Yogyakarta, HarianBernas.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta bersama Badan Tenaga Nulkir Nasional (BATAN) Yogyakarta mengadakan gladi lapangan penanggulangan bencana kegagalan teknologi nuklir, Rabu (31/8).
Krido Suprayitno, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyebut latar belakang kegiatan gladi lapangan penanggulangan bencana itu perlu dilakukan. Alasannya, karena DIY memiliki Instalasi Nuklir BATAN di Jalan Babarsari, Sleman.
“Meskipun dirancang, dibangun, dioperasikan sesuai standar keselamatan, baik nasional maupun internasional, tapi tidak mungkin menihilkan risiko kecelakaan,” jelas dia.
Penguatan ketangguhan dalam kedaruratan karena kegagalan teknologi nuklir sangat penting karena bencana yang diakibatkan memerlukan penanganan spesifik dan khusus. Kegiatan itu akan meningkatkan kemampuan perorangan ataupun satuan tugas untuk melaksanakan prosedur taktis dan teknis tanggap darurat bencana.
Tanggal 10 September 2016 itu, gladi lapangan penanggulangan bencana kegagalan teknologi nuklir akan digelar.
Kegiatan itu akan melibatkan 500 personel dari berbagai instansi, yaitu Kodim, Polres Sleman, tokoh masyarakat, LSM, BPBD Sleman dan DIY, Korem 072 Pamungkas, BMKG, Polda DIY, Lanud Adisutjipto, pelaku usaha, SKPD Kabupaten Sleman, serta kalangan perhotelan dan perguruan tinggi.
Sementara itu, Susilo Widodo, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator BATAN menjelaskan sejak tahun 1979, Yogyakarta memiliki reaktor nuklir “Kartini” dengan daya 100 kilowatt (kw) untuk riset dan pendidikan.
“Jika sampai terjadi kegagalan, rilis radioaktif akan menjangkau 50 meter dari reaktor,” jelas dia.
Dari sisi ketangguhan bangunan, Reaktor Kartini akan mampu menahan gempa dengan asumsi percepatan gempa mencapai 0,3 g (gravitasi). Banyak bangunan perhotelan, permukiman, hingga perguruan tinggi di kawasan Jalan Babarsari, Sleman menandakan bahwa keberadaan reaktor itu aman dan tidak menimbulkan kekhawatiran.
Namun, pihaknya menyadari kemungkinan risiko terjadinya kegagalan teknologi nuklir itu, Batan Yogyakarta telah menyusun Rencana Kontijensi Ancaman Bencana Kegagalan Teknologi Nuklir di kawasan nuklir Yogyakarta sebelum BNPB berdiri pada 2008.

