HarianBernas.com – Kondisi domestik di negara Gambia sedang tidak menentu. Penyebabnya adalah karena Yahya Jammeh selaku presiden Gambia sejak tahun 1996 menolak untuk turun kendati hasil pemilu presiden pada bulan Desember lalu menunjukkan kalau pemilu dimenangkan oleh Adama Barrow.
Jammeh awalnya mengakui kekalahannya setelah hasil perhitungan suara pertama kali diumumkan. Namun hanya berselang sepekan kemudian, Jammeh menolak mengakui hasil pemilu dan menuding kalau pelaksanaan pemilu tersebut dipenuhi oleh kecurangan.
Partai asal Jammeh juga sudah mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung, namun peradilan tidak bisa dilaksanakan karena jumlah hakim di Mahkamah Agung tidak memenuhi standar minimum konstitusi.
ECOWAS selaku organisasi regional Afrika Barat sudah turun tangan untuk membantu memfasilitasi pembicaraan antara Jammeh dan Barrow. Namun belum ada tanda-tanda kalau krisis politik di Gambia bakal segera berakhir. Sekarang Barrow diberitakan sedang berada di Senegal sejak hari Sabtu untuk menjaga keselamatannya hingga upacara pelantikan presiden pada tanggal 19 Januari nanti digelar.
Semakin dekatnya tanggal pelantikan dan masih enggannya Jammeh untuk merelakan kursi presiden lantas membuat ECOWAS mulai mempertimbangkan opsi militer untuk menggulingkan Jammeh secara paksa.
Nigeria dikabarkan sudah mempersiapkan pasukan berjumlah 800 personil untuk dikirim ke Gambia jika Jammeh enggan melakukan transisi pemerintahan secara damai.
Kian tidak menentunya kondisi Gambia turut dirasakan oleh penduduk negara yang bersangkutan. Ribuan penduduk Gambia dikabarkan sudah mengungsi ke Senegal yang berbatasan langsung dengan Gambia jika konflik antara pasukan pendukung Jammeh dengan pasukan negara-negara Afrika Barat benar-benar meletus.

