Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Saat Kerukunan di Jogja Terusik, Waspada Adu Domba Intoleransi!

Oleh: Redaksi Bernas•10 Februari 2018
Saat Kerukunan di Jogja Terusik, Waspada Adu Domba Intoleransi!
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Bernas id Minggu 11 2 pagi yang semestinya bisa dinikmati dengan santai oleh warga Yogyakarta menjadi geger dengan adanya peristiwa penyerangan terhadaumat..."

🗓️ Dipublikasikan pada 10 Februari 2018.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita nasional terbaru →

Bernas.id – Minggu (11/2) pagi yang semestinya bisa dinikmati dengan santai oleh warga Yogyakarta menjadi geger dengan adanya peristiwa penyerangan terhadap umat kristiani yang sedang beribadah di Gereja Santo Lidwina, Bedog, Sleman. Pelaku yang mendalangi penyerangan tersebut, saat ini telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan di kepolisian. Dalam aksinya, pelaku membawa pedang dan melukai orang-orang dan merusak benda-benda yang ada di dalam gereja.

Pelaku berhasil diamankan setelah tertembak oleh petugas kepolisian yang mengamankan gereja.

Memang motif dari penyerangan tersebut masih dalam penyidikan. Pihak kepolisian pun masih menggali segala informasi untuk mengungkap identitas pelaku dan alasan mengapa pelaku melakukan hal tersebut. Namun, siapapun pelaku, apapun motifnya, berasal dari latar belakang suku, agama, ras, dan golongan manapun, pelaku telah menunjukkan satu kecenderungan intoleransi yang tinggi.

Kecenderungan intoleransi biasanya ditunjukkan dengan rasa kebencian terhadap siapapun yang berbeda dengan dirinya.

Dalam hal ini, tidak hanya dari agama yang berbeda, namun dengan siapapun yang memiliki fisik, ras, dan pemikiran yang berbeda.

Manusia dengan kecenderungan intoleransi seringnya tumbuh dari lingkungan yang tidak pernah mengenalkan perbedaan.

Lingkungan dari masa kecil hingga dewasa hanya dikisaran orang yang sepaham dengannya, baik di rumah maupun di sekolah.

Seperti tinggal di kampung yang beragama sama, atau mengejar pendidikan di sekolah berbasis agama yang sama. Sehingga, dengan mudahnya diadu domba untuk membenci golongan lain yang tidak sepaham dengannya.

Tidak hanya di Yogyakarta, pastinya setiap wilayah di Indonesia dihuni oleh warga yang berasal dari berbagai suku, ras, dan agama dan mereka bisa hidup dengan rukun berdampingan satu sama lain. Penyerangan di wilayah Yogyakarta yang selama ini terkenal dengan kerukunan dan menjunjung tinggi budaya ketimuran, mengindikasikan ada pihak-pihak yang ingin mengadu domba warga dan memberikan wajah buruk pada Indonesia.

Seakan Indonesia yang dulu terkenal dengan rasa gotong-royong dan toleransi umat beragama sudah tidak ada lagi.

Di saat pihak kepolisian menelusuri dan menyidik pelaku penyerangan, mari telusuri dan kulik hati masing-masing. Masih adakah ruang toleransi dalam hati untuk mereka yang berbeda? Bisakah menerima mereka yang berbeda untuk hidup bersama dan berdampingan, tanpa satu sama lain saling menyakiti raga dan perasaan?

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram