SLEMAN, BERNAS.ID – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono merasa miris Indonesia belum menjadi juara dalam budidaya perikanan. Menurutnya, sampai saat ini, belum ada ikan yang berhasil memasok kebutuhan luar negeri minimal Asia.
Ia mencontohkan Negara Vietnam yang mampu mencukupi kebutuhan ikan patin di Timur Tengah. Kemudian, Negara Norwegia dengan produk Ikan Salmonnya yang mendunia.
Untuk itu, ia memerintahkan kepada jajarannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membuat program jangka panjang terkait budidaya ikan.
Jenis ikan yang ditarget ada 5 jenis, yaitu udang, lobster, kepiting, rumput laut, dan ikan nila tilapia.
“Lima ini saja salah satu bisa menjadi juara maka Indonesia akan maju. Tapi, membutuhkan komitmen yang kuat dilaksanakan secara hulu hilir seperti penyediaan pakan secara mandiri,” tuturnya saat membuka Rapat Kerja Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Senin (27/2/2023).
Baca Juga Bappebti Imbau Masyarakat Waspadai Perdagangan Aset Kripto
Ia pun meminta kepada seluruh pihak yang terlibat untuk bisa konsisten mengembangkan kelima jenis ikan itu selama 10 tahun ke depan. “Kita fokus konsisten bisa betul-betul mengembangkan perikanan agar lima-limanya ini kuat dalam 10 tahun maka kita akan menjadi juara,” ucapnya.
“Harapannya, dengan program tersebut, di masa yang akan datang, Indonesia bisa menjadi salah satu penyumbang di dunia pada sektor perikanan,” imbuh Menteri KKP.
Untuk itu, ia mencanangkan program guna menjaga ketahanan pangan di sektor perikanan. Program yang pertama, perluasan konservasi laut yang tertutup untuk bisa konsisten terus dijaga. “Sebagai daerah pemijahan ikan yang alami untuk memenuhi protein masyarakat sehingga masyarakat harus bisa ikut menjaga.
Selain itu sebagai lokasi produksi oksigen dan serapan karbon,” tuturnya.
“Program kedua, penangkapan ikan harus dijaga supaya populasi ikan terjaga. Salah satunya dengan kuota, seberapa besar ikan yang bisa diambil di laut dengan dipayungi regulasi yang tepat. Indonesia saat ini dibagi dalam 6 zona.
Arafura, menjadi zona 3 diterapkan tahun ini,” imbuh Menteri KKP.
Baca Juga Kemendag Sebut Nilai Ekspor Etanol Tumbuh Signifikan
Ia mengatakan penjagaan ikan dilakukan dengan alat monitoring FMS yang bisa dipantau lewat satelit via command center. Menurutnya, kapal yang menangkap melebihi kuota akan terdeteksi. “Selama ini kita masih sebanyak-banyaknya kapal diijinkan, sebanyak-banyaknya ikan yang ditangkap,” ucapnya.
Program yang ketiga, Menteri KKP mengatakan perlunya pihak terkait mempunyai kompetensi dalam budidaya ikan. Ia mengatakan kuncinya melalui modeling dan revitalisasi seperti tambak udang di Kebumen.
“Dengan keluarnya kebijakan seperti itu maka setiap pembuatan tambak udang memiliki standard dan kriteria.
Lalu, Kampung Ikan agar skalanya menjadi besar,” katanya.
“Program-program itu memerlukan endurance atau ketahanan untuk dilakukan terus-menerus sampai Indonesia menjadi juara. Indonesia harus bisa menjadi juara karena mempunyai potensi yang besar,” tukasnya. (jat)

