Bernas.id – Perlu diketahui, belajar tidak hanya dari buku atau literatur. Karena penulis buku atau literatur pun, pasti membaca kehidupan ini dari semua indera yang mereka rasakan. Ada mata, mereka gunakan untuk melihat alam dan mempelajari manfaatnya.
Ada telinga, mereka dengarkan suara dan mempelajari asal suara. Ada hidung, digunakan untuk membau aroma dan merasakan sensasinya. Ada kulit, digunakan untuk merasakan keadaan sekitarnya.
Kita seringkali melihat semut, binatang yang begitu kecil.
Mereka berbaris membentuk untaian panjang. Nah, kehidupan semut itu ternyata unik karena Anda pasti melihat semut seperti ini:
Mengajarkan Sesuatu
Jangan salah, semut juga berperan sebagai guru, lo! Semut, terutama induk, akan mengajarkan cara mencari makan dan bergotong royong yang disebut “tandem running“.
Jangan salah jika kebanyakan semut itu pintar, ya karena didikan induknya serta naluriah alami semut, mereka jadi pintar.
Memberi jebakan
Kalau dilihat lebih detil, korban pengganggu semut tak terbilang jumlahnya. Di batang pohon dan dedaunan, ada serangga jenis lain yang terjebak di jebakan semut. Wah!
Luar biasa.
Salah satu contohnya, semut jenis Allomerus decemarticulatus. Semut ini tak segan-segan memberi jebakan pada korban yang berukuran lebih besar dari tubuh mereka. Kuat, ya?
Pintar matematika
Peneliti yang sibuk dengan dunia semut, Fermat namanya, mengatakan adanya gelombang yang merambat, lalu diketahui semut. Ya, gelombang itu diketahui semut yang pintar.
Jika suatu gelombang merambat dari satu titik ke titik yang lain, maka gelombang tersebut akan memilih jejak tercepat.
Budidaya fungi
Jangan salah, semut bisa bekerja sebagai petani yang memenuhi kebutuhan hidup jamur mulai air, pupuk alami, pestisida, sebelum tiba masa panen. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya penelitian pada tahun 1970 yang mengungkapkan fakta bahwa semut melakukan budidaya fungi di tempat khusus.
Mampu Melakukan Perang
Sebagaimana manusia, hewan seperti semut pun bisa bertarung dengan lawannya. Semut biasa adu satu lawan satu antara koloni satu dengan lainnya.
Koloni yang kalah harus rela diperbudak oleh koloni yang menang.

