YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menyebut terdapat lima kemantren atau kecamatan di Jogja rawan banjir lahar hujan atau banjir lahar dingin dari Gunung Merapi. Kelima kecamatan itu adalah Tegalrejo, Gondokusuman, Danurejan, Gondomanan, dan juga Mergangsan.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat, lima kecamatan yang rawan banjir tersebut semuanya berada di bantaran sungai Code, ?Tentunya yang dilewati sungai rawan semua kriterianya banjir terutama Code kaitannya dengan lahar hujan Merapi, lewat Kali Boyong arahnya ke Code. Semua yang dilewati Code rawan banjir,? kata Nur Hidayat, Kamis (18/2/2021).
Ia meneruskan, di samping rawan banjir, kawasan bantaran Code juga rawan longsor, terutama di bagian tebing tinggi yang kontur tanahnya tidak terlalu padat.
Apalagi saat ini masih ada fenomena La Nina sehingga yang mengakibatkan curah hujan tinggi yang dimungkinkan ada banjir lahar hujan.
Guna mengantisipasi bencana banjir dan longsor tersebut, BPBD Kota Jogja sudah melakukan berbagai upaya. Salah satunya pantauan ketinggian debit air sungai di pos satu di Ngentak, Sriharjo, Sleman. ?Kalau di pos satu kedalaman air sudah 1,5 meter dari dasar sungai dan kota hujan kemungkinan di sini harus siaga, warga harus segera evakuasi dari pinggir sungai,? katanya.
Ia melanjutkan, selain pantauan ketinggian debit air sungai, BPBD Kota Jogja juga sudah memasang tujuh alat early warning system (EWS) atau peringatan dini bencana banjir. Ketika pantauan sungai dari utara sudah melebihi 1,5 meter, maka tim akan menginformasikan kepada warga melalui EWS untuk waspada dan segera mengungsi ke lokasi yang sudah disediakan.
Nur Hidayat mengaku, sejauh ini ketinggian air di Sungai Code masih aman.
Ketinggian air sungai terjadi saat hujan selama empat hari pada dua pekan lalu, namun debit air Code masih sekitar satu meter dari dasar sungai.
Terkait lokasi evakuasi, Nur Hidayat mengaku sudah terkondisikan melalui Kampung Tangguh Bencana (KTB) yang sudah terbentuk terutama di sepanjang bantaran sungai. Ia berpendapat, setiap kecamatan atau kemantren sudah memiliki forum sosialisasi KTB
?Jadi di situ kami sosialisasikan terkait ancaman banjir dan La Nina dan penanganan COVID-19 termasuk mitigasi, umpamanya ada banjir evakuasi mereka sudah punya tempat pengungsian di balai RW dan rumah masyarakat, sudah ada lokasinya di masing-masing KTB,? ujarnya yang mengaku sudah menyiapkan anggaran terkait penanganan bencana ini. (den)

