Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Lika-liku Bisnis Generasi Ketiga Blue Bird Group

Oleh: Redaksi Bernas•18 Februari 2016
Lika-liku Bisnis Generasi Ketiga Blue Bird Group
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"JAKARTA HarianBernas com Meneruskan usaha yang telah diwariskan oleh keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah Perlu ketertarikan dan pemahaman yang lebih..."

🗓️ Dipublikasikan pada 18 Februari 2016.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita inspirasi terbaru →

JAKARTA, HarianBernas.com – Meneruskan usaha yang telah diwariskan oleh keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu ketertarikan dan pemahaman yang lebih meskipun perusahaan sudah jelas menjadi milik generasi penerus. Hal yang sama dialami oleh Noni Sri Aryanti.

Wanita kelahiran tahun 1969 ini harus bekerja keras untuk membuat Blue Bird terus berkembang.

Blue Bird dibangun oleh kakek dan neneknya ketika Noni berusia 3 tahun dengan 2 armada pada awalnya. Sang ayah bekerja sebagai supir dan ibunya bekerja sebagai customer service yang menerima pesanan taksi. Kini Blue Bird yang terletak di jalan H.O.S Cokroaminoto, Jakarta ini dipegang oleh ayahnya yang merupakan penerus kedua dalam keluarganya.

Noni yang akan menjadi penerus ketiga sudah mulai ikut berkecimpung dalam bisnis ini sejak berusia 5 tahun.

Ketika itu ia bekerja mengamplopi gaji supir. Kemudian setelah lebih dewasa yaitu menginjak SMA, Noni bekerja memasukkan data-data Blue Bird ke komputer. Ia mampu mengantongi Rp 70 ribu rupiah tiap bulannya kala itu.

Lulus SMA, Noni melanjutkan pendidikannya di Universitas Trisakti dengan jurusan Tekhnik Industri.

Tak puas kuliah di dalam negeri, ia memutuskan untuk pindah ke Australia dan berkuliah di University of Newcastle dengan jurusan yang sama.

Setelah lulus kuliah ia meniti karir dengan bekerja di Jakarta Convention Centre and Exhibition Bureau. Ketika bekerja itu ia tetap bekerja di Blue Bird sehingga ia melakukan 2 pekerjaan setiap harinya.

Pengalaman yang telah mencukupi membuat Noni memutuskan untuk fokus ke Blue Bird dan keluar dari pekerjaannya.

Keputusan untuk fokus ke Blue Bird harus dipendamnya ketika ia memutuskan untuk meneruskan kuliah di University of Fransisco dengan mengambil Master Of Bussines (MBA).

Setelah lulus ia kembali ke Indonesia untuk mengurusi Blue Bird yang kala itu telah berkembang tidak hanya di bidang transportasi namun juga properti, logistik, jasa konsultasi teknologi informasi, dan industri perakitan.

Dengan semua pengalaman dan pengetahuan mengenai bisnis ia mulai memberikan inovasi untuk mengembangkan bisnisnya dan memperbaiki marketing di perusahaan. Ayahnya yang merupakan ujung tombak perusahaan sangat mendukung namun untuk meyakinkan ayahnya mengenai inovasi baru perlu usaha ekstra dan penjelasan yang detail.

Etika dalam berbisnis didapat Noni dari ayahnya. Ayahnya mengajari mengenai disiplin, kejujuran, filosofi bisnis, dan sifat pekerja keras.

Hal-hal yang diajarkan oleh ayahnya ia tularkan kepada semua karyawannya terutama supir Blue Bird.

Noni ingin Blue Bird tetap menjadi jasa transportasi yang jujur dengan selalu mengembalikan barang konsumen jika tertinggal di taksi.

Usaha Noni dalam menyiapkan dirinya untuk menjadi penerus ketiga Blue Bird Group sangat keras. Meskipun sudah tahu bisnis tersebut akan menjadi miliknya, ia tidak lantas berpangku tangan.

Ia mempelajari banyak hal dari bangku kuliah dan mencari banyak pengalaman dari dunia kerja. Semua itu ia lakukan agar ia tetap bisa menjadikan Blue Bird cemerlang bahkan semakin berkembang.

Tag:#inspirasi#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram