SLEMAN, BERNAS.ID – Pandemi COVID-19 melanda dunia, menjadikan berbagai kegiatan masyarakat dihentikan, untuk memutus rantai penyebaran virus COVID-19. Salah satunya adalah Majelis Taklim Syamila yang memutuskan untuk mengganti kegiatan kajian keagaman yang awalnya dengan tatap muka berganti dengan daring. Majelis taklim yang berdiri di Sleman pada Maret 2020 ini, fokus pada tema permasalahan sosial dan solusi penyakit masyarakat dari sisi keagamaan.
Setelah beberapa bulan kajian rutin mingguan dengan tatap muka dihentikan karena alasan social distancing, pada bulan Maret 2021 mulai dicobakan kembali dilaksanakan secara terbatas, dengan penerapan protokoler kesehatan yang terus dijaga.
?Setelah berbulan-bulan kegiatan kajian tatap muka, pada bulan Maret 2021 ini coba dilaksanakan kembali, menggabungkan tatap muka dan live dengan video.
Untuk tatap muka peserta sangat dibatasi sebagai bentuk penerapan protokoler kesehatan,?
ujar Seruni Dianing, Ketua Majelis Taklim Syamila ditemui selepas kajian di daerah Sengkan, Sleman, bertepatan 1 tahun hari jadi majelis taklim.
?Mengelola majelis taklim yang terpenting adalah bagaimana kita mengenal karakter member dan audien. Dengan mengenalinya, akan bisa menentukan langkah dan program kegiatan. Saat ini rata-rata anggota dari segmen orangtua, sehingga materi kajian disesuaikan kebutuhan,? jelas Seruni yang lahir di Bandar Lampung, namun sudah menjadi warga Sleman ini.
Lebih lanjut Seruni mengungkapkan, pentingnya kesepakatan di antara pengurus, juga menjadi kunci utama dalam mengembangkan majelis, salah satunya disepakati untuk dilarang ghibah atau membicarakan keburukan orang lain selama dalam lingkungan majelis.
Menjaga kebersamaan tetap kompak dan selaras dalam mengurus organisasi keagamaan adalah diterapkannya prinsip-prinsip ajaran agama tersebut.
Program andalan dari Majelis Syamila saat ini yang cukup tinggi antusias dari masyarakat adalah ODOJ, yaitu One Day One Juz.
Di waktu yang sama Seruni, juga berbagi tips dalam mengelola majelis taklim bahwa daya tarik majelis taklim selain dari cara membangun kebersamaan juga strategi mengembangkan tema. Pengembangan tema harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat, agar materi menjadi solusi, karena jika bukan menjadi solusi, materi kajian terasa hambar dan monoton yang berdampak daya tarik menjadi rendah.
Salah satu anggota majelis, Millyana Damayanti yang akrab dipanggil Maya mengungkapkan.
?Materi yang disajikan Majelis Taklim Syamila ini, memiliki daya tarik sendiri, disesuaikan dengan problematika yang sedang melanda masyarakat, tidak sekedar spontan mencari seadanya,? ujarnya (ipan)

