Bernas.id – Membicarakan tentang sosok guru tak akan pernah ada habisnya. Apapun, yang dilakukan guru akan tetap menarik perhatian orang. Terlepas apa yang dilakukan guru itu benar atau salah.
Terlebih lagi kalau seorang guru melakukan hal-hal yang diluar kewajaran pastilah akan menjadi heboh dan viral.
Dalam pepatah orang Jawa dikatakan bahwa kata guru mengandung makna ?digugu? dan ?ditiru?.
Digugu artinya bahwa setiap tutur kata dan perbuatan guru sekecil apa pun selalu dipatuhi dan ditaati.
Ditiru maksudnya apa yang dilakukan guru akan dicontoh orang lain.
Inilah pentingnya seorang guru agar selalu melakukan hal-hal yang baik, sopan agar ditiru oleh murid-muridnya.
Termasuk dalam hal berkomunikasi.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tugas utama seorang guru mengajar, mendidik, dan melatih. Ketiga hal tersebut dilakukan dengan berkomunikasi. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam berkomunikasi.
Agar komunikasi dalam proses pembelajaran itu efektif dan berkualitas, hindari hal-hal berikut ini!:
Pertama, Suara Pelan dan Tidak Jelas. Ketika seorang guru mengajar dengan suara lirih dan tidak jelas, dipastikan akan mengganggu proses belajar mengajar. Suara tidak mampu menjangkau seluruh kelas, dimungkinkan anak-anak akan beralih pada hal-hal lain diluar pelajaran.
Kedua, Kata-Kata Membingungkan. Penggunaan istilah-istilah yang masih asing di telinga murid dan tanpa penjelasan menjadikan komunikasi tidak efektif.
Walaupun barangkali ada sebagian murid yang mengetahui maksud istilah tersebut, namun sebaiknya guru menjelaskan maknanya.
Ketiga, Banyak Kata Mubazir. Sebagai guru harus pandai-pandai memilih kata yang pas, efektif dan bermanfaat. Guru wajib memiliki ketrampilan dalam memilih kata-kata ringkas, jelas, padat, dan tepat agar mudah dipahami para muridnya.
Keempat, Komunikasi Hanya Satu Arah. Dalam proses pembelajaran masih sering terjadi guru yang menempatkan dirinya paling tahu. Dalam hal ini hanya gurulah yang aktif, sementara murid dibiarkan pasif.
Kondisi semacam ini akan sangat membosankan murid. Padahal seharusnya guru hanya menggunakan 10% waktunya untuk berceramah, sementara yang 90% untuk aktifitas murid.
Dengan begitu murid memiliki semangat untuk mengikuti proses pembelajaran.
Kelima, Tak Ada Kecocokan Antara Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Apabila komunikasinya tidak cocok, maka proses pembelajaran menjadi kurang bermakna.
Oleh karena itu, guru dituntut harus mampu memadukan keduanya. Komunikasi nonverbal ternyata mampu menunjang komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal lebih efektif dibanding komunikasi verbal.
Keenam, Pengertian yang Kurang Pas. Sesuatu yang dianggap baru oleh murid seharusnya diberi pengertian yang tepat. Penggunaan istilah harus disesuaikan dengan topik pembicaraannya agar tidak salah pengertian.
Ada baiknya guru bertanya kepada murid untuk mengetahui apakah murid dapat menangkap pesan yang disampaikan atau tidak.
Ketujuh, Pemberian Label Negatif. Sering terjadi adanya pemberian cap negatif kepada muridnya. Tanpa disadari guru sering mengucapkan kata-kata negatif karena suatu hal. Dampaknya akan berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan muridnya, menimbulkan berbagai hal yang kurang baik.
Misal anak akan memberontak dan membenci guru, menjadi murid penakut, pemalu, pasrah dan tak berani memberikan pembelaan sama sekali. Ini contoh nyata komunikasi yang tidak efektif.
Paparan di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi tidak efektif yang dilakukan guru akan sangat berpengaruh terhadap prestasi murid maupun kualitas proses pembelajaran. Oleh karena itu guru harus pandai-pandai membangun komunikasi yang efektif dalam kegiatan pembelajaran.

