NTB Digempur Teknologi, Tapi Kenapa Kemiskinan Masih 13%? Alkimia Data Membongkar Paradox Digital Mandalika!
Mataram, 24 Mei 2024.
Bayangkan Anda berdiri di tengah kemegahan aspal Mandalika, namun untuk memasarkan hasil panen jagung saja, Anda masih harus bergantung pada tengkulak karena tak paham cara menggunakan aplikasi marketplace.
Inilah potret nyata penderitaan warga di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terhimpit di antara ambisi menjadi pusat teknologi dan kenyataan pahit di lapangan.
Ribuan pelaku UMKM di pelosok Lombok hingga Sumbawa seolah berteriak dalam diam, terjepit oleh infrastruktur digital yang ada tapi tak terjamah oleh kapasitas intelektual yang memadai.
Mereka melihat sinyal 4G di ponselnya, namun hanya berakhir untuk sekadar hiburan receh, bukan sebagai alat pengungkit ekonomi yang transformatif.
Penderitaan ini bukan sekadar narasi sedih, melainkan kegagalan sistemik dalam menerjemahkan data menjadi kemakmuran nyata bagi masyarakat akar rumput.
Kita harus bertanya dengan tajam, apa sebenarnya yang dilakukan oleh para pemangku kebijakan di NTB untuk menjembatani jurang lebar ini?
Mari kita tantang Lalu Gita Ariadi atau jajaran Dinas Kominfo NTB: Diapakan data kesenjangan digital ini agar benar-benar menjadi 'emas' bagi rakyat?
Apakah program digitalisasi selama ini hanya bersifat seremonial atau sudah menyentuh kebutuhan mendasar petani di Dompu dan nelayan di Lombok Timur?
Sejauh mana pemerintah daerah berani menjamin bahwa investasi teknologi akan berdampak langsung pada isi dompet warga, bukan hanya mempercantik laporan presentasi di atas meja kerja?
Publik butuh bukti, bukan sekadar janji manis tentang 'Smart Province' yang terasa hambar di perut yang lapar.
Warta Pilihan Redaksi:
Mengenal Phygital Ecosystem: Masa Depan Media & Ekonomi KreatifData BPS menunjukkan kenyataan yang menampar wajah kita semua: tingkat kemiskinan di NTB masih bercokol di angka 13,02%, jauh di atas rata-rata nasional.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi wilayah ini hanya bergerak di angka 2,00%, sebuah angka yang sangat kontradiktif dengan narasi percepatan ekonomi digital.
Kesenjangan ini menjadi ancaman langsung terhadap pilar keempat 'ASTA CITA' yang dicanangkan pemerintah pusat, yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, dan teknologi.
Jika NTB gagal mengonversi teknologi menjadi alat pengentas kemiskinan, maka target Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur di tanah para petualang.
Dengan tingkat pengangguran terbuka yang masih berada di angka 2,80%, ada potensi ledakan sosial jika talenta lokal terus-menerus hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
Alkimia data membuktikan bahwa tanpa intervensi pendidikan teknologi yang radikal, kemiskinan 13% ini akan menjadi warisan abadi yang memalukan.
Bagaimana mungkin sebuah wilayah dengan daya tarik internasional seperti NTB masih harus bergelut dengan angka kemiskinan dua digit di era AI?
Apakah kita akan terus membiarkan rakyat NTB memegang smartphone canggih hanya untuk meratapi nasibnya sendiri?
Kepada para pengambil kebijakan, apakah Anda punya keberanian untuk mengubah strategi lama yang gagal ini, atau Anda lebih memilih nyaman dalam statistik yang stagnan?
Dialog publik harus dimulai sekarang, sebelum emas yang kita impikan berubah menjadi debu kesia-siaan.
Analisa Data Eksklusif oleh TIM NATIONAL DATA ALCHEMIST BERNAS
Rangkuman Warta Terkait
Lanjutkan Literasi Strategis Anda



