Bernas.id – Masa liburan merupakan masa yang tepat untuk membangun kedekatan emosional dengan keluarga, terutama dengan anak. Orang tua yang biasanya sibuk, bisa mengamati perkembangan emosi anak selama liburan. Nah, di saat yang sama, orang tua pun bisa mencoba untuk meningkatkan kualitas literasi emosi anak.
Tidak setiap anak memiliki kemampuan untuk mengenali dan mengendalikan emosi.
Nah, orang tua bisa membantu anak bangun literasi emosi dengan 5 langkah mudah berikut.
1. Identifikasi berbagai emosi
Sering anak tidak mengerti kondisi emosi yang sedang mereka alami. Apakah mereka sedang marah atau kesal, sedih atau kecewa.
Orang tua bisa menunjukkan pada anak bagaimana gerak tubuh dan aksi mereka saat marah atau kesal. ?Duh, mukanya cemberut, lagi kesal, ya?? atau ?Sepertinya marah benar sampai harus berteriak?.
2. Penyebab timbulnya emosi
Di saat yang sama, orang tua bisa menyebutkan alasan anak dalam kondisi emosi. ?Duh, mukanya cemberut, kesal karena harus lama menunggu ya.? Atau, ?Kakak jadi diam nih, kecewa karena tidak diajak Bunda pergi ya??
Sehingga, anak akan paham bahwa emosi itu ada karena pemicunya.
3. Emosi yang sudah pernah dan akan terjadi
Orang tua juga bisa membangun literasi emosi dengan membahas emosi yang sudah pernah terjadi pada anak. ?Waktu itu Kakak menangis sedih kenapa? Karena DVD Doraemon rusak ya??.
Dengan ini, anak akan belajar kontemplasi dan berpikir kembali atas emosi-emosi mereka dan adakah solusi yang lebih baik daripada berlarut dalam emosi.
Lalu, orang tua juga bisa membahas apakah kira-kira anak akan bereaksi yang sama di masa depan. ?Nanti, kalau ada DVD yang rusak apa Kakak mau menangis lagi??
Anak pun akan memberikan solusi apa yang akan mereka lakukan untuk keluar dari belutan emosi.
4.
Aksi yang dilakukan saat emosi di luar kendali
Beberapa anak yang kemampuan literasi emosinya rendah, biasa mengalami tantrum atau ledakan emosi yang ditandai dengan berteriak, menangis, dan menjerit dalam waktu bersamaan. Penting bagi orang tua untuk tidak panik saat anak tantrum, terutama bila mereka melakukannya di tempat umum. Tunggu hingga anak selesai tantrumnya, lalu setelah mereka tenang, bicarakan tentang aksi yang sudah dilakukan anak saat emosinya diluar kendali.
5.
Kemungkinan konsekuensi yang harus dilakukan
Saat anak sudah tidak diliputi kendali emosi, waktunya orang tua untuk memberikan arahan, konsekuensi apa yang bakal mereka terima karena aksi yang mereka lakukan saat emosi. Anak biasa emosi saat ingin sesuatu. Sehingga anak perlu mendapatkan ketegasan bahwa membiarkan emosi mengontrol dirinya tidak akan membuat keinginannya tercapai.
Konsekuensi ini tidak hanya berupa teguran dan hukuman, tetapi juga berupa penghargaan dan pengakuan bila anak sudah mengendalikan emosi dengan baik.
Membentuk karakter anak dengan literasi emosi yang baik membutuhkan proses dan dedikasi yang tinggi. Apalagi bila selama ini literasi emosi tidak ditanamkan dengan baik. Namun, tidak perlu berkecil hati karena pada dasarnya setiap anak bisa berubah, asal orang tua bisa mengajarkan anak mengenali emosi, dan tetap sabar menghadapi anak-anak saat dilanda emosi.
Dengan kontrol dan literasi emosi yang baik, anak akan memiliki intelegensi emosional yang tinggi sehingga mudah diterima dalam pergaulan dan punya teman banyak.

