Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Kaum Milenial Pilih Bahasa Humor Sampaikan Aspirasi Politik

Oleh: Redaksi Bernas•20 Oktober 2019
Kaum Milenial Pilih Bahasa Humor Sampaikan Aspirasi Politik
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Kaum Milenial Pilih Bahasa Humor Sampaikan Aspirasi Politik..."

🗓️ Dipublikasikan pada 20 Oktober 2019.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita politik terbaru →

SLEMAN, BERNAS.ID- Dalam beberapa waktu terakhir ini, viral penggunaan bahasa humor dalam poster atau spanduk pada berbagai aksi demonstrasi mahasiswa. Misalnya, dalam aksi Gejayan Memanggil yang pertama dan kedua seperti Susah Bobo Siang Gara-gara Mikir Negara atau Kenapa Protes? Kalau DPR kerjanya bener, kami semua chill di kedai kopi.

Komika Sakdiyah Ma'ruf menanggapi bahwa humor dalam komunikasi politik bukanlah suatu hal yang baru karena awalnya humor banyak dipakai kaum marjinal sebagai alat berbicara. ?Rakyat kecil dan kelompok minoritas menggunakan olok-olok untuk refleksi diri sendiri sekaligus merefleksikan kondisi bangsa,?tuturnya Sakdiyah saat menjadi pembicara utama dalam seminar bulanan “Melawan Dengan Gembira: Humor Dalam Komunikasi Politik Kebangsaan” di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Senin 21 Oktober 2019.

Saat ini bahasa humor, menurut Sakdiyah, kembali banyak bermunculan dalam aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi milenial.

Para kaum milenial berusaha menyampaikan aspirasi politik mereka melalui  cara baru yakni dengan poster ataupun spanduk demo yang dikemas dalam gaya humor.

Sakdiyah menyebutkan setidaknya ada empat gaya yang sering digunakan dalam aksi demo mahasiswa. Salah satunya yang langsung berfokus pada isu yang tengah berkembang di masyarakat. Misalnya saja pada demo mahasiswa di Gedung DPR/MPR yang menolakRKUHP dan UU KPK.

Contoh poster dengan gaya ini adalah ?DPR Udah Paling Bener Tidur; Malah Disuruh Kerja?.

Berikutnya, menggunakan referensi budaya pop.Salah satu contohnya penggunaan kata-kata ?Drama Korea Tidak Seasik Drama DPR?. Referensi kehidupan pribadi juga kerap menjadi bahan dalam penyampaian aspirasi demonstarsi mahasiswa. Seperti dalam poster bertuliskan, “Cukup Cintaku Yang kandas, KPK Jangan”.

?Terakhir dengan penggunaan bahasa secara acak seperti poster bertuliskan ?Aku Bingung Ameh Nulis Opo,?jelasnya.

Sakdiyah menyebutkan bahwa saat ini sebenarnya terjadi krisis selera humor di masyarakat tanah air, terutama saat kampanye pemilu 2019 .

Menurutnya, tradisi humor politik menemui puncak kejayaan di saat era pemerintahan presiden Gus Dur.?Terobosan sangat diperlukan dan hanya bisa muncul dari keterbukaan dan kenegarawanan para politisi dan pemimpin bangsa,?

katanya.

Karenanya dia berharap komedian-komedian Tanah Air bisa lebih berani menyampaikan aspirasi melalui guyonannya. Dia berharap dalam 5 tahun mendatang satir bisa memimpin sebagai kontrol. ?Kalau media jadi pilar ke-4 demokrasi, maka satir harapanya bisa menjadi pilar ke-5 demokrasi,? ucapnya. (jat)

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram