Bernas.id – Mengajar tidak mudah bagi sebagian orang. Pun begitu pemikiran Ibu Vivi Wirni, S.Si, yang selalu berjuang tanpa menyerah ketika mengajar di salah satu SMA di Siberut Utara, Sumatera Barat. Apalagi, fasilitas dan tenaga kerja di SMA tersebut tidaklah banyak.
Berikut usaha yang dilakukan oleh Ibu Vivi agar muridnya terus merasa mudah dalam belajar.
1. Metode WTNLW;
Seperti pejuang-pejuang, Ibu Vivi pun punya quote tersendiri untuk membangkitkannya ketika rapuh. Ia berprinsip “What They Need Lets Work“, yang artinya “Jika murid-murid membutuhkan sesuatu, maka kita harus bekerja melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan kreatif.
Beliau tidak mau jika murid-muridnya hanya menerima pengajaran yang sia-sia darinya.
2. Kreatif;
Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa murid harus bekerja sendiri dengan kreatif jika ingin mendapat sesuatu. Kreatif berarti menciptakan sesuatu yang baru atau memperbarui sesuatu yang lama agar menjadi lebih baik.
Bu Vivi pun menyuruh sendiri siswanya untuk membuat kertas lakmus sendiri. Kertas itu dibuat sendiri dan digunakan sendiri ketika melakukan praktikum kimia.
Digunakan untuk menguji pH suatu larutan, maka kertas lakmus yang terbuat dari bunga sepatu ini tidak kalah bagus kualitasnya dibandingkan kertas lakmus biasa.
3.
Belajar Menyenangkan.
Era zaman sekarang bukan memakai metode lama, seperti marah-marah ketika tidak ada yang mendengarkan, guru sebagai raja yang maunya didengar, dan sebagainya. Selain memiliki mental pekerja keras, siswa dididik dengan menyenangkan. Hampir semua kegiatannya adalah praktek, praktek, dan praktek.
Dia menjelaskan sesuatu, praktek, lalu mengambil hikmah dari praktikum itu. Belajar seperti itu menurut beberapa siswa adalah belajar yang aktif, partisipatif, dan menyenangkan.
Pastinya, menjadi guru yang mengikuti perkembangan zaman tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ibu Vivi menjadi bukti kalau mengajar itu tidaklah susah.
Hal itu juga dibuktikan dari prestasinya dalam ajang Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2016.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu memberi kesempatan padanya untuk meraih juara satu.

