Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Masuk Angin, Hoax atau Fakta? Ini Penjelasannya

Oleh: Redaksi Bernas•18 Desember 2017
Masuk Angin, Hoax atau Fakta? Ini Penjelasannya
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Bernas id Seringkali pasien datang ke dokter dan menyatakan dirinya menderita masuk angin Bahkan serangan jantung koroner pun disalahartikan dengan masuk angin..."

🗓️ Dipublikasikan pada 18 Desember 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita kesehatan terbaru →

Bernas.id – Seringkali pasien datang ke dokter dan menyatakan dirinya menderita masuk angin. Bahkan, serangan jantung koroner pun disalahartikan dengan masuk angin duduk. Hmm, benarkah angin bisa masuk dan duduk?

Penyebutan masuk angin hanya ada di Indonesia, lho.

Gejala ini merujuk kepada sindrom (kumpulan gejala) seperti perut kembung, mual, keringat dingin, pusing, pegal-pegal, meriang, dan keluhan lain yang intinya tidak enak badan serta bersifat sangat subyektif.

Masuk angin bisa dicetuskan oleh kelelahan, terlambat makan, dan stres. Ketiga keadaan tersebut dapat menyebabkan meningkatnya akumulasi gas dalam saluran pencernaan.

Pada dasarnya angin tidak bisa masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit seperti disangkakan.

Sebab, apabila demikian adanya maka setiap orang yang kena paparan dingin atau angin pasti akan kemasukan angin. Akan tetapi pada kenyataannya tidak, bukan?

Angin atau suhu dingin pada individu yang rentan, akibat mengalami satu atau lebih dari faktor di atas menyebabkan beberapa hal sebagai berikut:

1.

Pembuluh darah menyempit (vasokonstriksi) dengan tujuan menghemat pengeluaran panas atau kalori dari organ-organ penting tubuh.

Dampaknya, peredaran darah menurun dan metabolisme pun terhambat. Sehingga nutrisi dan oksigen gagal disalurkan ke organ-organ tubuh.

Beberapa efeknya adalah kepala pusing, badan pegal-pegal, dan keringat dingin.

2. Saraf yang memelihara usus menyampaikan berita untuk rehat. Ini berarti peristaltik atau gerak ritmis usus terhenti.

Secara signifikan berhentinya gerak usus membuat gas yang memang mengisi rongga perut semakin bertambah. Udara (gas) tidak lagi memenuhi rongga perut, seperti sunah Rasul.

Bisa lebih dari setengah bagian, mengambil porsi makanan dan atau minuman.

Hal ini menyebabkan kembung. Distensi perut berlebih (ibarat balon ditiup) bisa mengakibatkan mual bahkan muntah.

3. Rambut getar yang melapisi dinding saluran pernapasan bergerak melambat.

Bisa dibayangkan apabila ada agen infeksius atau debu mampir akan sulit dibersihkan hingga memicu menumpuknya lendir serta benda asing.

Keadaan tersebut membuat saluran pernapasan rentan infeksi. Jadilah infeksi saluran pernapasan.

Kalau begitu, masuk angin sendiri hoax atau fakta, ya?

Setelah kita memahami mekanisme di atas, tentu saja hoax.

Namun, gejala yang terjadi benar sering kita alami. Yang hoax adalah penamaannya saja. Dalam istilah medis, sindrom ini disebut malaise bukan enter wind (masuk angin).

Untuk penyakit jantung koroner sering disalahartikan dengan sebutan angin duduk, karena gejalanya yang nyaris sama dengan malaise ini.

Hanya saja, jantung koroner terasa lebih menyakitkan di dada. Mungkin karena demikianlah disebut angin ?yang? duduk.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram