Bernas.id ? Udang lobster memang diselubungi oleh kulit yang keras. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat hewan bercapit tersebut kebal dari rasa sakit. Setidaknya itulah pandangan yang dianut oleh pemerintah Swiss saat mengumumkan peraturan terbarunya.
CNN mengabarkan kalau mulai Maret 2018, lobster yang ada di Swiss tidak boleh dibunuh dengan cara direbus hidup-hidup.
Larangan tersebut dibuat atas pertimbangan kalau lobster merupakan hewan yang dipenuhi oleh sistem saraf dan bisa merasakan sakit. Lobster yang hendak dimasak lantas dianjurkan untuk dibuat pingsan terlebih dahulu.
Peraturan baru ini bukan hanya mengatur cara membunuh lobster. Hewan-hewan air yang mencakup lobster tidak boleh lagi dipindahkan dalam balok es atau air es.
Sebagai gantinya, hewan-hewan tadi harus dipindahkan dengan kondisi yang dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya.
Keputusan pemerintah Swiss tersebut disambut hangat oleh Robert Elwood. Pakar lingkungan dari Queen University di Irlandia Utara tersebut menjelaskan kalau lobster adalah hewan yang peka dengan kondisi sekitarnya dan bisa merasakan sakit ketika direndam dalam air mendidih.
Elwood juga menjelaskan kalau dirinya sudah melakukan penelitian untuk membuktikan kalau Crusacea ? kelompok hewan beruas-ruas yang mencakup lobster ? memang bisa memberikan tanggapan ketika disakiti. Sebagai contoh, jika seekor kelomang menerima sengatan listrik, kelomang tersebut akan segera meninggalkan cangkangnya dan melarikan diri.
Elwood kemudian memberikan metode alternatif untuk membunuh lobster secepat mungkin tanpa harus membuatnya pingsan atau merebusnya hidup-hidup.
Cara yang dimaksud adalah dengan menusuk kepala lobster memakai pisau besar dan kemudian membelahnya hingga ke bagian tengah.
?Cara itu harusnya bisa membunuh lobster dengan amat cepat dan efektif, dan mungkin juga merupakan cara yang paling menusiawi,? kata Elwood.

