Bernas id – Sering kita mendengar ungkapan ?Aku galau!? pada orang-orang yang meratap kebingungan. Galau merupakan sebuah keadaan yang membuat hati dilema untuk memilih satu dari sekian pilihan. Perasaan resah, gelisah, penuh kebingungan sering muncul saat seseorang merasakannya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya perasaan galau, di antaranya:
1.
Faktor Internal
Perasaan galau muncul akibat faktor dari diri sendiri. Misalkan karena terlalu berharap akan sesuatu, terlalu berangan-angan atau terlalu ambisius mencapai sesuatu tujuan. Kenyataannya apa yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.
Jika diibaratkan, saat itu perasaan melangit, namun kenyataan membumi. Seolah jatuh dari ketinggian hingga menciptakan ketidakpercayaan atas apa yang terjadi.
2. Faktor Eksternal
Perasaan galau muncul akibat faktor dari luar misalkan keadaan yang mendesak, lingkungan yang memaksa untuk mengambil keputusan secara cepat dan faktor eksternal lainnya.
Pada keadaan seperti ini biasanya kegalauan muncul disertai rasa tertekan.
Perasaan galau yang muncul akibat faktor eksternal biasanya memunculkan sifat ragu-ragu dalam bertindak, tidak bisa berfikir jernih dan tenang.
Sifat galau bisa terjadi pada siapapun, anak-anak, remaja dan dewasa. Biasanya ungkapan galau sering terdengar dari mulut para remaja.
Apalagi jika sudah bicara tentang cinta. Pilih pacar, galau. Mau mutusin pacar, galau.
Liat pacar jalan sama orang lain, galau. Padahal itu semua bukan masalah besar. Kalo liat pacar jalan sama orang lain cari lagi aja pacar yang lain.
Dan keputusan paling bijak adalah tidak pacaran sebelum menikah.
Fenomena galau karena jatuh cinta di kalangan remaja sudah sangat memprihatinkan. Sebuah media pernah memberitakan seorang pelajar SMA bahkan SMP bunuh diri karena diputuskan oleh pacarnya. Perasaan galau bisa berdampak besar, bahkan mengakibatkan frustrasi hingga depresi.
Jika bicara masalah perasaan, kita perlu bicara bicara dari hati ke hati.
Dear, bisa jadi kegalauan tersebut terjadi karena keimanan kita sedang berada di titik terendah. Kita jauh dari agama, norma hidup dan aturan baku yang ada di masyarakat.
Maka introspeksi diri adalah cara bijak yang perlu dilakukan.
Dan ingatlah bahwa segala sesuatu sudah ada nasib, jalan dan takdirnya masing-masing. Syukuri dan nikmati apa yang ada di hadapan kita.

