Bernas.id ? Ketika remaja bersekolah di sekolah berasrama, banyak penyesuaian yang perlu dilakukannya. Guru dan pembina asrama wajib memahami aspek-aspek perkembangan remaja.
Perkembangan sosial dan pribadi remaja perlu mendapat perhatian yang paling besar dari guru dan pembina asrama.
Transisi yang terjadi akan berpengaruh paling besar pada dua aspek ini dibanding aspek perkembangan yang lain.
Kegagalan adaptasi dan interaksi remaja dengan teman sebaya yang baru dan guru atau pembina asrama dapat berpengaruh pada capaian prestasi akademik di sekolah. Tak hanya itu, keterkejutan budaya dan kegagalan adaptasi akan membuat emosi remaja menjadi tidak stabil.
Marah atau kata kasar adalah indikasi termudah untuk melihat adanya ketidakstabilan emosi yang ditimbulkan oleh kegagalan adaptasi.
Oleh karena itu, asrama dan sekolah sebagai rumah kedua bagi remaja harus kondusif agar dapat memberikan lingkungan untuk perkembangan yang optimal. Gesekan dan keterkejutan budaya yang tidak dipahami dengan baik akan berimbas pada perkembangan yang lain.
Rasa tidak nyaman akan timbul ketika remaja merasa tidak kerasan di asrama. Belum lagi rasa sedih karena terpisah dari keluarga akan menambah beban pikirannya.
Jika guru, pembina asrama dan orang tua serta keluarga tidak memahami tumpang tindihnya perasaan dan pikiran dalam diri remaja, yang akan terjadi adalah pemberontakan terselubung.
Pemberontakan mungkin dilakukan dengan cara menghindar dari jadwal belajar di asrama, melakukan pelanggaran seperti merokok, kabur dari asrama dan main di luar asrama.
Label nakal sering disematkan oleh orang dewasa ketika melihat perilaku yang menyimpang dari remaja.
Belum lagi pemberontakan dalam bidang akademik.
Remaja sering memperlihatkan perilaku malas belajar sebagai bentuk pemberontakan di sekolah.
Transisi dari SD ke SMP, ditambah dengan sulitnya materi menjadi alasan remaja untuk merasa kesulitan memahami materi pelajaran.
Semakin tidak nyaman dengan perlakuan orang sekitar di asrama dan sekolah, pemberontakan remaja akan semakin besar.
Ketika terjadi penolakan terhadap pemberontakan yang dilakukan remaja, beberapa dari mereka akan melakukan self-destructive. Contoh paling mudah yang dapat dilihat dari self-destructive adalah merokok, konsumsi alkohol, menato diri dan konsumsi obat terlarang.
Jika permasalahan remaja ini terus dibiarkan, bukan hanya perkembangan remaja yang terhambat.
Yang akan terjadi selanjutnya adalah semakin besarnya pemberontakan dan self-destructive yang dilakukan remaja.
Jika masalah bertahan hingga dewasa, maka ia akan menjadi individu yang sulit memiliki komitmen pada banyak hal yang ia jalani.
Aspek pribadi seperti emosi adalah hal utama yang perlu dipahami.
Untuk mengubah ekspresi negatif yang terlanjur ditunjukkan oleh remaja guru perlu mengubah perlakuan dan persepsi. Agar remaja merasa bahwa mereka diterima.
Aspek kedua yang perlu diubah terlebih dulu adalah memahami dan membantu adaptasi dan interaksi sosial remaja dengan teman sebayanya.
Memperbaiki kedua aspek tersebut sebagai awal dari perbaikan dan pengembangan remaja pada aspek yang lain.
Setelah kedua apek di atas mampu ditangani hingga tuntas, selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memotivasi remaja untuk belajar dan mengembangkan potensi akademisnya. Pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh guru, pembina asrama dan orang tua serta keluarga agar remaja mencapai perkembangan yang optimal menuju tahapan usia berikutnya.

