terbentuknya pada masa penjajahan Belanda), yaitu mencapai kurang lebih 147 hektar. Jumlah satwa yang dimiliki lebih dari 3.500 ekor. Fauna yang hidup ditempat ini terdiri dari kelas mamalia, kelas aves, kelas reptilian dan kelas pisces.
Sedangkan flora terdiri dari 171 jenis tumbuhan dari seluruh tanah air dengan jumlah mencapai 15.889 pohon (specimen).
Keseluruhannya sangat bermanfaat sebagai penghasil oksigen dan dapat mereduksi gas-gas karbon yang sangat berbahaya bagi manusia.
Selain itu aneka tanaman ditempat ini juga berfungsi sebagai penyerap air yang besar sebagai cadangan air tanah kota Jakarta dan sekitarnya.
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.




