YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Semakin berkurangnya lahan yang akan dijadikan perumahan, menjadikan harga rumah di Yogyakarta menjadi tinggi atau mahal, walaupun di Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang banyak dipilih untuk berinvestasi properti.
“Di Jogja menjadi keniscayaan apabila harga rumah menjadi tinggi karena lahan semakin berkurang dan di Jogja memang adalah salah satu daerah untuk berinvestasi di property. Dan faktor utama harga rumah menjadi tinggi adalah karena mahalnya harga lahan,” ujar Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ilham Muhammad Nur, Jumat (19/2/2021) kepada bernas.id.
Harga rumah yang tinggi atau mahal tersebut menjadi salah satu ancaman juga bagi bisnis properti saat ini karena menurunnya minat pembeli sehingga mengakibatkan ketiadaan sumber pendapatan selain penjualan properti. Agar harga rumah tidak terlalu tinggi, Ilham menganjurkan supaya tipe rumah yang dibangun bisa dibuat lebih kecil.
“Supaya bisa lebih murah, nanti konsumen bisa mengambil pinjaman dengan tenor yang panjang sehingga cicilannya akan menjadi murah,” katanya.
Selain itu, ancaman dalam mengelola bisnis properti dalam masa pandemi seperti sekarang ini, sambung Ilham dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal.
“Yang internal seperti menurunnya penjualan maka yang harus dilakukan yang paling utama adalah mengefisiensikan biaya overhead.
Selanjutnya kelemahan penguasaan teknologi digit dalam proses marketing itu juga menjadi salah satu faktor,” jelasnya.
Untuk mengatasi ancaman dari sisi internal tersebut, diperlukan memangkas biaya-biaya yang tidak efisien, melakukan inovasi marketing dengan teknologi digital, serta mencari sumber pendapatan pasif income.
“Kalau dari sisi eksternalnya, kami meminta peran pemerintah untuk juga bisa memberikan stimulus dalam pembelian rumah berupa pembebasan PPn, tidak hanya untuk pembelian rumah subsidi, dan atau pembebasan biaya pembebasan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), dan penurunan suku bunga pinjaman untuk KPR, serta memberikan kemudahan perijinan, terutama untuk Pemda dan Kantor BPN,” paparnya.
Karena menurut Ilham, REI DIY tidak bisa mengatur harga standar perumahan di Yogyakarta ini. “REI DIY tidak mengatur standar harga rumah,” ungkapnya.
Terpisah, Manager PT Cahyo Griya Inti Santoso, Hugi Kahyadi Putrawan menyebutkan pihaknya menyediakan rumah dengan harga tinggi dan mahal. “Ada satu rumah di lingkungan perumahan yang sama tapi berbeda lokasi. Jadi yang bisa membedakan harga tinggi dan mahal adalah lokasinya,” katanya.
Senada dengan Ilham, harga rumah yang tinggi atau mahal dikatakan Hugi disebabkan oleh keterbatasan lahan tanah, untuk itu harus bisa memilah lahan yang akan dibangun perumahan tersebut.
“Harga rumah akan dipengaruhi juga dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang akan disediakan, selain itu memilih lahan, seperti mencari tanah yang agak menjorok kedalam daripada lahan tanah yang di pinggir jalan raya,” tambahnya.
Agar masyarakat dapat membeli rumah, menurut Hugi perlu dibantu dengan pembiayaan, baik kredit ataupun cash bertahap. “Harapannya uang muka bisa lebih kecil sehingga konsumen bisa mendapatkan rumah dengan lebih mudah,” katanya.
Ancaman bisnis properti dirasakan Hugi pada awal pandemi covid-19, namun lambat laun seiring berjalannya waktu bisnis properti sudah mulai membaik. “Kalau awal pandemi agak susah, penjualan menurun drastis hampir 70 persen, namun memasuki new normal semuanya mulai membaik,” imbuhnya.
Dia juga berharap agar pandemi covid-19 ini dapat segera berlalu, dan perekonomian kembali pulih supaya penjualan rumah bisa kembali normal seperti sediakala. (cdr)
📊 Survei Kilat BERNAS
Berapa penghasilan bulanan ideal Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.




